Minggu, 09 November 2014

Harusnya Kau Disini



Harusnya kau disini. Melihatku tumbuh dan berkembang. Menasehatiku untuk lebih berhati hati terhadap dunia. Mereka bilang aku tak merindukanmu. Tapi di setiap detik aku merasa kehilangan. Bagaimana bisa kau pergi pada-Nya saat anakmu masih berada di kelas 5?

Harusnya sekarang kau ceritakan bagaimana kalian berdua bisa bertemu dan menjadi satu. Harusnya kau disini dan melihatku memergoki kalian dan kabur keatas. Kau ingat bagaimana kita mengambil gambar? Aku duduk disampingmu dan bergaya dengan polosnya. Kau ambil gambarku yang sedang memegang telepon bak bos yang sedang memarahi pegawainya. Biasanya kau duduk disitu dan kita berbincang saat aku pulang mengaji. Aku selalu meminta maaf kepada kalian setiap hari. Dan saat kalian berdua bertengkar aku akan menangis.

2 jam yang lalu aku masih tertawa. Tapi kini aku menangis dan memanggil lirih namamu. Aku tak pernah kesana karena aku tak ingin menangis lagi. Harusnya kau beritahu aku cara untuk tegar. Cara untuk tidak menangis lagi. Dan harusnya kau memintaku untuk tidak tumbuh agar aku tak bisa disakiti siapapun.

Langkah kaki itu berbunyi. Kau masuk dan memberi purut ayam kesukaanku. Aku membantu ibu dan kau pergi mengganti bajumu. Kau ajari aku cara main kartu dan aku selalu menang sejak itu. Setiap malam biasanya kita duduk di teras. Kalian berbicara dan aku melihat bintang. Aku melihat semua orang yang lewat menyapa kita.

Kau meminum obatmu dan meminta segelas air. Kau menulis di bukumu dan berkata kalau setelah kau tiada, aku boleh membacanya. Tapi meski begitu aku masih tidak tahu arti dari tulisan-tulisan arab yang kau ukir di buku tua itu. Kau mencoba memajang foto di bingkai dengan tema yang aneh. Tapi aku tetap menyukainya. Kau tahu? Aku selalu iri melihat temanku di jemput ayahnya. Melihat mereka tertawa membuatku menghela napas tuk menguatkan diri. Melihat mereka dipukuli, aku malah ingin merasakannya,

Saat kau pergi, saat itu aku berlatih untuk menjadi pembawa acara. Lalu saudara kita menjemputku dan tanpa mengatakan apapun aku disuruh pulang. Kukayuh sepeda itu dan menyusuri gang belakang. Ada seseorang menunjukku dan mengatakan rasa kasihannya padaku. Dan mereka bilang bahwa kau telah tiada. Telah pergi selamanya. Aku merasa bingung dan lebih cepat mengayuh. Kutemukan banyak orang di luar rumah dan aku semakin tak percaya. Aku masuk dan melihatmu terbaring disana. Aku menangis sekeras kerasnya dan mereka membaca surat yasin untukmu. Suara itu mengiringmu pergi. Jauh. Sangat jauh dan sangat lama.

Harusnya kini kau ajari aku bagaimana melawan dunia dan segala ketakutan ini. Harusnya kau melihat acara tinju lagi di malam hari dan aku akan menemanimu meski tak paham apapun. Harusnya kau katakan jangan menyukai laki laki karena aku masih kecil. Tapi kini kau pergi. Dan aku tidak tahu cara untuk memperlakukan dunia, memperlakukan hidup, memperlakukan diriku. Tuhan sangat kejam kan padaku? Harusnya dia memberimu waktu lebih lama. Harusnya kuceritakan padamu bagaimana hari-hari yang kulalui. Dan yang bisa kulakukan sekarang hanya bisa melihat segalanya dalam benakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar