*Last
part*
Ini
adalah hari penentuan. Jika dia tidak bisa mendapatkan kelas MIA I maka tidak
akan ada lagi masa depan. Swift berjalan menemui teman segugusnya yang bernama
Shontelle dan Meghan Trainor. Mereka mulai mencoba melihat isi pengumuman itu.
Dari daftar kelas terbelakang, mereka mulai mencari nama mereka.
Taylor
Swift : “Shontelle!! Kau… MIA IV!!”
Shontelle : “Hmm.. it’s not good. But it’s okay.
I’ll be love it soon!!” (dengan senyum masamnya.)
Taylor
Swift : “Don’t worry!! It’s the best
class too!! So, how about me? Let’s find it!!”
Mereka mulai menjinjit karena semua
orang berdesakan untuk melihat semuanya. Tapi tiba-tiba…
Shontelle : “Taylor …
That’s you!!”
Taylor
Swift : “Where is it?”
Shontelle : “There!! Right in front of me.”
Taylor
Swift : “Where? Let me to see it….!! OH
MY GOSH…!!!
*Part
II*
Meghan
: “W.O.W!! You get it, Swift!!!
You deserve it!!!”
Taylor
Swift : “OH MY GOD!!! I can’t believe
it!!! It’s my lucky day!!”
Shontelle : “Yeahh.. Kupikir kau memang layak
mendapatkan ini!! Kelas MIA I ada di atas. Dan.. Meghan, how about you?
Let’s find it, guys!!”
Mereka mulai mencari tapi yang
dicari tak kunjung di temukan. Meghan mulai sedih dan merasa pasrah karena
disemua kertas yang ada di papan itu tidak satupun terdapat namanya. But suddenly…
Siswa
lain : “Untuk MIA bawah, cari di
kelas dekat laboratarium !!!”
Meghan : “Let’s see it!! I can’t wait to see
it, guys!! So, c’mon!!!”
Sekelompok murid perempuan itu
segera berlari ke tempat yang dituju, laboratarium. Mereka mulai mencari kertas
yang berisikan nama siswa itu, dan alhasil…
Meghan : “Kutemukan!! MIA VIII !!! Tapi
dimana tempat kelasnya? Teman-teman, kumohon carikan kelasku!!”
Taylor
Swift : “Oke!! Oke!! Tapi biarkan aku
menaruh tasku dulu!!”
Meghan : “Tidak!! Tidak bisa!! Dan tidak
boleh!! Ayo, temukan kelas ku dulu!!”
Taylor
Swift : “Tapi, nanti aku tidak akan
bisa mendapatkan kursi, Meghan!!!
Meghan : “Pokoknya tidak bisa!! Kita harus
temukan kelasku dulu!! Aku…”
Belum selesai Meghan menjelaskan
kalimatnya, tibalah seseorang wanita. Dia bertanya pada Taylor Swift apakah dia
kelas MIA I. Jika iya maka wanita tadi ingin berangkat bersama.
Taylor
Swift : “Siapa namamu?”
Wanita
itu : “Abigail, dari gugus “Belanda”
?”
Taylor
Swift : “Benarkah? Tapi aku tidak
pernah melihatmu. Tapi ngomong-ngomong,
tunggulah sebentar aku sedang mengantar temanku ke X MIA VIII !”
Abigail : “Ya. Baiklah. Aku akan
mengikuti kalian!!”
Setelah itu mereka mulai melaju
dengan tas yang mereka pikul. Mencari di setiap penjuru dan mencari papan kelas
yang bertuliskan X MIA VIII. Dan alhasil…
Taylor
Swift : “Nah.. disini!! Pergilah!! Dan
aku akan pergi ke kelasku bersama Abigail.”
Meghan : “Hmm… Kenapa kalian di kelas atas?
Aku merasa tidak punya teman lagi disini. Jangan lupa mampir ke kelasku ya??”
Shontelle : “Ya. Baiklah. Kami pergi ya!! Oke!!”
Taylor Swift, Shontelle, dan Abigail
mulai menaiki satu per satu anak tangga, dan mencoba mencari dimana kelas
mereka. Di depan mereka terpampanglah sebuah perpustakaan dan yang jelas
terpampanglah wifi yang meliputi zona itu.
Shontelle : “Ayo!! Ikut aku ke kelas dulu!! Kau
jangan langsung pergi ke kelasmu!! Pleasee !!!”
Taylor
Swift : “Haahhh… Baiklah! Baiklah. Ayo
ke kelasmu!”
Mereka mulai berbalik ke arah kanan.
Terlihatlah dengan jelas beberapa kelas yang ada disana. Ada lukisan dan gambar-gambar yang turut
menghiasi kelas XI Bahasa. Di sebelahnya terlihatlah sebuah papan yang
bertuliskan X MIA VI.
Taylor
Swift : “Pergilah!! Aku kasihan melihat
Abigail menuruti perintahmu. Aku pergi dulu.”
Shontelle : “Oke!! Baiklah!! Jangan lupa mampir ke
kelasku!! See ya, Tay!!” (sambil kiss bye di tengah keramaian)
Taylor
Swift : “Menjijikkan!!” (ungkapnya
sambil memiringkan bibirnya pertanda tidak suka.)
Mereka mulai berjalan menuju
kelasnya. Angin sepoi-sepoi seakan membawa mereka lebih jauh pada suasana di
sekolah ini.
Abigail : “Disana!!”
Taylor
Swift : “Ya. Baiklah!!”
Abigail : “Duduklah bersamaku!!
Oke?”
Sebenarnya Tay sudah berjanji pada
salah satu teman segugus yang tak dikenalnya bahwa dia akan sebangku dengan
wanita itu. Satu demi langkah mereka mulai memasuki kelas itu, terlihat jelas
temboknya yang berwarna biru muda, kipas angin ada sisi kanan dan kiri, dan
beberapa jendela yang tertiup angin.
Taylor
Swift : “Disini saja!!”
Mereka mulai duduk di kursi mereka.
Tay melihat teman segugusnya yang tadi mengajaknya duduk sebangku, sekarang
sudah duduk dengan wanita lain. Dia berpikir “banyak orang munafik disini!!”.
Bunyi kipas angin menyelimuti keheningan itu. Tay dan Abigail saling bercerita
tentang kehidupannya. Tay merasa nyaman bercerita pada Abigail.
Abigail : “Aku punya saudara
yang bekerja di India dan Malaysia. Sebenarnya aku ingin masuk kelas Bahasa
tapi Ibuku menyuruhku ke kelas MIA.”
Taylor
Swift : “Aku dari SMP Negeri 2. Dan
tidak banyak teman-temanku yang sekolah disini. Jujur, aku ingin menjadi
psikolog. Aku mulai tertarik saat aku berada di kelas sembilan. Dulu aku adalah
korban bully. Entah bagaimana bisa ada teman wanitaku yang sangat membenciku.
Aku tidak cukup mengenalnya, tapi dia selalu mengusik dan menceritakan pada
temannya yang lain tentang keburukanku di hadapanku. Sungguh itu adalah satu
tahun yang menyiksa. Kelas delapan aku
berbeda kelas dengannya karena diacak. Kelas Sembilan aku kembali ke
kelas asalku dan bertemu dengannya lagi. Dia berubah seolah menjadi teman
dekatku dan seakan dulu tak pernah jadi apa-apa. Memuakkan!”
Abigail : “Masa lalu yang buruk.
Dulu kelas delapan, aku pernah menyukai seorang pria. Di awal dari
ketidaksengajaan. Mereka mengolokku menyukainya dan entah kenapa dia menjadi
terlalu berlebihan. Dia merasa sangat percaya diri. Aku mulai menyukainya
setiap hari. Tapi anehnya dia adalah tipe pria yang langsung menjatuhkan orang
yang suka padanya. Serasa di neraka, karena dia memberiku banyak harapan palsu.
Aku lebih suka pacaran dengan orang luar negeri. Aku merasa cara pacaran disini
sungguh kekanak-kanakan dan berlebihan. Aku punya mimpi bisa kuliah di India.
Dan aku juga sedang berpacaran dengan pria India. Ibuku selalu berbeda pendapat
denganku. Dan entah kenapa aku sedikit muak dengannya. Dia hanya membela
adikku, dan aku tidak berani cerita apapun padanya.”
Taylor
Swift : “Hmm. Seperti itu!! Lalu, apa
kau suka menyanyi? Hobiku adalah menyanyi.
Abigail : “Ya. Aku suka lagu
“Grenade” ?”
Taylor
Swift : “Bagaimana dengan “Back to
December”? “
Abigail : “Ya. Aku juga suka
itu. Entah kenapa itu bisa membuatku merasa gelisah.”
Taylor
Swift : “Aku juga. Di akhir tahun aku
selalu kehilangan seseorang yang ku cintai. Dan Desember adalah bulan yang
sangat menyedihkan.”
Abigai :
“Kenapa?”
Taylor
Swift : “Itu karena …”
*To
Be Continue*
Part I http://red1823.blogspot.com/2015/05/how-to-make-you-love-me-part-i.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar