Minggu, 15 Maret 2015

Rekaman



Minggu pagi, saat kau memintaku bersepeda denganmu. Ku lihat diriku di hadapan kaca dan kukatakan padamu aku tidak bisa. Di siang hari, saat kuceritakan padamu tentang pria gila itu. Aku bertanya padamu "Tidakkah kau cemburu? Dia meminta banyak fotoku?". Kau bilang "Tidak. Beri saja fotomu pada fansmu". Kau sangat tahu yang kuinginkan hanyalah kau yang katakan bahwa dirimu cemburu.

Sekitar 30 menit kuabaikan dirimu, kau mulai tunjukkan betapa kau sangat cemburu. Kita bertengkar dengan sedikit kasar untuk pertama kalinya. Dan kukatakan padamu "Baik. Aku yang salah. Akan kukirimkan fotoku padamu sama seperti kukirim fotoku padanya. Aku minta maaf". Kau bilang tidak semudah itu untuk memaafkanku. Kau bilang kau berpura-pura tidak cemburu. Dan aku bilang padamu aku juga berpura-pura tidak tahu kalau setiap tandamu adalah kemarahan. Kau bersikap kekanak-kanak, dan aku merasa dibuat gila.

Sore hari, saat kau mengajakku bertemu dan membahas semuanya. Kuikuti langkah besar mu ke sebuah tempat makan. Kau pinggirkan motorku seperti tukang parkir dan kita saling tertawa. Kau membuka ponselku dan melihat semua gambar dan pesanku. Entah apa yang sedang kau pikirkan, aku merasa tidak peduli.

Aku suka caramu menikmati makananmu. Kusuapi kau cireng tuban itu dengan sangat kesal. Kau mulai mendengar rekaman suaraku dan tertawa. Jadi kuhentikan aksimu dan berkata "aku tahu, itu sangat buruk". Tapi kau berkata "ada 3 hal kenapa seseorang tertawa?". Jadi kutanya "Apa 3 hal itu?". Kau malah bertanya "Apa kau tidak tahu atau tidak pernah mendengarnya. Jadi kukatakan padamu "Aku tahu. Aku hanya bersikap seolah aku tidak tahu. Jadi katakan semua itu padaku". Kau bilang "Kenapa dari tadi kau selalu berpura-pura? Yang pertama adalah karena itu jelek. Yang kedua karena itu bagus" dan kulupakan satu hal lagi, karena dengan sigap aku berkata "juga karena terpaksa".

Kau mulai mengikutiku pulang. Bertanya-tanya dimana rumahku. Kukatakan padamu aku tidak suka daerah ini, karena ada penjilat wanita itu. Kutunjukkan padamu dimana rumah penyihir itu. Dan percakapan kita kembali mengacu ke Bagas. Kau bilang kau telah bertanya pada Bagas apa dia mengenalku. Dan telah kukira jawabannya. Dia bilang tidak. Jujur, aku kesal dengan sikapnya. Tapi semuanya seakan tak berarti.

Kita mulai berpisah di akhir jalan itu. Yang kupikirkan hanyalah Bagas. Bagaimana bisa dia berkata sekejam itu?. Malam pun tiba, dan kulihat bulan nampak pudar. Ingin kuceritakan padamu kegundahan bulan selama ini. Tapi tidur terlalu cepat dan membuatku kembali sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar