*Last part*
Taylor Swift : “Hmm. Seperti itu!! Lalu, apa kau suka menyanyi? Hobiku adalah menyanyi.
Abigail : “Ya. Aku suka lagu
“Grenade” ?”
Taylor Swift : “Bagaimana dengan “Back to December”? “
Abigail : “Ya. Aku juga suka itu.
Entah kenapa itu bisa membuatku merasa gelisah.”
Taylor Swift : “Aku juga. Akhir tahun aku selalu kehilangan
seseorang yang ku cintai. Dan desember adalah bulan yang sangat menyedihkan.”
Abigail : “Kenapa?”
Taylor Swift : “Itu karena …” (dengan sedikit ragu)
Part III
Abigail : “Karena apa?” (tanyanya
penuh keheranan)
Taylor
Swift : “Mungkin karena aku terlalu
banyak meminta. Atau mungkin karena aku telah membuatnya menjanjikan sesuatu
yang tak seharusnya.” (nadanya mulai melemah mengingat pria itu)
“Maybe we got lost in translation”
“Maybe
I ask for too much”
“But maybe this thing was masterpiece
till you tore’ it all up”
(ALL TOO WELL – TAYLOR SWIFT)
Abigail : “Ayo ke kantin! Letakkan
headsheat mu! Tidak ada gunanya bersedih.”
Kedua insan itu menuruni tangga sambil menghapal jalan dan
mengamati sekolah yang akan menjadi tempat kelulusannya. Taylor Swift terlihat
murung karena tak semudah itu untuk lanjutkan hidup.
Abigail : “Ayo duduk disana!
(perintahnya sambil menunjuk sebuah gazebo yang terlihat sepi). Ceritakan padaku
apa yang terjadi dengan lagu itu?”
Taylor Swift : “Hmm. Ini bermula saat aku duduk di kelas
tujuh. Aku bosan dengan kelasku yang selalu membicarakan prestasi. Lalu dia
hadir seperti sebuah takdir. Aku nyaman bersamanya dan kurasa diapun begitu
(menggeser posisi duduknya). Dia tahu semua masalahku di sekolah dasar yang
pada saat itu teman-temanku menjadi musuh dalam sekejap, tanpa ku tahu
alasannya. Dia pindah ke sekolahku karena katanya dia ingin dekat denganku. Aku
menyuruhnya berjanji akan satu hal “Jangan meninggalkanku seperti mereka!”.
Diapun menyanggupinya. Entah hanya bercanda atau memang dia serius. Suatu hari
dia meminjam bukuku dan teman-temannya mengoloki kami. Dalam sekejap kami
menjadi sangat dekat. Dialah teman penaku. Tapi lalu ketenaran membuatnya lupa.
Dia menyuruhku pergi dan bodohnya aku, aku pun pergi. Begitulah! (sambil
menatap pohon di depannya dengan tatapan nanar)”
Abigail : “Sangat tragis. Tapi aku
juga punya cerita. Aku selalu punya pacar yang jauh dari negara ini. Aku pikir
pria local sangat berlebihan dalam berpacaran. Dia orang India, teman kakakku
yang kuliah disana. Memang jauh lebih tua, tapi dia cukup tampan. Lihat ini!!
(mengarahkan ponselnya pada Taylor Swift.)”
Taylor Swift : “Dia tampan. Untuk aku saja, bagaimana? (menyipitkan
satu matanya)”. Abigail mulai terpaku sejenak dan tanpa di jawab Taylor Swift
menimpali, “Aku hanya sedang bercanda.”
Dear Diary
Yahh.. semuanya berjalan dengan
lancar. Setidaknya aku memiliki teman sekarang. Ini seperti sebuah tempat
pelarian. Aku mengasingkan diri dari semua kesombongan yang dulu pernah ada.
Aku tidak sabar…. Aku tidak sabar menunggu
siapa pangeran yang akan menculik puteri ini dan menjadikan nya
‘Cinderella’ meski hanya semalam.
*Dua bulan berlalu*
Seorang gadis
dengan kacamata tebalnya mulai memperolok Taylor Swift.
Sepertinya mereka dekat. Gadis itu berbadan sedikit gemuk dan berkulit eksotik.
Dia selalu tertawa bahkan saat tak ada yang lucu. “Hey.. Kawan-kawan!! Swift
menyukai Lautner!!! (tertawa jahat).” Swift segera berlari dari bangkunya dan
menutup mulut lebar gadis itu sambil berteriak, “Apa yang kau lakukan? Siapa
yang menyukai siapa? Heiii… Berhenti kau, Jennifer Hudson!!!” (Swift mulai
mengejar temannya yang berhasil melarikan diri setelah menebar rumor murahan)
Dipertengahan itu, Jennifer Hudson kembali berteriak pada
seorang pria yang lumayan gemuk “Swift menyukai Lautnerrr!! (teriaknya dengan
napas terengah-engah).” Pria itu menimpali “Benarkah?? (sambil menatap curiga
pada Swift)”. “Apa kau lihat-lihat, Kanye West??? Berhentilah menatapku seperti
itu!! Menjijikkan !! itu hanya gosip gila, jangan mudah percaya!! (Teriak
Swift)”
Pria yang sedang
digosipkan, akhirnya menoleh pada penjuru kelas melihat satu per satu orang
yang ada disana. Swift, Jennifer, dan Kanye West. Menatap curiga sekaligus
marah karena nama baiknya tercemar sekarang.
* Taylor Swift P.O.V”
Apa wanita itu sudah gila? Aku bahkan tidak mengenal pria
itu!!! Perasaan suka macam apa yang gadis itu pikirkan? Dan sekarang apa? Dia
menatap tajam ke arahku? Aku bukannya takut mati karena aku terpesona, ini
karena tatapannya yang siap memangsa setiap inchi dari diriku. Menelan ludah
terasa sangat kaku. Masih berapa bulan aku disini? Kenapa tatapannya seperti
itu, Tuhan????
*Taylor Swift P.O.V End*
Abigail : “Kau menyukainya kan? Ayo,
mengaku!!” (godanya pada Swift)
Kini mereka ada di tangga sekolah mencari wi-fi. Sambil
menggerutu kesal Swift menjawab, “Apa aku gila? Aku bahkan tak mengenalnya. Aku
tidak tahu siapa namanya? Dari planet mana dia berasal? Aku bahkan tak sebegitu
paham dengan gambaran wajahnya. Hah.. aku bisa gila!!” (mengacak rambutnya dan
membanting halus ponselnya)
Abigail : “Kau tahu? Sejak pertama
aku masuk ke kelas itu, aku sedikit memperhatikannya. Dia sangat tenang seperti
langit biru. Tidak banyak bicara dan cenderung misterius.”
Taylor Swift : “Ya… Entahlah.. Aku tidak mengerti dan tak
ingin mengerti….. Tapi… Tunggu!!! Biarku perjelas!! Kau mengamatinya in very
first day??? OH… MY… Kau… Apa KAUUU menyukainya? Do you like hiimmmmm? Seriously???”
*To
be continued*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar