Di barisan penumpang, saat kau menyapaku. Kau selalu bisa membuatku berlutut. Telah ku bukakan kau pintu, tapi kau malah mengusirku keluar dan menguncinya. Banyak kekacauan saat aku bersamamu. Matamu yang liar, telah lama meracuniku.
Kau bisa melakukan apa yang kulakukan. Membuka tanganmu dan menerima tetesan hujan. Berjalan pergi dan kembali. Tersenyum manis dan menangis. Jatuh bersamamu adalah ketidak warasanku. Lagu yang kusuka takkan pernah kau dengar. Suaraku bahkan tak menjadi daftar kesukaanmu. Tapi ada saat nya kau harus menyanyikan lagu tentangku.
Ingatkan aku tentang apa yang terjadi. Kau bilang kau inginkan aku. Tapi kau pergi dan menjadi seorang banci. Aku bukanlah satu-satunya untukmu. Dan kau hanyalah penyihir yang menjelma menjadi seorang pangeran berkuda putih.
Berdiri seperti hantu dan mulai membuatku mabuk. Bernyanyilah dengan gitar mu itu tentang ketidakpedulianku terhadapmu. Hidup hanyalah sebatas pura-pura. Dan kau melakukannya dengan begitu baik. Katakan padaku tentang apa yang kau rencanakan dulu.
Kau kehilangan permainanmu, dan aku kehilangan diriku yang dulu. Dan begitulah aturannya. Kau selalu menang, dan aku selalu kalah. Kau adalah api yang benar-benar membakarku. Pasti barisan mantanmu sangatlah banyak. Dan hubungan kita mengalir dengan buruk. Aku tak yakin bisa menghadapinya.
Kau melakukannya dengan baik. Sedangkan aku kehilangan akalku dan mulai melupakan peranku dalam drama ini. Ingatkan aku bahwa cinta ini dulu sangat gila dan menggebu-gebu. Dan aku takkan berpikir bahwa ini hanyalah masa lalu. Meski waktu takkan berputar terbalik, tapi kau lah satu-satunya kesakitan disini. Maaf takkan pernah cukup. Kau tinggalkan banyak ketakutan yang mendalam. Dan aku mulai tak berhasrat pada cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar