Selasa, 16 Desember 2014

Apa Mungkin?


Gerbang yang sudah ditutup pasti akan tetap tertutup. Tak ada celah untukmu atau untuk yang lain. Aku rasa, aku membenci bulan ini. Banyak orang yang membuat emosiku meningkat.

Suasana hatiku tak bisa tenang sedikitpun. Hujan turun dan aku terus menatap jalan di luar itu. Bahagia, terluka, merasakan sakit, kehilangan, lalu bertemu dengan orang baru lagi, itu adalah kesan terkejam dari takdir. Apa aku merasakannya lagi?

Seseorang berkata bahwa saat kau jatuh cinta bukan berarti kau harus merasakan debaran mu meningkat. Apa kalimat ini untukku? Saat kau di dekatku, aku merasa biasa saja. Tapi saat kau pergi dari penglihatanku, aku sangat gila.

Aku memasuki bangunan itu, dan aku berani bertaruh kau melihatku. Aku masuk karena ingin melihatmu. Tapi ini sangat menyebalkan karena kau harus pergi. Tak ada alasan untuk sekolah, jadi di hari berikutnya aku berdiam di rumah. Menatap keluar jendela, dan berpikir diriku sangat payah.

Membaca sinopsis drama semakin mengingatkanku padamu. Larut malam dan aku berbicara pada diriku sendiri. Mencoba menerka-nerka, apakah ini cinta? Aku merasa ini tidak adil. Karena dihari sabtu dan minggu aku sudah tidak bisa melihatmu. Bagaimana bisa 5 hari aku harus menunggu?

Jam 0.20 pagi, dan aku masih terjaga. Setiap menit, aku berpikir "apa dia sudah tidur?" atau "dia sedang melakukan aktivitas seperti jerit malam?" dan lebih gilanya, aku berpikir "apa mungkin dia sekamar dengan kakak itu?"

Melihat siang yang dipenuhi dengan mendung, aku bertanya pada dinding kamarku "apa disana juga hujan?" Jumat, aku masuk. Menyerahkan ijasah, skhu, lalu pulang. Sempat terjadi perbincangan dengan temanku. Dia bilang dia bermimpi ditembak teman kelas. Dia bilang di mimpi itu aku cemburu dan merasa iri. Aku tahu apa yang sedang dia bicarakan. Aku bilang padanya "Aku sama sekali tidak berniat dengan taksiranmu". Dan dia mengatakan "Sayangnya, pria itu sudah punya pacar". Omong kosong apa ini? Aku bahkan tak yakin itu sebuah fakta.

Kau membuatku menulis dengan cepat. Dan saat mencari kata kunci di media dengan sesuatu yang kutulis, yang muncul hanyalah sederetan puisi omong kosong tentang cinta. Kau sangat menganggu mediasiku. Aku berpikir jika debaran bukan satu-satunya gejala. Apakah bisa seseorang mencintai orang yang lain tanpa debaran yang kuat? Dia bilang cinta hanyalah sebuah tipuan hormon yang membuat detak jantungmu bertambah. Jadi apa sekarang aku tidak tertipu oleh hormon itu?

Lalu seperti apa cinta? Bagaimana cinta membuat hidup seseorang menyimpang? Penyakit seperti apa cinta? Virus, bakteri, jamur, atau apa? Apa cinta bisa membuat seseorang candu hingga membuatnya mati?

Sangat malas dikelas tanpa kau. Aku terus mencari sesuatu yang mengerikan. Aku terus mencari penjelasan tentang perasaanku. Anehnya, aku terus bertanya sampai aku frustasi dan merasa gila. Apa mungkin, aku menyukaimu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar