Kamis, 09 April 2015

Cinta Hanyalah Omong Kosong

Kebingungan ini mulai menyelimuti langit biruku. Daripada matahari yang hangat aku akan lebih memilih angin yang menusuk malamku. Bahkan bintang membentuk sebuah rasi. Tapi yang kulakukan hanyalah merusak orbit yang telah kubangun sendiri.

Hari ini aku merasa tak pernah mencintaimu dan tak pernah mencintainya. Aku tak tahu sampai kapan ini akan bertahan tapi yang kutahu aku akan segera mengatasinya. Mungkin ini bukan masa kejayaan itu. Bagiku cinta hanyalah omong kosong yang sering mereka tebarkan.

Kadang aku merasa ragu dengan apa yang ditujukan oleh hati. Semua lagu seakan tak bisa menggambarkan perasaanku. Dulu, kupikir aku membutuhkan seseorang yang akan bisa meneguhkan tiangku. Tapi kini mungkin aku tak membutuhkan itu. Seseorang yang datang, seperti sebuah pertanda buruk. Masalah akan berserakan dengan adanya mereka.

Aku ingin bahuku terasa ringan. Aku tak ingin kesulitan lagi untuk bernapas. Aku ingin merasa tenang saat kupejamkan mataku. Bahkan di mimpi terliarku, mereka datang sebagai serangan musuh. Aku tahu aku tak memiliki siapapun. Aku hanya tertawa bersama mereka. Menggunakan lelucon kuno ku yang menurut mereka menyebalkan.

Aku hanya benci dengan keheningan. Perasaan sepi membuatku kembali berpikir tentang hal buruk. Yang tak bisa kulakukan adalah bercerita tentang kekesalanku pada mereka. Mungkin mereka pikir aku tak punya masalah serius. Tidak seperti mereka yang gagal berpacaran, kembali pada mantan, memendam sebuah perasaan pada seseorang, atau bahkan mendekati pria yang sangat dingin.

Saat mereka datang aku tak tahu aku harus cerita darimana. Dan kupikir itu juga tak terlalu penting. Pria hanyalah sebuah berita buruk tapi yang tidak bisa kupercaya adalah mereka memujanya seperti seorang dewa.

Aku hanya ingin hidup normal. Masa lalu tak terlalu penting dan tak terlalu mudah menjatuhkan langkahku. Tapi apa yang kini bisa kulakukan? Seseorang ingin merasakan pria lokal, seseorang yang lain kembali mantan, seseorang yang lain memendam rasa untuk tidak cemburu, dan seseorang yang lain meminta saran padaku untuk mendekati pria gamers itu. Ini cukup rumit daripada sebuah buku "psikologi abnormal". Dan kupikir sepertinya aku butuh tempat dimana aku tidak bisa mendengar ocehan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar