Kau tumbuh dan mendapatkan segala kemenangan. Kau ingat kembali rumah kecil itu, dan merasakan dirimu yang masih berumur 5 tahun. Kau berlari, dan memainkan peralatan itu seperti koki yang sedang memasak. Kau jatuh dan terluka. Dan ibumu akan membasuh segala lukamu. Tangismu akan di hapus olehnya.
Kau lihat foto album itu kembali. Merasakan aroma yang familiar, yang membawamu mengelilingi waktu. Mendengar segala ceritanya sampai kau terlelap di malam yang sunyi.
Di masa remaja, kau temukan banyak teman. Kau belajar dengan buku biologimu dan mencapai puncaknya. Ibumu akan berdiri di depan sana sambil menyorakimu dengan tepuk tangan kebanggaan. Waktu berputar terlalu cepat. Dan kini kau menjadi sepertinya. Kau miliki seorang anak dan menjadi pahlawan untuknya.
Seharusnya kau tahu, bagaimana tatapan curigamu padaku telah membuatku terluka. Seharusnya kau tak mematahkan harapan kecilku ini. Kau terlalu sombong dan mempertaruhkan harga dirimu dengan buruk. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu, tapi tak kuketahui kau sangat merendahkanku. Senyummu yang sinis dengan kerutan kening yang bertumpuk. Kau dengan sengaja melukaiku. Alis yang merendahkan dan garis bibir yang penuh kebencian. Kau membuatku merasa tak berguna di kelas penuh pertarungan ini.
Harusnya kau berpikir dua kali, bagaimana jika yang kau rendahkan itu adalah anakmu sendiri. Hidup penuh dengan kekhawatiran. Dulu kau takut melawan dunia. Kau lupa bagaimana dulu kau tenggelam, karena kini kau bisa berenang. Kau lupa cara untuk mencintai karena dunia telah membuatmu buta. Aku tak suka cara dunia menatapku.
Aku bisa membacamu seperti sebuah konflik politik. Penuh tantangan dan kecurangan. Aku bisa mendengar bisikan kalbumu yang penuh dengan hinaan. Aku bisa mencium aroma busuk yang ada dalam setiap perkataanmu. Kau pikir aku curang. Karena di belakangku sudah ada yang mengacungkan tangannya. Kau pikir aku tahu segala jawabannya dari gadis itu. Tapi harusnya kau paham bahwa setiap hari aku menatapmu dan mencatatnya diam-diam dari apa yang kudengar.
Kau salah menilai seseorang. Menurutmu kau pintar, tapi menurutku tidak. Kau hidup hanya untuk sesuatu yang ingin kau pikirkan. Kau tak pernah melihat fakta. Dan aku bisa menghitung warna gelap di matamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar