Sabtu, 14 Maret 2015

Penjilat Hanyalah Penjilat

Jadi beginikah caramu memperlakukanku, Tuhan? Seperti inikah dongeng yang akan Kau mulai? Seakan semua adalah kesalahanku. Seakan aku adalah penjahat dalam cerita gila ini. Harusnya kusadari semua tanda yang membawaku pada situasi ini.

Semua telah kuperjuangkan dengan sangat keras. Apa ini sesuatu yang layak Kau berikan padaku? Mungkin aku pendosa, tapi tidakkah Kau berpikir aku tidak akan mampu untuk semua ini? Bagaimana aku harus bersembunyi? Dimana lagi aku akan berlari?

Gadis itu selalu memendamnya. Seakan semua yang ada dihadapannya adalah musuh yang akan menusuknya diam-diam. Sangat sulit saat kita harus berperang dengan diri kita sendiri. Akan ada baiknya jika ada yang mempercayai semua ceritamu. Tapi tak ada pangeran yang seperti itu untukmu. Yang ada hanyalah pangeran Hans yang hanya akan memperdayamu.

Semua hilang dan pergi dari genggamanmu. Kau bisa berpura-pura baik-baik saja, tapi kau menangis dalam diam. Sangat tidak adil saat takdir membawamu ke neraka kedua. Gadis itu selalu berhati-hati dan mengontrol rasa takutnya. Semua orang akan bilang dia tidak waras karena selalu tertawa. Tapi jauh di dalam dirinya dia hanya ingin pergi ke tempat tak ada yang melihatnya.

Dia hanya berusaha memaafkan semuanya. Tapi kenapa waktu seakan ingin membunuhnya dengan cara yang seperti ini? Tidak ada yang berpihak padaku, atau setidaknya aku sadar diri. Entah seperti apa rumor itu akan mengembang. Sebagai penjilat, kau sangat ahli dalam membuat berita murahan.

Aku berperasaan setelah ini akulah sasaran selanjutnya. Mereka akan mengolok-ngolokku dan mungkin aku akan berpikir aku si wanita antipeluru. Mereka akan membakarku hidup-hidup dengan kalimat membara yang mereka lontarkan. Wanita ular itu akan selalu menyebarkan bisa nya. Dan apa yang bisa kulakukan? Aku sangat kecil, dan mereka pikir mereka besar dan bisa menendangku. Tuhan, Kau tahu aku sangat rapuh. Aku tidak punya siapapun yang bisa mendengar jeritanku. Tidak akan ada yang melihat tangisanku meski itu Ibuku.

Apa yang Kau harapkan dariku yang tak memiliki seorang Ayah? Kau telah mengambilnya, dan aku harus pulang sendirian sambil melihat semua Ayah menjemput anaknya. Ini adalah masa mudaku, tapi tak kupikir akan sesulit ini. Apa Kau ingin membuatku meminum obat-obat penenang itu, lalu mengirimku ke neraka jahanam? Aku tidak tahu sampai kapan ini akan bertahan. Tapi jika setan-setan ini membisikkan kejahatan dan pengingkaran terhadap-Mu, maka jangan salahkan aku yang memilih perintah mereka.

3 tahun yang lalu saat aku tidak bisa mengatasinya, dan aku menangis sepanjang malam. Kenapa sekarang saat semuanya bisa kukendalikan dengan usaha terkerasku, Kau malah membuatnya menjadi lebih rumit? Seperti drama yang tak pernah usai. Aku ingin menghilang jika aku bisa. Aku ingin bunuh diri jika itu tidak dosa. Aku butuh seseorang yang bisa menasehatiku. Tapi dari pada seperti itu, semua orang lebih banyak menjadi pembenciku.

Mungkin dia merasa cantik, memiliki segalanya, semua berpihak padanya. Tanpa dia tahu dia telah melakukan kesalahan terbesar. Pembenci hanyalah membenci. Penjilat hanyalah penjilat. Entah siapapun dia, kupikir aku takkan takut. Aku hanya akan bercerita pada tembok-tembok ini dengan setiap tetesan mata yang menjadi sungai.

Aku akan tersenyum dengan permainan yang selalu Kau ubah aturannya, Tuhan. Akan kutemukan akhir bahagiaku, meski Kau sangat menolak keras. Aku akan selalu bersujud pada-Mu meski kau tak pernah merestui kebahagiaan yang selalu kuimpikan. Aku akan selalu bersyukur pada-Mu telah memberiku kehidupan yang begitu sulit. Aku tak butuh karma untuk penyihir itu. Aku akan menutup mata dan telinga. Aku akan berjalan di jalanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar