Minggu, 09 November 2014

Tak Ada Yang Abadi



Ingin berlari sejenak dari dunia yang menyakitkan ini. Mengusir segala awan gelap yang menyelimuti. Kadang, kita perlu untuk mengenang segala kenangan buruk. Akan ada saatnya kau merindukan rasa sakit yang telah lama hilang.

Tatapan tak menentu, pikiran memainkan perannya. Ada baiknya membandingkan kehidupan barumu dengan kehidupan lama yang telah kau tutup gerbangnya. Tak perlu memikirkan kegilaan cinta. Pikirkan saja bagaimana kau menangis setiap malam. Rasakan kembali perasaan tenggelam itu. Menangislah kembali dan rasakan emosi itu.

Semua orang selalu begitu. Membicarakan keburukan orang lain. Mengumpat, mencaci, dan memaki. Tertawa untuk sesuatu yang buruk, merasa dirinya besar dan berkuasa.

Kadang, kau memang perlu mengulangnya. Tutup matamu, dan biarkan memori itu muncul. Jujur saja, kau merindukannya meski itu sulit. Biarkan pembenci itu yang hanya membenci. Kupastikan, kau sedang merindukan teman-teman yang selalu ada untukmu saat dunia membencimu.

Tak ada yang abadi. Segalanya datang dan pergi begitu saja. Tanpa memikirkan luka yang telah dia tinggal. Tak peduli bagaimana kau terpuruk..

Entah topeng yang mana lagi yang akan kupakai. Kau merasa ingin pergi dan hidup sendirian. Jauh dari keramainan, jauh dari orang-orang jahat.

Dia berdiri disana dan bersinar. Dia adalah teman baikmu. Kau rindu kegilaannya. Kau rindu saat-saat kau menggodanya.

Hari ini kau sedang rindukan seseorang. Dan kau acuhkan segalanya demi menulis ini. Mulutmu tertutup rapat dan matamu bagaikan bunga yang layu. Hujan menyelimuti dan membawa kembali awan gelap itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar