Sabtu, 07 Maret 2015

Pikirkan!

Ingatkan aku betapa keras kau mencuriku dari kerumunan ini. Aku bahkan lupa bagaimana kita kenal. Dan kau bilang padaku bahwa dua tahun lalu kita pernah berkenalan. Teman-temanku merasa aku sudah tidak waras. Dan kau ceritakan padaku bagaimana temanmu berkata kau tidak normal. Hidup membuat cinta menjadi sulit. Tapi pemegang kendali adalah kau dan aku.

Kau meneleponku. Dua kali kujawab, dan tujuh yang lainnya kubiarkan. Temanku bilang aku sangat gila. Kita bercanda sampai aku ingin mual. Kau buat aku menyanyi lagu jatuh cinta. Dan sekejap aku mulai melupakannya meski tak setepat itu.

Ingatkan aku bagaimana kau memaksa untuk bertemu. Kau tidak tepat waktu, dan aku terus menunggu. Kau mengirimiku pesan yang berisi betapa malunya dirimu. Kau bilang kau hanya melihat diriku di jalan ini, dan aku bahkan tak melihat siapa-siapa. Aku mencari seperti orang gila yang tersesat, dan aku merasa kau membelakangiku. Jadi ku hampiri kau dan tersenyum padamu. Kau melaju dengan jaket biru dan motor putihmu dengan tas yang kau pikul.

Di tempat ini, saat pemilik warnet tak mengizinkan kita duduk di satu ruang. Kau duduk di sebelah kiriku dengan wajah yang mendongak ke layarku. Hanya di pisahkan sebuah papan kayu. Kita saling berbincang dan kusempatkan untuk mengusirmu. Kencan pertama yang gila. Ku suruh kau untuk segera pergi, karena aku begitu malu dengan semua pandangan mereka. Tapi, kau meminta bukuku, jadi kulemparkan padamu. Kau ingin tahu tulisanku, dan meminta melihat ponselku.

Kau bilang jangan terlalu serius. Tak kau kembalikan buku dan aku harus menjangkau tanganmu yang panjang. Kutunjuk layarku dan bilang padamu "Untukmu yang punya jerawat". Kau mulai mengamati wajahku, dan melihat tahi lalat di pipiku. Kita sama-sama gila. Aku mulai bicara tentang Bagas. Dan kau menuduhku menyukainya. Entah apa yang terjadi di hari esok, aku hanya ingin memperbaikinya sebelum benar-benar terlambat.

Jadi inilah yang terjadi saat kau bilang akan ada hujan. Aku menunggu pulang dengan suara petir yang bernyanyi untukku. Kita ditempatkan di tempat yang berbeda. Dan kurasakan aku juga rindu padamu. Seperti terkena kutukan, aku benar-benar merasa sendirian saat kau tak ada. Tak ada yang bisa mendengarku, dan tak ada yang bisa kudengar. Jadi, kupasang headsheat dan menerima semua pesanmu dengan panggilan sayang.

Sungguh setengah jam yang gila. Bahkan belum sehari, tapi kau membuat kenangan begitu banyak. Aku mulai khawatir bagaimana ini akan berakhir. Akankah aku merindukan semuanya? Meski aku masih belum bisa menyukaimu, tapi aku sangat merasa aku membutuhkanmu di setiap waktu.

Kukeluhkan semuanya padamu. Dan aku merasa seakan kita telah kenal lama sebelum ini. Aku terus berpikir bagaimana cinta menjadikan semua orang menjadi gila. Karena yang kuketahui sekarang adalah diriku menjadi bodoh, tuli, buta, dan tak memikirkan apapun selain dirimu.

Mungkin aku tak akan secepat itu terpikat. Orang yang mencintaiku cenderung kutinggalkan. Dan orang yang membenciku cenderung kuharapkan. Jadi, bagaimana akhir semua ini? Apa akan menjadi akhir yang bahagia atau hanya sebuah tragedi? Pikirkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar