Itu terlalu pagi untuk sebuah perdebatan. Dan aku berpikir tak pernah melakukannya. Itu hanya sebuah kiriman yang kulakukan pada semuanya. Tapi kau menanggapinya dengan cara berlebihan.
Kau pun datang memperkenalkan diri. Dan aku menjawab "Senang mengenalmu". Tak sampai di situ, dan aku mulai tahu tentang sesuatu nyata yang tak pernah ku tahu. Kau masih di menengah pertama, dan kau banyak meminta seperti mantan teman yang pernah ku punya.
Kau tanyakan gambarku, dan aku mengirimkannya padamu. Dan kupikir saat ini ku tahu, bahwa dulu aku juga begitu. Menggebu-gebu, tak pernah berpikir, dan terlalu banyak meminta. Merasa terkejut karena kau meminta nomerku. Kau mengirimkan banyak pesan, saat ada di jam sekolahku. Aku berpikir mungkin kau gila, tapi mungkin aku dulu seperti itu.
Kudapatkan kau kini bersama dia. Gambar yang mungkin sedang kau pamerkan kepada semuanya. Begitulah para remaja. Tak mengenal akal dan bertindak gila. Kau belum berpikir dewasa dan aku merasa lebih tua.
Mungkin kau belum pernah merasakan luka. Atau mungkin kau hanya sedang menunjukkan kepadanya. Aku dengar, pria memang sangatlah kekanak-kanakan. Tapi tak kukira, kau adalah salah satunya. Kau hidup di sebuah vila, dan kau menertawakan pesanku. Kau mengerti bahasa jawa, dan inilah kesialaanku. Kau mulai menghilang dan akupun begitu.
Ini jam 6.36 malam, dan aku mulai mengerti segalanya. Kau hanya berpikir mendapatkan seseorang tanpa harus mengerti cinta. Rasa suka yang kau sebut cinta, cinta yang kau sebut benci, dan bergitu seterusnya. Dan suatu hari, gadismu mulai tak mempercayaimu. Dia bilang kau mulai tak memperhatikan dirinya. Dan suatu waktu, kau merasa kehilangan dia. Kau bisa terpuruk dan menganggap semuanya hal buruk. Dan seperti itulah cinta membuat dirimu dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar