Minggu, 09 November 2014

Dulu



Tentu dulu kita adalah teman. Kau ceritakan padaku kau menyukai pria tinggi itu. Dan kukatakan padamu aku menyukai ketua kelas. Dulu kita seperti saudara. Kita menjadi seperti itu saat kelas 4. Kita bercanda dan aku selalu ke rumahmu. Kita ke lantai atas sambil membuat lagu.

Kita tampilkan puisi di depan kelas dan kita dapatkan sorak kebanggaan. Dulu kita selalu bersepeda ke arah utara. Bermain air dan melihat awan biru. Membeli martabak dan berteduh di rumahku. Kita duduk sebangku dan berpikir untuk membuat geng.

Aku tak mengerti apapun karena aku masih kecil. Kita menonton film horor sambil memakan popcorn di rumah Faiq. Kita yang paling disegani. Dan kau membelaku saat bukuku di sabotase oleh Raisa. Kita bernyanyi dengan geng pria yang ada di kelas kita. Dan aku mulai berpindah hati pada Candra. Kau mengolokku dan membuatku malu di depannya.

Kita menyanyikan lagu untuk geng yang tak sepopuler kita. Mengusir mereka dan memperolok mereka. Kita buat mereka jera dan tak dapat mengambil alih sedikitpun. Kita membeli makanan di kantin, dan pergi diam-diam saat pelajaran olahraga. Pergi ke warnet dan bermain game untuk 2 jam berturut-turut. Kau traktir aku saat kau berulang tahun. Kita bermain wahana dan memakan ayam.

Kelas 6 adalah sesuatu yang menyeramkan. Kita akan semakin dewasa dan meninggalkan sarang. Di semester ke dua, kau berubah. Kau buat aku tercengang akan apa yang telah kau lakukan. Entah darimana kesalahan ini. Dan bahkan aku tak mengerti sama sekali. Dia telah merasukimu. Wanita jahat itu telah mengambil kendalimu. Raisa yang menyebalkan itu telah membuat tatapan mu dingin padaku.

Kau menjadi arogan dan membuatku terkucilkan. Kau tak perbolehkan aku menonton film bersama mereka. Dan seketika aku membencimu. Di detik-detik UN, aku meminta maaf pada semua orang termasuk kau. Dan kau tahu apa yang mengejutkan? Kau bilang aku tidak tulus melakukannya. Sangat lucu saat ku kenang segala kenangan baik. Tapi semuanya tetap tidak bisa membuat kebencianku berkurang.

Dan kau pikir semuanya akan baik-baik saja untukku. Kau pikir lukaku takkan berarti bagiku. Kau hidup dengan keegoisanmu. Kau bahkan tak berniat untuk berminta maaf sampai 4 tahun benar-benar berlalu. Begitu menyedihkan saat aku harus melihatmu kembali dalam reuni ini. Dan tanggal 6 November dua tahun lalu kau kembali dan mengirimku pesan. Ku pikir kau sangat tak berperasaan. Kau buat segalanya menjadi buruk dan tak sedikitpun berpikir untuk memperbaiki apa yang sudah hancur.

Kau pikir lukaku akan sembuh. Tapi kau terlalu sombong untuk mengakui kesalahanmu. Dan semuanya berputar seperti aura buruk yang tak pernah kuketahui. Ku sarankan agar kau lebih mengulang semuanya. Berbaring dan lihat lah dinding itu. Putar segala memorimu. Dan sadarlah kau telah melukaiku. Dan di gambar itu kau tampak seperti hantu terjahat. Dan kini orang itu ada disini. Raisa, teman baikmu ada disini. Satu sekolah dengannya adalah neraka. Dan mengingat segala tentangmu adalah merah yang membara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar