Berjalan cepat, kau di belakangku. Andai kau tahu, aku mencoba keras untuk tak melihatmu. Seperti sebuah pukulan drum yang keras di dalam keheningan, membuatku terkejut dan gugup. Rabu pagi saat menjadi hari pertamaku. Saat kita tak mendapat kursi, saat lengan kita saling menempel. Andai kau tahu, jantungku berdegup kencang. Apa kau tidak?
Mencoba tak tertangkap sekarang. Mencoba tak terjerat pada cinta murahan. Tapi kau sangat dingin dan membuatku menggigil. Bermimpi kau mendoakanku saat aku sakit. Dan selasa pagi, kau terlihat tampan dengan baju putih itu.
Mencoba membuat cerita yang indah di dalam lamunan panjangku. Mencari cerita tentangmu dalam daftar laguku. Seperti sihir yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Seperti sebuah kelumpuhan yang menyenangkan.
Aku tak pernah menyapa orang yang kusuka. Dan aku benar-benar tak peduli padanya. Ada beberapa alasan yang membuatku seperti itu. Pertama, karena aku hanya menjaga harga diriku. Atau kedua, karena aku ingin membunuh perasaan itu.
Dan mereka mulai menceritakan fabelnya padaku. Tentang kucing yang sangat jahat dengan mata coklatnya. Mereka tak menyangka bahwa kau sangat tidak berperikemanusiaan. Mengejek seseorang, dan kau tahu dia temanku. Itu seperti penghantar tidur yang sangat buruk. Membuatku sedikit demi sedikit membencimu.
Jumat pagi, seperti semuanya adalah keberuntunganku. Melihat si gendut , dan si pangeran jahat itu mendapatkan karmanya. Sebuah sebuah tontonan yang lucu. Dan tibalah saat kau maju, push up dengan gayamu, dijadikan lelucon, dihargai kemampuan membuat anak. Seperti sebuah mimpi, saat aku terjaga dari 12 jam tidur. Benar-benar gila dan sangat omong kosong.
Tapi siang itu, kita membuat pasta. Makanan yang kusuka meski aku tak pernah masak. Bertemu dengan kakak kelas itu, dan itu seperti aku terjebak dalam dua hal. Dongeng yang indah untuk minggu yang menyebalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar