Rabu, 10 Juni 2015

Dia Hanya Menjadi Dirinya


Rasanya sulit untuk bernapas. Baru kusadari aku telah menyakiti banyak orang. Dan lebih dari itu, aku mulai menyakiti diriku dengan asumsi gila tentang kebencian. Seseorang yang kubenci malah menolongku, menawarkan bantuan, dan membuatku menaiki tangga selangkah lebih maju dari yang lainnya. Ini seperti pertengkaran antara otakku dan hatiku, dan aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya.

Dia memang suka menghina dan parahnya dia melakukan itu pada seorang temanku. Dulu yang selalu kupikirkan adalah dia itu sesosok monster yang sedang mengejar anak kecil, kupikir dia harusnya tewas segera. Aku membencinya bahkan aku bersumpah akan terus menghindar darinya. Tapi apa ini? Sudah tiga kali bukti itu menguak ke permukaan, atau mungkin lebih dari itu tapi aku tidak tahu.

Pria itu menghina teman sebangkuku, tapi dia tak pernah sedikitpun menghinaku. Kupikir akan menyenangkan jika dia menjadi preman yang mengolok-ngolok orang lain karena fisiknya. Kupikir aku akan menjadi sasaran yang selanjutnya jika mengingat dulu aku pernah menjadi sama dengan gadis itu. Aku pernah merasakan yang lebih dari itu. Tidak hanya fisik yang dulu pernah mereka rendahkan tapi juga statusku, kepintaranku, dan semua yang mereka lihat dariku adalah sesuatu yang sangat menjijikkan

Di ulangan akhir semester, pria itu malah menawarkan bantuan untukku. Itu adalah suatu kejadian yang sangat dramatis. Yang kutahu aku tak belajar sebelumnya karena bukuku hilang entah kemana. Sungguh dia tidak tahu tentang ini, tapi saat itu, dia yang sangat meragukan malah memberi kunci jawabannya kepadaku dan memang hasilnya mencengangkan. Dulu kupikir sangat mustahil jika dia belajar lalu mendapatkan nilai yang baik. Kupikir dia hanya pria yang tidak tangguh dan terkesan lemah. Aku tidak suka caranya berjalan, seperti angsa kurus yang mencoba membusungkan dada. Aku tidak suka cara tawanya, seperti penuh dengan virus yang bisa menyakiti orang lain.

Hari ini temanku itu tidak ada dan aku merasa sangat kesepian tapi tiba-tiba, dia memanggilku "Blank Space" dan menirukan gaya Taylor Swift dengan lipsync yang ada di mulutnya. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Entah sudah berapa lama aku tidak membuat lelucon bersama seorang teman pria. Aku memang tidak merasa dia temanku, dan mungkin juga dia begitu, atau mungkin juga tidak. Akhirnya seseorang sepertinya bisa menghibur ku, dan pada akhirnya juga aku tidak berprasangka buruk terhadapnya.

  Ucapannya sungguh menusuk, tapi hari aku mulai sadar bahwa aku juga begitu. Bahkan kadang mereka membenciku karena ucapakanku yang terlewat batas. Dia menghina orang lain, tapi kurasa aku juga melakukannya. Mereka bilang hinaan sangatlah parah. Hari ini aku benar-benar berkaca pada diriku. Dan aku tidak ingin bersikap munafik seakan aku tidak pernah melakukan hal rendah yang sama sepertinya.

Mungkin jika aku lebih memahami keadaan, aku tidak akan terbawa perasaan saat dia berbicara padaku. Harusnya aku tidak berpikir bahwa dialah yang mengakhiri kebahagiaan sahabatku, tapi seharusnya yang kupikirkan adalah dia hanya menjadi dirinya yang hanya ingin tertawa meski tanpa dia tahu dengan benar bahwa dia telah menyakiti banyak orang. Kurasa memang benar jika sikapnya memang seperti diriku. Pikirannya tak pernah terfokus pada satu hal saja, dia hanya berputar-putar di kepalanya. Dia suka memainkan musik dan dia seperti orang pintar yang muncul tiba-tiba dan bertaruh dengan yang sudah ada di atas. Dia sama sepertiku, kepintarannya tidak ingin ditunjukkan secara gamblang, seperti diam-diam menghanyutkan. Tidak terlalu ingin menghadap lawan, tapi diam-diam menghancurkannya dan menghilangkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar