Senin, 02 Februari 2015

Peran Palsu


Jadi duduklah disana sambil menangis. Bermula saat iblis-iblisku ingin mengejarmu. Harusnya kutahu kau adalah masalah dari awal kita bertemu. Berpikir pintar dan merasa memiliki segalanya. Tidakkah kau tahu tentang siapa yang sedang kau ajak untuk bertaruh?

Aku tak peduli dengan siapa dirimu. Tapi, tidakkah kau mengerti siapa yang sedang kau ajak bermusuh? Cobalah berpikir tentang semua tanda kegilaan ini. Kupikir, harusnya aku bersikap lebih dewasa. Tapi kupikir, tidak untuk kali ini.

Mari ku ceritakan padamu tentang sebuah kecurangan yang memang tepat disebut seperti itu. Seseorang mengatakan dirinya tak butuh, tapi diam-diam melakukannya di belakang. Apa kau masih berpikir tentang keadilan? Apa kau sedang berpikir bahwa aku tidak waras karena memakimu disini?

Kau bisa mendapat nilai 4, jika kau merasa begitu. Tapi tidakkah kau berpikir bahwa semua itu adalah peran palsu? Haruskah ku suruh dirimu untuk melihat kearah kaca itu? Pemeran pengganti hanya disanjung saat pemeran utama pergi. Tidakkah kau merasa seperti itu?

Haruskah kau menendangku saat aku tak pernah mencoba menendangmu? Sangat menyedihkan, saat aku mencoba tetap tenang untuk gadis jahat sepertimu. Pergilah sejauh yang kau bisa. Karena saat kau menancapkan pisau itu lagi, aku akan menjadi masalah terbesar untukmu.

Lihatlah, kau tak sebaik itu! Dan aku tak pernah seburuk itu! Tidakkah kau lihat kepolosanmu itu telah hilang? Bisa kulihat kau bermain, bertaruh, dan jatuh cinta. Apa kau tak pernah diajarkan sopan santun oleh ayahmu itu?

Haruskah ku dongengkan kau tentang penyihir jahat yang berpura baik? Atau haruskah ku biarkan kau melihat segala sisi burukmu? Kau hanya peran antagonis yang takkan pernah menang. Aku punya 98 musuh, dan aku cukup malas untuk menulis mu pada daftarku. Larilah secepat yang kau bisa!

Mulailah berpikir sekarang! Kau tak pernah menjadi baik. Kau hanyalah musuh berparas teman. Haruskah kuceritakan padamu tentang ritme didalam hatiku yang seperti sebuah dentuman drum?

Jadi inilah pembalasan itu. Takkan ada gaun yang memberikanmu kehormatan. Perang ini bukanlah untukmu. Jadi berpikirlah! Tetaplah menjauh! Apa dulu aku terlihat kekanak-kanakan, saat aku menolak membencimu? Haruskah kuakhiri semuanya sekarang? Dan membiarkan mu mengetahui kemunafikanmu?

Berhati-hatilah dengan tatapan ini! Aku bisa menerkammu seperti seekor binatang. Menyenangkan bukan, saat kau menyalahkan orang yang tak bersalah? Jadi, menjauhlah! Karena saat suaramu bisa kudengar, saat darahmu tercium dengan nikmat, aku akan memangsamu secepat yang kubisa.

Akan kuakhiri anggapan bahwa kau baik. Segala omong kosong itu akan segera kumusnahkan. Takkan ada minuman yang akan melegakan dahagamu. Dan takkan ada makanan yang mengenyangkanku. Jadi lihatlah apa yang telah kau lakukan! Segera kau akan mengetahui pembalasan kecilku ini. Jadi sebelum aku merencanakan sesuatu, ENYAHLAH!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar