Selasa, 02 Juni 2015

How to Make You Love Me Part II

*Last part*
Ini adalah hari penentuan. Jika dia tidak bisa mendapatkan kelas MIA I maka tidak akan ada lagi masa depan. Swift berjalan menemui teman segugusnya yang bernama Shontelle dan Meghan Trainor. Mereka mulai mencoba melihat isi pengumuman itu. Dari daftar kelas terbelakang, mereka mulai mencari nama mereka.
Taylor Swift    : “Shontelle!! Kau… MIA IV!!”
Shontelle        : “Hmm.. it’s not good. But it’s okay. I’ll be love it soon!!” (dengan senyum masamnya.)
Taylor Swift    : “Don’t worry!! It’s the best class too!! So, how about me? Let’s find it!!”
            Mereka mulai menjinjit karena semua orang berdesakan untuk melihat semuanya. Tapi tiba-tiba…
Shontelle        : “Taylor… That’s you!!”
Taylor Swift    : “Where is it?”
Shontelle        : “There!! Right in front of me.”
Taylor Swift    : “Where? Let me to see it….!! OH MY GOSH…!!!

*Part II*
Meghan          : “W.O.W!! You get it, Swift!!! You deserve it!!!”
Taylor Swift    : “OH MY GOD!!! I can’t believe it!!! It’s my lucky day!!”
Shontelle        : “Yeahh.. Kupikir kau memang layak mendapatkan ini!! Kelas MIA I ada di atas. Dan.. Meghan, how about you? Let’s  find it, guys!!”
            Mereka mulai mencari tapi yang dicari tak kunjung di temukan. Meghan mulai sedih dan merasa pasrah karena disemua kertas yang ada di papan itu tidak satupun terdapat namanya. But suddenly…
Siswa lain      : “Untuk MIA bawah, cari di kelas dekat laboratarium !!!”
Meghan          : “Let’s see it!! I can’t wait to see it, guys!! So, c’mon!!!”
            Sekelompok murid perempuan itu segera berlari ke tempat yang dituju, laboratarium. Mereka mulai mencari kertas yang berisikan nama siswa itu, dan alhasil…
Meghan          : “Kutemukan!! MIA VIII !!! Tapi dimana tempat kelasnya? Teman-teman, kumohon carikan kelasku!!”
Taylor Swift    : “Oke!! Oke!! Tapi biarkan aku menaruh tasku dulu!!”
Meghan          : “Tidak!! Tidak bisa!! Dan tidak boleh!! Ayo, temukan kelas ku dulu!!”
Taylor Swift    : “Tapi, nanti aku tidak akan bisa mendapatkan kursi, Meghan!!!
Meghan          : “Pokoknya tidak bisa!! Kita harus temukan kelasku dulu!! Aku…”
            Belum selesai Meghan menjelaskan kalimatnya, tibalah seseorang wanita. Dia bertanya pada Taylor Swift apakah dia kelas MIA I. Jika iya maka wanita tadi ingin berangkat bersama.
Taylor Swift    : “Siapa namamu?”
Wanita itu       : “Abigail, dari gugus “Belanda” ?”
Taylor Swift    : “Benarkah? Tapi aku tidak pernah  melihatmu. Tapi ngomong-ngomong, tunggulah sebentar aku sedang mengantar temanku ke X MIA VIII !”
Abigail                        : “Ya. Baiklah. Aku akan mengikuti kalian!!”
            Setelah itu mereka mulai melaju dengan tas yang mereka pikul. Mencari di setiap penjuru dan mencari papan kelas yang bertuliskan X MIA VIII. Dan alhasil…
Taylor Swift    : “Nah.. disini!! Pergilah!! Dan aku akan pergi ke kelasku bersama Abigail.”
Meghan          : “Hmm… Kenapa kalian di kelas atas? Aku merasa tidak punya teman lagi disini. Jangan lupa mampir ke kelasku ya??”
Shontelle        : “Ya. Baiklah. Kami pergi ya!! Oke!!”
            Taylor Swift, Shontelle, dan Abigail mulai menaiki satu per satu anak tangga, dan mencoba mencari dimana kelas mereka. Di depan mereka terpampanglah sebuah perpustakaan dan yang jelas terpampanglah wifi yang meliputi zona itu.
Shontelle        : “Ayo!! Ikut aku ke kelas dulu!! Kau jangan langsung pergi ke kelasmu!! Pleasee !!!”
Taylor Swift    : “Haahhh… Baiklah! Baiklah. Ayo ke kelasmu!”
            Mereka mulai berbalik ke arah kanan. Terlihatlah dengan jelas beberapa kelas yang ada disana.  Ada lukisan dan gambar-gambar yang turut menghiasi kelas XI Bahasa. Di sebelahnya terlihatlah sebuah papan yang bertuliskan X MIA VI.
Taylor Swift    : “Pergilah!! Aku kasihan melihat Abigail menuruti perintahmu. Aku pergi dulu.”
Shontelle        : “Oke!! Baiklah!! Jangan lupa mampir ke kelasku!! See ya, Tay!!” (sambil kiss bye di tengah keramaian)
Taylor Swift    : “Menjijikkan!!” (ungkapnya sambil memiringkan bibirnya pertanda tidak suka.)
            Mereka mulai berjalan menuju kelasnya. Angin sepoi-sepoi seakan membawa mereka lebih jauh pada suasana di sekolah ini.
Abigail                        : “Disana!!”
Taylor Swift    : “Ya. Baiklah!!”
Abigail                        : “Duduklah bersamaku!! Oke?”
            Sebenarnya Tay sudah berjanji pada salah satu teman segugus yang tak dikenalnya bahwa dia akan sebangku dengan wanita itu. Satu demi langkah mereka mulai memasuki kelas itu, terlihat jelas temboknya yang berwarna biru muda, kipas angin ada sisi kanan dan kiri, dan beberapa jendela yang tertiup angin.
Taylor Swift    : “Disini saja!!”
            Mereka mulai duduk di kursi mereka. Tay melihat teman segugusnya yang tadi mengajaknya duduk sebangku, sekarang sudah duduk dengan wanita lain. Dia berpikir “banyak orang munafik disini!!”. Bunyi kipas angin menyelimuti keheningan itu. Tay dan Abigail saling bercerita tentang kehidupannya. Tay merasa nyaman bercerita pada Abigail.
Abigail                        : “Aku punya saudara yang bekerja di India dan Malaysia. Sebenarnya aku ingin masuk kelas Bahasa tapi Ibuku menyuruhku ke kelas MIA.”
Taylor Swift    : “Aku dari SMP Negeri 2. Dan tidak banyak teman-temanku yang sekolah disini. Jujur, aku ingin menjadi psikolog. Aku mulai tertarik saat aku berada di kelas sembilan. Dulu aku adalah korban bully. Entah bagaimana bisa ada teman wanitaku yang sangat membenciku. Aku tidak cukup mengenalnya, tapi dia selalu mengusik dan menceritakan pada temannya yang lain tentang keburukanku di hadapanku. Sungguh itu adalah satu tahun yang menyiksa. Kelas delapan aku  berbeda kelas dengannya karena diacak. Kelas Sembilan aku kembali ke kelas asalku dan bertemu dengannya lagi. Dia berubah seolah menjadi teman dekatku dan seakan dulu tak pernah jadi apa-apa. Memuakkan!”
Abigail                        : “Masa lalu yang buruk. Dulu kelas delapan, aku pernah menyukai seorang pria. Di awal dari ketidaksengajaan. Mereka mengolokku menyukainya dan entah kenapa dia menjadi terlalu berlebihan. Dia merasa sangat percaya diri. Aku mulai menyukainya setiap hari. Tapi anehnya dia adalah tipe pria yang langsung menjatuhkan orang yang suka padanya. Serasa di neraka, karena dia memberiku banyak harapan palsu. Aku lebih suka pacaran dengan orang luar negeri. Aku merasa cara pacaran disini sungguh kekanak-kanakan dan berlebihan. Aku punya mimpi bisa kuliah di India. Dan aku juga sedang berpacaran dengan pria India. Ibuku selalu berbeda pendapat denganku. Dan entah kenapa aku sedikit muak dengannya. Dia hanya membela adikku, dan aku tidak berani cerita apapun padanya.”
Taylor Swift    : “Hmm. Seperti itu!! Lalu, apa kau suka menyanyi? Hobiku adalah menyanyi.
Abigail            : “Ya. Aku suka lagu “Grenade” ?”
Taylor Swift    : “Bagaimana dengan “Back to December”? “
Abigail            : “Ya. Aku juga suka itu. Entah kenapa itu bisa membuatku merasa gelisah.”
Taylor Swift   : “Aku juga. Di akhir tahun aku selalu kehilangan seseorang yang ku cintai. Dan Desember adalah bulan yang sangat menyedihkan.”
Abigai             : “Kenapa?”
Taylor Swift    : “Itu karena …”

*To Be Continue*
 Part I http://red1823.blogspot.com/2015/05/how-to-make-you-love-me-part-i.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar