Inilah hal tersulit saat aku harus berpaling. Kau
terlalu banyak membisu, dan itu cukup membuatku muak untuk beberapa kali. Aku
tak peduli, tapi sampai saat ini aku masih menyukaimu.
Seperti bayangan yang selalu mengikutiku saat aku bersamanya. Kau seperti angin yang selalu muncul saat aku berusaha keras untuk berkendara cepat. Maka akan kututupi setiap sisi wajahku untuk tak merasakan hembusanmu.
Jangan bertingkah lagi, ini adalah hari pertama saat aku harus menghancurkan impian terbesarku bersamamu. Disinilah mataku saat melihat kau bercanda bersama dua gadis itu. Aku berpikir aku telah kehilangan akalku saat kuputar kembali saat aku menangis untukmu dalam diam.
Aku tahu kau takkan pernah bertindak selayaknya pemain. Jadi akan kumulai semua ini dan mencari karma yang akan menjatuhiku hukuman. Tak perlu kau mencoba mendekat lalu menjauh, karena aku merasa ini cukup bagiku. Setiap melihatmu adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.
Semua orang tahu jika tak seharusnya aku mencintaimu pada cara yang seperti ini. Dia meneleponku berkali-kali, dan aku merasa telah menyakitimu. Mungkin ini hanya rasa percaya diriku yang terlalu tinggi, tapi perasaanku terluka seakan kau juga. Ini hanyalah ilusi terbesarku, dan akan kubuat semuanya lebih jelas hari ini.
Aku merasa nyaman dengannya. Tapi pikiranku selalu melintas pada gambaran wajahmu. Kutemukan diriku yang patah hati. Kunyanyikan lagu patah hati lagi untukmu. Kau takkan pernah mengetahui kebenaran dari kebohonganku. Hidup adalah cara seseorang untuk berdusta, tapi tak kusadari aku berjalan sejauh ini.
Entah setan mana yang mencoba merasukiku. Membuat kedua malaikat yang ada di kanan dan kiriku merasa iba padaku. Mungkin ini hanyalah kesakitanku. Berharap demam ini segera sembuh. Mencoba tetap fokus, tapi bisikan gaib itu mengantarkanku padamu. Pertama, harapanku sebesar bumi ini. Tapi saat kau datang, kau hanya menjadi meteor yang memasuki wilayah lebih dalam dari diriku yang kusebut dengan hati. Kau buatkan banyak pelangi di malam hari. Tapi kau buatkan aku sebuah teriakan petir di pagi hari.
Inilah dilemaku. Sebelumnya aku tak pernah membiarkanmu menjelajahi lebih dalam pikiranku. Tapi yang sudah terjadi, harus kau terima. Kini setiap melihatmu, aku merasakan kembali hatiku yang patah. Dan mungkin kau tak tahu, dan memang kusarankan untuk tidak. Tapi saat aku memikirkanmu, kuharap aku akan selalu tahu tentang alasanku tuk tinggalkan semua ini.
Seperti bayangan yang selalu mengikutiku saat aku bersamanya. Kau seperti angin yang selalu muncul saat aku berusaha keras untuk berkendara cepat. Maka akan kututupi setiap sisi wajahku untuk tak merasakan hembusanmu.
Jangan bertingkah lagi, ini adalah hari pertama saat aku harus menghancurkan impian terbesarku bersamamu. Disinilah mataku saat melihat kau bercanda bersama dua gadis itu. Aku berpikir aku telah kehilangan akalku saat kuputar kembali saat aku menangis untukmu dalam diam.
Aku tahu kau takkan pernah bertindak selayaknya pemain. Jadi akan kumulai semua ini dan mencari karma yang akan menjatuhiku hukuman. Tak perlu kau mencoba mendekat lalu menjauh, karena aku merasa ini cukup bagiku. Setiap melihatmu adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.
Semua orang tahu jika tak seharusnya aku mencintaimu pada cara yang seperti ini. Dia meneleponku berkali-kali, dan aku merasa telah menyakitimu. Mungkin ini hanya rasa percaya diriku yang terlalu tinggi, tapi perasaanku terluka seakan kau juga. Ini hanyalah ilusi terbesarku, dan akan kubuat semuanya lebih jelas hari ini.
Aku merasa nyaman dengannya. Tapi pikiranku selalu melintas pada gambaran wajahmu. Kutemukan diriku yang patah hati. Kunyanyikan lagu patah hati lagi untukmu. Kau takkan pernah mengetahui kebenaran dari kebohonganku. Hidup adalah cara seseorang untuk berdusta, tapi tak kusadari aku berjalan sejauh ini.
Entah setan mana yang mencoba merasukiku. Membuat kedua malaikat yang ada di kanan dan kiriku merasa iba padaku. Mungkin ini hanyalah kesakitanku. Berharap demam ini segera sembuh. Mencoba tetap fokus, tapi bisikan gaib itu mengantarkanku padamu. Pertama, harapanku sebesar bumi ini. Tapi saat kau datang, kau hanya menjadi meteor yang memasuki wilayah lebih dalam dari diriku yang kusebut dengan hati. Kau buatkan banyak pelangi di malam hari. Tapi kau buatkan aku sebuah teriakan petir di pagi hari.
Inilah dilemaku. Sebelumnya aku tak pernah membiarkanmu menjelajahi lebih dalam pikiranku. Tapi yang sudah terjadi, harus kau terima. Kini setiap melihatmu, aku merasakan kembali hatiku yang patah. Dan mungkin kau tak tahu, dan memang kusarankan untuk tidak. Tapi saat aku memikirkanmu, kuharap aku akan selalu tahu tentang alasanku tuk tinggalkan semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar