Di hari sabtu saat semuanya membuatku semakin sibuk,
ku luangkan waktuku untukmu. Di tempat yang membuatku menjadi gila, dan aku
duduk disana sambil menunggumu. Selalu tidak tepat waktu. Di rumah aku bertaruh
bahwa kali ini aku yang terlambat. Tapi mungkin ketertarikan mu tidak sebesar
itu.
Kau datang dengan jaket biru. Dengan tinggi yang menjulang kau membawa helm ku ke motormu. Kita berjalan sambil berbincang. Ini pertama kalinya aku langsung merasa akrab. Atau mungkin karena aku sudah bertambah dewasa? Jalan raya seakan menjadi saksi perasaanku mulai tumbuh.
Kita memasuki monumen itu. Kenapa harus melihat sejarah orang lain, jika kita bisa membuat sejarah kita sendiri? Kau membayar tiket dan kita masuk. Kau merapikan rambutku dengan alasan "berantakan". Tempat yang sepi dan kita saling tertawa. Kubilang padamu "sangat menyenangkan, jika ini adalah studio".Kau tawarkan aku naik eskalator dan bilang "Tapi itu sangat lambat". Aku melihatmu tajam dan menjawab "Sama sepertimu. Sangat lambat"
Kau mulai menggangguku. Meminta foto, dan kusuruh kau untuk mengabadikannya dengan patung saja daripada denganku. Kau mulai menaruh tanganmu di bahuku. Pada percobaan pertama itu tidak berhasil. Di waktu selanjutnya tampaknya ini seperti kencan. Kita mulai tertawa dan kau selalu mencubit pipiku saat aku berkata kejam.
Kau menyuruhku mengartikan bahasa inggris itu untukmu. Kau menunjukkan kertas terjemahannya, dan menyuruhku menceritakannya dalam bahasa jawa. Ini sangat gila, tapi aku menikmatinya. Jadi, disanalah kita saat berpose. Semua terlihat lama saat kau selalu salah menekan tombol. Di patung pahlawan itu, kau menyuruhku mendekat. Aku mengambil langkah seperti kepiting menuju arahmu. Ini sangat lucu, dan kupikir kita lah pasangan teraneh.
Kita duduk di tengah panasnya matahari. Kau mengambil buku mu dan menyuruhku mengajarimu bahasa inggris. Aku mulai membolak-balik halaman, dan yang kau lakukan hanyalah menggeser rambutku ke telingaku. Kau bilang aku selalu tertawa. Kata yang sama yang pernah dilontarkan orang yang kukagumi. Jadi aku bilang padamu "Apa itu salah?". Dan kau bilang "Tidak. Tertawa adalah ibadah. Aku menyukainya"
Jadi kita mulai pergi ke tempat parkir motormu. Tapi ditengah jalan kau bertemu dengan temanmu, dan dia juga mengenalku. Kita seperti pendosa yang berdusta. Kau selalu bilang "apa salahnya jika semua orang tahu tentang kita?". Tapi yang kini kau lakukan hanyalah bersembunyi seperti seorang pengecut. Jadi, beginilah kita saat harus berpura-pura jalan sendiri. Aku berdiri di tepi jalan sampai temanmu menyapaku "Kak. Ngapain?". Dan sesuatu yang kutunggu mulai tiba. Dia mulai mencium aroma kita dan menemukanmu di kerumunan tanaman itu. Kata-kata yang sama "Ngapain?". Sampai rasanya aku ingin jatuh karena tertawa.
Setelah tragedi itu kita lalui, kau mulai lebih mengenalku. Kau bilang aku suka bilang "terserah" dan selalu menggantungkan kata-kata. Kau selalu bertanya plat motor padaku. Dan jujur aku tidak tertarik. Tapi itu tidak masalah bagimu, saat aku seperti orang bodoh yang tidak tahu.
Kau membelikanku minuman dan kita pergi pulang. Di perjalanan yang sangat panjang kita saling bercakap. Bahkan saat mengemudi kau masih sempat mencubit pipiku. Kau bilang kau adalah pengemudi yang buruk. Dan kubilang padamu aku pernah dua kali kecelakaan karena rem mendadak. Kau membeli bensin dan bertanya plat nomor lagi. Kau bilang kau penggemar motor.
Kubilang padamu untuk tetap fokus dan berhati-hati. Aku mulai bertanya "Apa hobimu?". Kau jawab "hobiku mencintaimu". "Kau suka futsal atau voli?". Kau bilang "voli". Aku jawab "Bukan tipeku. Kenapa kau tidak suka futsal?". Kau bilang "Tidak apa-apa. Aku tidak suka saja". Aku bertanya lagi "lalu bagaimana dengan badmintoon?". Kau bilang "Ya. Kau suka". "bagaimana dengan musik? Metal? Linkin park atau avenged sevenfold?". Kau bilang "Avenged Sevenfold". Kita mulai berdebat, kau bilang linkin park itu lagunya tidak enak. Lalu aku bertanya lagi "Bagaimana dengan greenday?". Ya. Kau suka.
Kau bertanya dimana rumahku. Ku pancing dengan menjawab "Tanya ke Bagas." kau mulai curiga pada semuanya. Tapi aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan semua jalan ditutup. Mengharuskan kita berputar arah. Kau tunjukkan rumahmu padaku. Kau bilang ini adalah hari terbahagiamu. Aku bilang "pembohong. Bagaimana dengan mantanmu?". Kau jawab "Memang jalan. Tapi tidak sedekat ini."
Kau antarkan aku pulang. Dengan berat hati aku turun. Kau pergi dan akupun begitu. Hari yang melelahkan saat aku harus berbohong pada ibuku. Tapi yang tidak kutahu adalah setiap kau memaksa, selalu kulakukan.
Malam hari, dan kuceritakan semuanya padamu. Tentang kebiasaan burukku, masa laluku, dan kegilaanku. Kupikir ini saatnya kau harus mengerti. Kuceritakan Bagas adalah mantan sahabatku. Dan entah kenapa sepertinya kau merasa cemburu. Jadi kau berikan aku tiga pertanyaan. Kau menyuruhku menjawab siapa yang akan kupilih "Kau atau Bagas?". Aku bilang "Aku tidak bisa memilih salah satu dari pacar atau sahabat". Jadi aku mulai bercanda denganmu dan bilang "Aku lebih memilih softlens."
Kau mulai meragukan semuanya. Dan memberiku pilihan antara menjadi teman, adik-kakak, atau kekasih. Jadi kubilang "I think I love you. Don't you know?". Dan kau mulai mengambil strategi seperti Bagas. Pura-pura ke desa untuk menarik perhatianku. Sungguh ini sangat kekanak-kanakan. Tapi menurutku ini sangat menyenangkan.
Kau datang dengan jaket biru. Dengan tinggi yang menjulang kau membawa helm ku ke motormu. Kita berjalan sambil berbincang. Ini pertama kalinya aku langsung merasa akrab. Atau mungkin karena aku sudah bertambah dewasa? Jalan raya seakan menjadi saksi perasaanku mulai tumbuh.
Kita memasuki monumen itu. Kenapa harus melihat sejarah orang lain, jika kita bisa membuat sejarah kita sendiri? Kau membayar tiket dan kita masuk. Kau merapikan rambutku dengan alasan "berantakan". Tempat yang sepi dan kita saling tertawa. Kubilang padamu "sangat menyenangkan, jika ini adalah studio".Kau tawarkan aku naik eskalator dan bilang "Tapi itu sangat lambat". Aku melihatmu tajam dan menjawab "Sama sepertimu. Sangat lambat"
Kau mulai menggangguku. Meminta foto, dan kusuruh kau untuk mengabadikannya dengan patung saja daripada denganku. Kau mulai menaruh tanganmu di bahuku. Pada percobaan pertama itu tidak berhasil. Di waktu selanjutnya tampaknya ini seperti kencan. Kita mulai tertawa dan kau selalu mencubit pipiku saat aku berkata kejam.
Kau menyuruhku mengartikan bahasa inggris itu untukmu. Kau menunjukkan kertas terjemahannya, dan menyuruhku menceritakannya dalam bahasa jawa. Ini sangat gila, tapi aku menikmatinya. Jadi, disanalah kita saat berpose. Semua terlihat lama saat kau selalu salah menekan tombol. Di patung pahlawan itu, kau menyuruhku mendekat. Aku mengambil langkah seperti kepiting menuju arahmu. Ini sangat lucu, dan kupikir kita lah pasangan teraneh.
Kita duduk di tengah panasnya matahari. Kau mengambil buku mu dan menyuruhku mengajarimu bahasa inggris. Aku mulai membolak-balik halaman, dan yang kau lakukan hanyalah menggeser rambutku ke telingaku. Kau bilang aku selalu tertawa. Kata yang sama yang pernah dilontarkan orang yang kukagumi. Jadi aku bilang padamu "Apa itu salah?". Dan kau bilang "Tidak. Tertawa adalah ibadah. Aku menyukainya"
Jadi kita mulai pergi ke tempat parkir motormu. Tapi ditengah jalan kau bertemu dengan temanmu, dan dia juga mengenalku. Kita seperti pendosa yang berdusta. Kau selalu bilang "apa salahnya jika semua orang tahu tentang kita?". Tapi yang kini kau lakukan hanyalah bersembunyi seperti seorang pengecut. Jadi, beginilah kita saat harus berpura-pura jalan sendiri. Aku berdiri di tepi jalan sampai temanmu menyapaku "Kak. Ngapain?". Dan sesuatu yang kutunggu mulai tiba. Dia mulai mencium aroma kita dan menemukanmu di kerumunan tanaman itu. Kata-kata yang sama "Ngapain?". Sampai rasanya aku ingin jatuh karena tertawa.
Setelah tragedi itu kita lalui, kau mulai lebih mengenalku. Kau bilang aku suka bilang "terserah" dan selalu menggantungkan kata-kata. Kau selalu bertanya plat motor padaku. Dan jujur aku tidak tertarik. Tapi itu tidak masalah bagimu, saat aku seperti orang bodoh yang tidak tahu.
Kau membelikanku minuman dan kita pergi pulang. Di perjalanan yang sangat panjang kita saling bercakap. Bahkan saat mengemudi kau masih sempat mencubit pipiku. Kau bilang kau adalah pengemudi yang buruk. Dan kubilang padamu aku pernah dua kali kecelakaan karena rem mendadak. Kau membeli bensin dan bertanya plat nomor lagi. Kau bilang kau penggemar motor.
Kubilang padamu untuk tetap fokus dan berhati-hati. Aku mulai bertanya "Apa hobimu?". Kau jawab "hobiku mencintaimu". "Kau suka futsal atau voli?". Kau bilang "voli". Aku jawab "Bukan tipeku. Kenapa kau tidak suka futsal?". Kau bilang "Tidak apa-apa. Aku tidak suka saja". Aku bertanya lagi "lalu bagaimana dengan badmintoon?". Kau bilang "Ya. Kau suka". "bagaimana dengan musik? Metal? Linkin park atau avenged sevenfold?". Kau bilang "Avenged Sevenfold". Kita mulai berdebat, kau bilang linkin park itu lagunya tidak enak. Lalu aku bertanya lagi "Bagaimana dengan greenday?". Ya. Kau suka.
Kau bertanya dimana rumahku. Ku pancing dengan menjawab "Tanya ke Bagas." kau mulai curiga pada semuanya. Tapi aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan semua jalan ditutup. Mengharuskan kita berputar arah. Kau tunjukkan rumahmu padaku. Kau bilang ini adalah hari terbahagiamu. Aku bilang "pembohong. Bagaimana dengan mantanmu?". Kau jawab "Memang jalan. Tapi tidak sedekat ini."
Kau antarkan aku pulang. Dengan berat hati aku turun. Kau pergi dan akupun begitu. Hari yang melelahkan saat aku harus berbohong pada ibuku. Tapi yang tidak kutahu adalah setiap kau memaksa, selalu kulakukan.
Malam hari, dan kuceritakan semuanya padamu. Tentang kebiasaan burukku, masa laluku, dan kegilaanku. Kupikir ini saatnya kau harus mengerti. Kuceritakan Bagas adalah mantan sahabatku. Dan entah kenapa sepertinya kau merasa cemburu. Jadi kau berikan aku tiga pertanyaan. Kau menyuruhku menjawab siapa yang akan kupilih "Kau atau Bagas?". Aku bilang "Aku tidak bisa memilih salah satu dari pacar atau sahabat". Jadi aku mulai bercanda denganmu dan bilang "Aku lebih memilih softlens."
Kau mulai meragukan semuanya. Dan memberiku pilihan antara menjadi teman, adik-kakak, atau kekasih. Jadi kubilang "I think I love you. Don't you know?". Dan kau mulai mengambil strategi seperti Bagas. Pura-pura ke desa untuk menarik perhatianku. Sungguh ini sangat kekanak-kanakan. Tapi menurutku ini sangat menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar