Jalan yang
buntu, mimpi yang kosong, lamunan yang panjang, aku terbiasa olehnya. Berbagai
macam rasa telah kucoba di umurku yang 16 ini. Aku tahu aku agak gila dari
luar, mereka menertawakan ku karena ini tapi siapa yang tahu roda kita sedang
ada berada dimana?
Seseorang datang dan seseorang pergi. Seperti membolak-balikkan halaman dengan cerita yang sama. Kupikir pria dingin itu akan terus menetap di hatiku tapi siapa yang bisa menduga? Cinta datang bahkan dengan cara yang sangat sederhana dan sesampainya pada jalur itu, pria lain di kehidupan kita sebelumnya menjadi tak berguna. Perasaan hanya seperti permainan Tuhan dengan level yang berbeda.
Daripada memantapkan hati, aku lebih suka menerka-nerka. Seperti permainan catur yang membutuhkan waktu lama untuk mengambil langkah. Kemarin aku masih berpikir benarkah aku menyukainya tapi hari ini entah kenapa aku sangat merindukannya disaat aku tak boleh melakukannya. Dia adalah calon kekasih untuk temanku, bahkan dari awal aku tak pernah mengira akan ada alur seperti ini. Aku bahkan membantunya untuk mendekati pria itu, memberikan saran yang tepat, dan terus mengira tentang peluang yang bisa gadis itu dapatkan.
Setiap hari aku terus tenggelam dalam impian yang tak kunjung nyata. Aku hanya tidak mengerti bagaimana Tuhan mengubah perasaan seseorang hanya dalam hitungan menit. Sebelum dia, ada seseorang yang sangat kuingin dirinya menjadi milikku. Dia juga disukai oleh temanku yang lain. Entah bagaimana ini bisa terjadi, kenapa di tahun ini, pria yang kusukai juga disukai oleh temanku? Matanya membuatku meleleh, rahangnya membuatku bergidik, rambutnya terus menggoda angin untuk terbawa bersamanya. Si pria tembok yang selalu membuatku ingin tenggelam dalam matanya.
Aku hanya tidak mengerti bagaimana bisa hatiku selemah itu. Menyukai seseorang bahkan hanya dengan hitungan bulan. Perasaan ku telah berubah, tapi terkadang aku sangat merasa dilema diantara dua pilihan. Pria berjaket biru itu, kenapa aku terus merindukannya? Kenapa aku terus memimpikan hal gila bersamanya? Bahkan saat pria tembok itu datang dan tatapan kami bertemu, kenapa dia tidak bisa hilang dari ingatanku?
Mungkin butuh beberapa langkah lagi untuk bisa bersama dengan pria tembok itu. Tapi bukannya berjalan maju, aku malah berbalik dan melihat pria berjaket biru itu yang kehadirannya selalu kunantikan. Ada banyak konflik di dalam diriku, dan hanya dia yang bisa menenangkannya. Aku hanya terus menerka-nerka bagaimana ini akan berlanjut. Tapi satu yang pasti, dimana aku memilih disitu juga pilihan temanku.
Seseorang datang dan seseorang pergi. Seperti membolak-balikkan halaman dengan cerita yang sama. Kupikir pria dingin itu akan terus menetap di hatiku tapi siapa yang bisa menduga? Cinta datang bahkan dengan cara yang sangat sederhana dan sesampainya pada jalur itu, pria lain di kehidupan kita sebelumnya menjadi tak berguna. Perasaan hanya seperti permainan Tuhan dengan level yang berbeda.
Daripada memantapkan hati, aku lebih suka menerka-nerka. Seperti permainan catur yang membutuhkan waktu lama untuk mengambil langkah. Kemarin aku masih berpikir benarkah aku menyukainya tapi hari ini entah kenapa aku sangat merindukannya disaat aku tak boleh melakukannya. Dia adalah calon kekasih untuk temanku, bahkan dari awal aku tak pernah mengira akan ada alur seperti ini. Aku bahkan membantunya untuk mendekati pria itu, memberikan saran yang tepat, dan terus mengira tentang peluang yang bisa gadis itu dapatkan.
Setiap hari aku terus tenggelam dalam impian yang tak kunjung nyata. Aku hanya tidak mengerti bagaimana Tuhan mengubah perasaan seseorang hanya dalam hitungan menit. Sebelum dia, ada seseorang yang sangat kuingin dirinya menjadi milikku. Dia juga disukai oleh temanku yang lain. Entah bagaimana ini bisa terjadi, kenapa di tahun ini, pria yang kusukai juga disukai oleh temanku? Matanya membuatku meleleh, rahangnya membuatku bergidik, rambutnya terus menggoda angin untuk terbawa bersamanya. Si pria tembok yang selalu membuatku ingin tenggelam dalam matanya.
Aku hanya tidak mengerti bagaimana bisa hatiku selemah itu. Menyukai seseorang bahkan hanya dengan hitungan bulan. Perasaan ku telah berubah, tapi terkadang aku sangat merasa dilema diantara dua pilihan. Pria berjaket biru itu, kenapa aku terus merindukannya? Kenapa aku terus memimpikan hal gila bersamanya? Bahkan saat pria tembok itu datang dan tatapan kami bertemu, kenapa dia tidak bisa hilang dari ingatanku?
Mungkin butuh beberapa langkah lagi untuk bisa bersama dengan pria tembok itu. Tapi bukannya berjalan maju, aku malah berbalik dan melihat pria berjaket biru itu yang kehadirannya selalu kunantikan. Ada banyak konflik di dalam diriku, dan hanya dia yang bisa menenangkannya. Aku hanya terus menerka-nerka bagaimana ini akan berlanjut. Tapi satu yang pasti, dimana aku memilih disitu juga pilihan temanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar