Jumat, 03 April 2015

Pudar

Kurasakan semua warna menjadi pudar. Entah karena mataku yang mulai menggila atau hanya karena hatiku tak bisa menerimanya. Semuanya menjadi membingungkan sekarang. Tak ada jalan yang bisa kutunggu. Seakan diburu oleh ruang dan waktu.

Apa yang bisa kulakukan? Saat semuanya menjadi tak cukup berarti lagi. Jiwaku tak jelas akan kemana, batinku tersesat di suatu tempat. Katakan sesuatu sedikit saja! Katakan padaku aku harus berhenti sekarang! Permainan ini cukup membuatku lelah.

Harusnya tak kumainkan semua ini dari awal. Tapi semua orang selalu mengatakan penyesalan ada pada akhir acara. Jadi disinilah semua ini saat aku merasa menyesal. Aku ingin berlari kepadanya tapi kau menghadang tepat di depanku. Aku merasakan kesakitan dan tak ada yang bisa membantuku di ruang kosong ini.

Saat aku melihatnya aku merasa sangat mencintainya. Tapi kau selalu membuatku tertawa setiap aku sedang berduka. Aku mengenalnya secara diam-diam, tapi aku mengenalmu bahkan seperti mengenal diriku sendiri.

Aku ingin mengakhiri semuanya secepat yang kubisa. Tapi ikatan ini membunuhku perlahan-lahan. Semula aku hanya ingin memperlihatkan padanya untuk melihat sedikit saja percikan kecemburuan. Dan aku tahu semua ini tak berguna, tak pernah ternilai di matamu.

Aku merasakan sepi. Aku tak bisa melakukan apapun. Merasakan dilema yang teramat sangat. Aku ingin pergi! Aku ingin berhenti dengan semua permainan gila ini. Aku ingin mememukan diriku lagi untuk kesekian kali.

Akan menyenangkan jika kau bisa membawaku ke tempat di mana tak ada kekasihku. Curi aku dan genggam tanganku. Kumohon, berhentilah keras kepala! Katakan apa yang bisa kau katakan! Akan kukatakan semua yang ada di lubuk hatiku.
Thursday, April 2, 2015


Kadang aku tak merasa memilikimu. Jarak membuat semua warna memudar. Yang tersisa hanyalah aku dengan perasaan bingung ini. Kadang aku merasa sangat bergantung padamu. Setiap pesanmu adalah napasku. Kadang aku merasa takut kehilangan dirimu. Setiap dering telepon darimu adalah penghilang dahagaku.

Kemarin aku merasa tak butuh dirimu. Bahkan kata putus yang kuucapkan tak menusuk dinding hatiku. Hari ini aku merasakan kehilangan. Tapi rayuanmu membuatku tak bisa menahan untuk kembali ke sisimu. Kau membuatku bahagia dan berduka di suatu waktu. Kau yang meninggikan sayapku dan kau yang mematahkan sayapku. Kau adalah udara yang kadang berpolusi.

Malam ini saat kubiarkan kau pelajari semua yang bisa kau pelajari. Berikan aku tujuh alasan untuk tetap tinggal! Kau bilang tak bisa berpaling dariku dan ku bilang itu bohong. Kadang aku merasakan hadirmu sangatlah dekat, tapi di suatu waktu yang lain aku merasa kau pergi sangat jauh.

Di setengah waktu kau seperti teman yang terlalu pandai menghiburku. Di setengah waktu yang lain kau seperti seseorang yang tak pernah kukenal. Setiap hari kau seperti dua sisi mata koin. Sangat sulit untuk menerka yang mana dirimu. Aku adalah ratu dalam permainan caturmu. Tapi kau seperti kuda poni yang berjalan lurus dua langkah lalu berbelok sesukamu.

Kita terlalu muda untuk semua ini. Akhir bahagia kadang hanya berubah menjadi pada suatu hari. Kau adalah pangeran yang berlari bersama sang putri. Tapi kita tahu ibuku tidak menyukai ini. Dan yang bisa kulakukan adalah berhati-hati dengan cara bicaraku.

Matamu selembut salju saat menatapku, tapi tanganmu seerat tali yang mengikatku. Otakmu penuh dengan rayuan tapi saat di depanku kau takkan berani melakukannya. Sangat sulit saat setiap pagi yang bisa kutemukan adalah dirinya. Andai itu kau maka mataku takkan seliar ini.

Kau tahu kelemahanku dan aku pun begitu. Kau mengerti rahasiaku dan tak berniat tuk membukanya ke permukaan. Aku tahu ini sulit tapi inilah keputusanku. Kemarin dan hari ini tak jadi berarti saat kita memikirkan hari esok. Kau bilang kau akan memberiku coklat dan aku berani bertaruh untuk itu.

Senyummu penuh maut tapi saat kau diam, kau seperti patung yang penuh tatapan kosong. Aku dengan setengah lamunanku mendengar setiap pembicaraanmu dari telepon. Menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah ini. Kadang kau bersikap tak peduli dan hanya mengatakan yang ingin kau katakan, bukan yang ingin aku dengar. Kadang kau selalu menyuruhku mengatakan apa yang bisa kukakatakan.

Penuh teka-teki dan seperti bongkar pasang. Kadang kau seperti matahari di pagi hari yang menghangatkanku. Kadang kau seperti matahari di siang hari yang membakar kulitku dan membuatku bersembunyi di kegelapan. Kadang kau seperti petir yang menyambarku. Tapi kadang kau seperti hujan yang meneduhkanku sekaligus membuat badai untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar