Terombang-ambing,
kita tak miliki satupun tujuan. Terasa menyesakkan di umur kita yang 16. Masih
belum bisa untuk kita mengerti apa arti hidup. Cinta yang mereka bangga-banggakan
mungkin cukuplah manis tapi kita tahu sejak awal bukan itu yang kita inginkan.
Aku terlalu trauma untuk mengenal kembali apa itu cinta. Mungkin ini memang berlebihan tapi kupikir bukan sekarang waktunya untuk itu. Ada hal-hal yang lebih menakbjubkan daripada cinta yang selalu mereka salah artikan. Berbicara tentang masa depan mungkin itu mengerikan tapi aku melakukannya dengan perasaan yang lebih gila.
Aku hanyalah seorang pemimpi yang ingin mulai mengejar mimpi. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, mungkin itulah satu-satunya alasan mengapa kau sangat dingin. Kau seakan tak peduli terhadap apapun yang ada di sekitarmu bahkan tertawapun sangatlah jarang. Untuk lelucon yang sangat menggemaskan, kenapa kau malah diam? Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di matamu. Mungkin kau sedang ragu terhadap impianmu.
Tapi daripada kau, aku jauh lebih ragu. Aku adalah pengkhayal yang sangat handal. Di setiap malam sebelum aku terlelap dalam tidurku, aku memikirkan andai saja suatu hari nanti ada pangeran yang sangat tampan, pintar, dan kaya mau mempersuntingku dengan segala kekuranganku. Atau setidaknya aku akan bertemu dengan orang-orang yang mau mendukung impianku, menjadi musisi, sutradara, penulis, penyanyi, psikolog, pengacara, penyidik atau mungkin lebih dari itu.
Aku cukup pandai merangkai kata-kata, aku menulis setiap hari dan tak pernah meninggalkan rutinitas ini. Aku selalu memaksa diriku untuk menceritakan kejadian dalam hari-hari yang panjang ke dalam puisi yang tak berbentuk. Aku sedang belajar membuat cerita, cerita pertama adalah tentang diriku sendiri tapi aku cukup sulit membuat dialog dan basa-basi yang aku sendiri tak suka dengan hal seperti itu. Menggambarkan tempat sekeliling, perasaan, dan pikiran yang ada dalam sebuah cerita itu sangat membuang waktu.
Mereka bilang suaraku bagus tapi ibuku tak pernah menyukainya. Dia bilang suaraku sangatlah berisik dan nadanya benar-benar salah. Dia tidak suka suara serakku karena dia lebih suka dengan suara klasik. Aku sedang menekunkan diriku dalam membuat lagu. Ada tiga lagu yang sudah kubuat. Satu lagu dengan rekaman yang terpecah-pecah dan saat ini masih kucoba untuk memperbaikinya dan menjadikannya satu kesatuan.
Aku suka untuk menjadi psikolog karena sejak di sekolah dasar, aku sudah mulai tertekan. Mereka menghinaku, merendahkan kemampuanku, menuduhku, dan tak menganggapku. Aku ingin menyembuhkan diriku dan orang lain yang sama sepertiku tapi ibuku tidak pernah menyukainya. Dia bilang aku akan semakin gila dengan pasien-pasien yang datang padaku. Mungkin dia benar, atau mungkin juga tidak.
Aku suka dengan hukum meski aku tak bisa menghapal pasal. Aku senang melihat sejarah dan seorang pemimpin yang mengadili orang lain dengan segala taktiknya untuk melihat kebenaran. Menjadi penyidik mungkin itu akan lebih baik karena aku suka memburu informasi dengan cepat.
Entahlah. Mungkin aku bisa menggapai segalanya tapi aku ragu. Aku takut waktu akan segera berlalu dan aku tak mendapatkan apapun di hari tuaku. Aku takut menyesal tapi yang kulakukan sekarang hanyalah bermalas-malasan. Mereka bilang aku cukup pandai meski tak belajar tapi menjadi pandai saja itu tidaklah cukup. Aku tidak tahu harus berjalan kemana dan mengubah apa saja yang bisa kuubah. Aku terlalu malas dan hanya bermimpi setiap hari. Tak pernah menyadari bahwa kenyataan itu lebih pahit dan lebih kejam. Tuhan, tuntun aku ke jalan dimana aku akan menjadi sukses pada akhirnya!
Aku terlalu trauma untuk mengenal kembali apa itu cinta. Mungkin ini memang berlebihan tapi kupikir bukan sekarang waktunya untuk itu. Ada hal-hal yang lebih menakbjubkan daripada cinta yang selalu mereka salah artikan. Berbicara tentang masa depan mungkin itu mengerikan tapi aku melakukannya dengan perasaan yang lebih gila.
Aku hanyalah seorang pemimpi yang ingin mulai mengejar mimpi. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, mungkin itulah satu-satunya alasan mengapa kau sangat dingin. Kau seakan tak peduli terhadap apapun yang ada di sekitarmu bahkan tertawapun sangatlah jarang. Untuk lelucon yang sangat menggemaskan, kenapa kau malah diam? Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di matamu. Mungkin kau sedang ragu terhadap impianmu.
Tapi daripada kau, aku jauh lebih ragu. Aku adalah pengkhayal yang sangat handal. Di setiap malam sebelum aku terlelap dalam tidurku, aku memikirkan andai saja suatu hari nanti ada pangeran yang sangat tampan, pintar, dan kaya mau mempersuntingku dengan segala kekuranganku. Atau setidaknya aku akan bertemu dengan orang-orang yang mau mendukung impianku, menjadi musisi, sutradara, penulis, penyanyi, psikolog, pengacara, penyidik atau mungkin lebih dari itu.
Aku cukup pandai merangkai kata-kata, aku menulis setiap hari dan tak pernah meninggalkan rutinitas ini. Aku selalu memaksa diriku untuk menceritakan kejadian dalam hari-hari yang panjang ke dalam puisi yang tak berbentuk. Aku sedang belajar membuat cerita, cerita pertama adalah tentang diriku sendiri tapi aku cukup sulit membuat dialog dan basa-basi yang aku sendiri tak suka dengan hal seperti itu. Menggambarkan tempat sekeliling, perasaan, dan pikiran yang ada dalam sebuah cerita itu sangat membuang waktu.
Mereka bilang suaraku bagus tapi ibuku tak pernah menyukainya. Dia bilang suaraku sangatlah berisik dan nadanya benar-benar salah. Dia tidak suka suara serakku karena dia lebih suka dengan suara klasik. Aku sedang menekunkan diriku dalam membuat lagu. Ada tiga lagu yang sudah kubuat. Satu lagu dengan rekaman yang terpecah-pecah dan saat ini masih kucoba untuk memperbaikinya dan menjadikannya satu kesatuan.
Aku suka untuk menjadi psikolog karena sejak di sekolah dasar, aku sudah mulai tertekan. Mereka menghinaku, merendahkan kemampuanku, menuduhku, dan tak menganggapku. Aku ingin menyembuhkan diriku dan orang lain yang sama sepertiku tapi ibuku tidak pernah menyukainya. Dia bilang aku akan semakin gila dengan pasien-pasien yang datang padaku. Mungkin dia benar, atau mungkin juga tidak.
Aku suka dengan hukum meski aku tak bisa menghapal pasal. Aku senang melihat sejarah dan seorang pemimpin yang mengadili orang lain dengan segala taktiknya untuk melihat kebenaran. Menjadi penyidik mungkin itu akan lebih baik karena aku suka memburu informasi dengan cepat.
Entahlah. Mungkin aku bisa menggapai segalanya tapi aku ragu. Aku takut waktu akan segera berlalu dan aku tak mendapatkan apapun di hari tuaku. Aku takut menyesal tapi yang kulakukan sekarang hanyalah bermalas-malasan. Mereka bilang aku cukup pandai meski tak belajar tapi menjadi pandai saja itu tidaklah cukup. Aku tidak tahu harus berjalan kemana dan mengubah apa saja yang bisa kuubah. Aku terlalu malas dan hanya bermimpi setiap hari. Tak pernah menyadari bahwa kenyataan itu lebih pahit dan lebih kejam. Tuhan, tuntun aku ke jalan dimana aku akan menjadi sukses pada akhirnya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar