Selasa, 02 Juni 2015

How to Make You Love Me Part IV

*Last Part*
Abigail                   : “Kau menyukainya kan? Ayo, mengaku!!” (godanya pada Swift)
          Kini mereka ada di tangga sekolah mencari wi-fi. Sambil menggerutu kesal Swift menjawab, “Apa aku gila? Aku bahkan tak mengenalnya. Aku tidak tahu siapa namanya? Dari planet mana dia berasal? Aku bahkan tak sebegitu paham dengan gambaran wajahnya. Hah.. aku bisa gila!!” (mengacak rambutnya dan membanting halus ponselnya)
Abigail                   : “Kau tahu? Sejak pertama aku masuk ke kelas itu, aku sedikit memperhatikannya. Dia sangat tenang seperti langit biru. Tidak banyak bicara dan cenderung misterius.”
Taylor Swift  : “Ya… Entahlah.. Aku tidak mengerti dan tak ingin mengerti….. Tapi… Tunggu!!! Biarku perjelas!! Kau mengamatinya in very first day??? OH… MY… Kau… Apa KAUUU menyukainya? Do you like hiimmmmm? Seriously???”

*Part 4*
Taylor Swift  : “Ya… Entahlah.. Aku tidak mengerti dan tak ingin mengerti….. Tapi… Tunggu!!! Biarku perjelas!! Kau mengamatinya in very first day??? OH… MY… Kau… Apa KAUUU menyukainya? Do you like hiimmmmm? Seriously???”
*Taylor Swift P.O.V*
          What the hell is it? Kenapa semua orang menyukainya? This is really WEIRD!!! Abigail?? Love him?? Bagaimana dengan Jennifer? Hey, man!! Dia juga menyukainya!! Betapa hebatnya pria itu! Ini menarik, dan aku harus memilikinya!!!
Abigail    : “Apa?? Hey!! Aku hanya mengamatinya, bukan menyukainya!! Berhentilah mengolokku!!”
Taylor Swift  : “Are u serious? I think you were lying!! Memang apa yang salah dari si langit biru itu sampai kau harus mengamatinya?”
Abigail         : “Entahlah. Dari awal dia sangat pendiam dan jarang bicara bahkan dengan teman sebangkunya.”
Taylor Swift  : “Tapi itu tidak penting lagi, kan? Sekarang si langit biru telah turun ke bumi dan berubah menjadi seorang manusia. Lebih tepatnya seorang ketua badminton, dan semua orang mulai mengejarnya.”
Abigail                   : “Yaa.. Kau benar!!”
Taylor Swift  : “Daripada dia aku lebih memilih Adam Levine. Tapi sayangnya, dia sudah punya pacar. Dan lebih gilanya gadis itu punya tanggal lahir yang sama denganku. Menyebalkan!!!!”
Abigail           : “Jangan berharap sampai kesana!! Nanti kau yang malah patah hati! Dia bahkan tak mengenalmu. Kaulah yang mengenalnya. Dia tidak mencintaimu, kaulah yang mencintainya. Jadi nanti jika kau sakit hati, kaulah yang sakit, dan dia takkan pernah tahu tentang itu!!”
          Dia benar. Sebenarnya tidak ada cowok tampan yang sesuai standart ku disini. Tapi karena kakak Adamlah aku jadi menyukai lagu “Everything has Changed”. Tapi aku hanya suka kan? Aku tidak mencintainya!! Aku hanya menganguminya!! Dengar itu, hati!! Kau hanya mengaguminya!! Jadi kau tak boleh patah, karena kau tak punya tulang!!
*Taylor Swift P.O.V End*
          Bel pun berbunyi dengan sangat buruknya seperti sebuah lagu yang tak disukai siapapun. Harusnya kali ini pelajaran matematika, Semua orang membencinya kedatangan guru itu. Apa yang diterangkannya selalu berbeda dengan apa yang ada diujiannya. Ini yang kadang membuat murid di MIA I merasa bosan dengan tingkah guru ini. Tapi sejauh ini, guru itu belum muncul. “Mungkin saja ada jam kosong selama dua jam. Aamiin!!” itulah harapan Swift saat ini. Ini adalah jam terakhir. Dan jam sudah menunjukkan jam dua siang. Akan sangat mengantukkan bila guru itu hadir dan menerangkan bab logaritma yang paling dibenci Swift.
Ketua Kelas  : “Gurunya sedang tidak ada….”
          Semua murid merayakannya dengan tarian gila ala mereka saat mendengarnya.
Ketua Kelas  : “Kita JAMKOS, teman!!!!” (Teriaknya sambil kembali ke tempak duduknya)
          Apa yang bisa dilakukan saat jam kosong? Yang bisa dilakukan adalah bermain, berteriak, bernyanyi, membaca novel, mengecek notifikasi di ponsel, atau mungkin pergi ke kantin.
          Dan apa yang dilakukan Taylor Swift?? Tentu saja bermain. Bermain 3,6,9, sebuah permainan yang sangat tidak populer tapi lumayan menyenangkan. Bersama siapa? Tentu saja ada Abigal, dan temannya yang lain. Peraturannya adalah setiap orang berhitung dan jika ada angka yang terdapat 3,6, atau 9, mereka harus tepuk tangan sesuai jumlah angka itu.
*Taylor Swift P.O.V*
          Ini akan sangat menyenangkan. Ada banyak teman baru disini. Sesuatu yang tak bisa kutemukan di sekolah menengah pertama. Demi Lovato, si gadis pintar dengan kacamata tebalnya, yang menyukai pria di X IIS 2. Lady Gaga, si gadis ambisius yang sedikit tomboy, yang sepertinya sedang menyukai ketua kelas. Dan Abigail, ya… seorang wanita yang dulu pernah satu sekolah dengan Demi dan menurutnya Abigail punya indra keenam, dan insting yang sangat kuat.
Abigail           : “24”
Demi Lovato : “25”
Taylor Swift  : “Mmmm. Berapa tadi??”
Lady Gaga      : “Ayo!! Cepat Jawab!! Makanya jangan melamun!! Aku hitung!! 1, 2, …”
Taylor Swift  : “26!!!”
Lady Gaga   : “Akhhh.. Kau ini!! Harusnya kau menepuk tanganmu. Bukan malah mengatakan angkanya!!” (ucapnya dengan nada mengolok)
Abigail    :   “WELL. TUNGGU APA LAGI, GUYS?? HUKUM DIA!! MARI KITA MENGUBAH MODEL RAMBUTNYA!!” (menunjukkan tangannya yang seperti kucing menemukan tikus)
Taylor Swift  : “APA?? HEII… CALM DOWN!!! Kau tahu kan aku masih pemula? Menurutku itu tidak pantas disimpulkan salah. Aku janji aku tidak akan seperti ini lagi di ronde selanjutnya!! JANGAN MENGACAK RAMBUTKU!!!
          Aku menghindar dengan sangat cepat dari mereka. Tapi apadaya 8:1. Aku pasti kalah. Akhh!!! Taylor yang PAYAH!!!
*5 menit kemudian*
Taylor Swift  : “AKU BUTUHHH CERMIN!!! APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN PADA RAMBUTKUUU!!!!!”
*To be continue*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar