Selasa, 02 Juni 2015

How to Make You Love Me Part III

*Last part*

Taylor Swift  : “Hmm. Seperti itu!! Lalu, apa kau suka menyanyi? Hobiku adalah menyanyi.
Abigail           : “Ya. Aku suka lagu “Grenade” ?”
Taylor Swift  : “Bagaimana dengan “Back to December”? “
Abigail           : “Ya. Aku juga suka itu. Entah kenapa itu bisa membuatku merasa gelisah.”
Taylor Swift : “Aku juga. Akhir tahun aku selalu kehilangan seseorang yang ku cintai. Dan desember adalah bulan yang sangat menyedihkan.”
Abigail           : “Kenapa?”
Taylor Swift  : “Itu karena …” (dengan sedikit ragu)

Part III
Abigail                   : “Karena apa?” (tanyanya penuh keheranan)
Taylor Swift  : “Mungkin karena aku terlalu banyak meminta. Atau mungkin karena aku telah membuatnya menjanjikan sesuatu yang tak seharusnya.” (nadanya mulai melemah mengingat pria itu)
          “Maybe we got lost in translation”
          “Maybe  I ask for too much”
          “But maybe this thing was masterpiece till you tore’ it all up”
(ALL TOO WELL – TAYLOR SWIFT)
Abigail                : “Ayo ke kantin! Letakkan headsheat mu! Tidak ada gunanya bersedih.”
          Kedua insan itu menuruni tangga sambil menghapal jalan dan mengamati sekolah yang akan menjadi tempat kelulusannya. Taylor Swift terlihat murung karena tak semudah itu untuk lanjutkan hidup.
Abigail             : “Ayo duduk disana! (perintahnya sambil menunjuk sebuah gazebo yang terlihat sepi). Ceritakan padaku apa yang terjadi dengan lagu itu?”
Taylor Swift  : “Hmm. Ini bermula saat aku duduk di kelas tujuh. Aku bosan dengan kelasku yang selalu membicarakan prestasi. Lalu dia hadir seperti sebuah takdir. Aku nyaman bersamanya dan kurasa diapun begitu (menggeser posisi duduknya). Dia tahu semua masalahku di sekolah dasar yang pada saat itu teman-temanku menjadi musuh dalam sekejap, tanpa ku tahu alasannya. Dia pindah ke sekolahku karena katanya dia ingin dekat denganku. Aku menyuruhnya berjanji akan satu hal “Jangan meninggalkanku seperti mereka!”. Diapun menyanggupinya. Entah hanya bercanda atau memang dia serius. Suatu hari dia meminjam bukuku dan teman-temannya mengoloki kami. Dalam sekejap kami menjadi sangat dekat. Dialah teman penaku. Tapi lalu ketenaran membuatnya lupa. Dia menyuruhku pergi dan bodohnya aku, aku pun pergi. Begitulah! (sambil menatap pohon di depannya dengan tatapan nanar)”
Abigail           : “Sangat tragis. Tapi aku juga punya cerita. Aku selalu punya pacar yang jauh dari negara ini. Aku pikir pria local sangat berlebihan dalam berpacaran. Dia orang India, teman kakakku yang kuliah disana. Memang jauh lebih tua, tapi dia cukup tampan. Lihat ini!! (mengarahkan ponselnya pada Taylor Swift.)”
Taylor Swift  : “Dia tampan. Untuk aku saja, bagaimana? (menyipitkan satu matanya)”. Abigail mulai terpaku sejenak dan tanpa di jawab Taylor Swift menimpali, “Aku hanya sedang bercanda.”
          Dear Diary
Yahh.. semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya aku memiliki teman sekarang. Ini seperti sebuah tempat pelarian. Aku mengasingkan diri dari semua kesombongan yang dulu pernah ada. Aku tidak sabar…. Aku tidak sabar menunggu  siapa pangeran yang akan menculik puteri ini dan menjadikan nya ‘Cinderella’ meski hanya semalam.
*Dua bulan berlalu*
          Seorang gadis dengan kacamata tebalnya mulai memperolok Taylor Swift. Sepertinya mereka dekat. Gadis itu berbadan sedikit gemuk dan berkulit eksotik. Dia selalu tertawa bahkan saat tak ada yang lucu. “Hey.. Kawan-kawan!! Swift menyukai Lautner!!! (tertawa jahat).” Swift segera berlari dari bangkunya dan menutup mulut lebar gadis itu sambil berteriak, “Apa yang kau lakukan? Siapa yang menyukai siapa? Heiii… Berhenti kau, Jennifer Hudson!!!” (Swift mulai mengejar temannya yang berhasil melarikan diri setelah menebar rumor murahan)
          Dipertengahan itu, Jennifer Hudson kembali berteriak pada seorang pria yang lumayan gemuk “Swift menyukai Lautnerrr!! (teriaknya dengan napas terengah-engah).” Pria itu menimpali “Benarkah?? (sambil menatap curiga pada Swift)”. “Apa kau lihat-lihat, Kanye West??? Berhentilah menatapku seperti itu!! Menjijikkan !! itu hanya gosip gila, jangan mudah percaya!! (Teriak Swift)”
          Pria yang sedang digosipkan, akhirnya menoleh pada penjuru kelas melihat satu per satu orang yang ada disana. Swift, Jennifer, dan Kanye West. Menatap curiga sekaligus marah karena nama baiknya tercemar sekarang.
* Taylor Swift P.O.V”
          Apa wanita itu sudah gila? Aku bahkan tidak mengenal pria itu!!! Perasaan suka macam apa yang gadis itu pikirkan? Dan sekarang apa? Dia menatap tajam ke arahku? Aku bukannya takut mati karena aku terpesona, ini karena tatapannya yang siap memangsa setiap inchi dari diriku. Menelan ludah terasa sangat kaku. Masih berapa bulan aku disini? Kenapa tatapannya seperti itu, Tuhan????
*Taylor Swift P.O.V End*
Abigail               : “Kau menyukainya kan? Ayo, mengaku!!” (godanya pada Swift)
          Kini mereka ada di tangga sekolah mencari wi-fi. Sambil menggerutu kesal Swift menjawab, “Apa aku gila? Aku bahkan tak mengenalnya. Aku tidak tahu siapa namanya? Dari planet mana dia berasal? Aku bahkan tak sebegitu paham dengan gambaran wajahnya. Hah.. aku bisa gila!!” (mengacak rambutnya dan membanting halus ponselnya)
Abigail         : “Kau tahu? Sejak pertama aku masuk ke kelas itu, aku sedikit memperhatikannya. Dia sangat tenang seperti langit biru. Tidak banyak bicara dan cenderung misterius.”
Taylor Swift  : “Ya… Entahlah.. Aku tidak mengerti dan tak ingin mengerti….. Tapi… Tunggu!!! Biarku perjelas!! Kau mengamatinya in very first day??? OH… MY… Kau… Apa KAUUU menyukainya? Do you like hiimmmmm? Seriously???”

*To be continued*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar