Minggu, 09 November 2014

Iblis



Kau menghantuiku. Dan aku bisa membacamu seperti sebuah ramalan. Aku percaya kita ditakdirkan. Karena hari ulang tahun kita selalu sama harinya. Dulu aku selalu memanggilmu Tuan Rubrik. Kau pandai memainkannya seperti kau yang pandai mempermainkanku. Kau bermain untuk sesuatu yang sensitif.
 
Kau ketahui keobsesian dan kegilaanku. Dulu aku sangat menggebu-gebu seperti angin yang menyentuh wajahmu. Mengiringi langkah kakimu diam-diam. Kau tahu aku menyukaimu dan tak pernah kuelak itu. Kekagumanku benar-benar sebuah keagresifan.

Kau menyebut namaku tiga kali seperti sebuah petir yang sedang menyambarku. Begitu menggairahkan sekaligus menakutkan. Kau membuatku merindukan dan bertanya kepada bintang tentang artiku untukmu. Kita bercanda melalui sebuah komentar di laman facebook. Ku lihat foto itu dan membayangkan dirimu di depan rumahku seperti dulu saat kelas 6.

Kau menatapku dan membuatku melayang. Tapi seluruh bumi ini seperti berputar saat aku mengetahuinya. Kau hanya berpura-pura. Kau sedang memainkan peran malaikatmu waktu itu. Tapi kau diam-diam menjadi iblis berbentuk lamunan. Tak kuhiraukan segala perkataan teman-temanku. Dan kupikirkan segala kepingan itu menjadi satu. Aku berjalan di benang yang kusut dan kau datang seperti membawa berita baik.

Kau punyai teman-teman yang berengsek. Dan kau hanyalah segala omong kosong yang berwujud harapan palsu. Kau tetap tinggal dan melakukan kembali peranmu. Melihatku tertawa dan berduka. Melihatku jatuh berkeping-keping dalam kehampaan. Kau berikan akhir bahagia yang akan kuingat selamanya. Kau berikan kesedihan mendalam dalam setiap tingkahmu. Dan aku hanyalah lelucon yang sedang kau bicarakan dengan teman-temanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar