Terbangun dari mimpi, kini kupikirkan segalanya. Dulu aku sangat gila dan bodoh, tapi hari ini aku merasa baik-baik saja. Satu tahun yang lalu aku telah terjerat pada lubang kehancuran, tapi kini aku merasa baik.
Semua kenangan menggumpal menjadi sebuah teriakan yang menggema di telingaku. Tapi malam ini, aku merasa sembuh. Kejadian itu berputar-putar di kepalaku, seperti bisikan iblis yang menjerumuskanku. Sakit itu telah lama pergi. Dan gadis itu telah lama bereinkarnasi. Di setiap lingkungan, di setiap tahun berganti, dia tak lagi menjadi dirinya.
Dia bahkan tak peduli tentang seberapa jauh rumor itu menyebar. Yang dia ketahui adalah kini dia bisa melupakannya dengan baik. Bahkan sangat baik untuk seusia dirinya. Semua lukanya menjadi sebuah kewaspadaan yang besar terhadap dunia.
Dia ketakutan dan mencari tempat sembunyi. Setiap wajah seperti musuh-musuhnya di masa lalu. Tak berani melangkah ke depan, dan takkan melangkah mundur ke belakang. Seperti suatu hal yang sangat menggantung.
Gadis itu ingat bagaimana keadaannya saat itu. Frustasi, depresi, menjadi de javu dalam satu waktu. Diperlakukan tidak baik, ditempatkan di tempat yang salah, itu adalah hal biasa untuknya sekarang. Hatinya terlalu kebal untuk itu sekarang.
Dan gadis itu adalah aku. Aku yang tidak pernah tahu namaku. Aku yang tidak pernah tahu tujuanku. Aku yang tidak pernah tahu siapa temanku. Berusaha tak menggali apapun, karena aku merasa baik sekarang. Dia menangis saat gurunya mengucapkan hal yang sama, seperti orang yang ada di hidupnya beberapa tahun yang lalu. "Kau hanya tak punya niat", suatu kata yang membawa ku kembali ke neraka itu. Tapi mereka tak tahu, dan takkan pernah tahu. Dia hanya melihat bagaimana aku menangis, bukan melihat kenapa aku menangis.
Tahun akan selalu berganti. Dan aku yakin sesuatu yang baik akan terjadi. Berpikir tentang cinta, membuatku sangat mual. Tapi sangat menyenangkan saat aku bisa masuk ke dalam fantasiku. Aku tak ingin percaya pada siapapun. Aku tak bisa terlalu senang untuk hal yang membahagiakan. Aku hanya mencoba berhati-hati, walau entah sampai kapan. Aku mulai berpikir, pria itu akan mengerti. Tapi sedetik kemudian, ku pikir tidak.
Jadi inilah aku. Tak bisa berpikir tentang kebahagiaan. Hanya berpikir tentang luka dan cara menanganinya. Mencoba mencari seseorang yang bisa membuatku bercerita kepadanya. Tapi kupikir, itu sangat mustahil!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar