Suara bising itu membuatku muak. Setiap pulang ke rumah pasti ini terjadi.
Mantra-mantra itu keluar dari mulutnya bagaikan sebuah berita buruk. Berniat
untuk istirahat, tapi inilah yang terjadi.
Kupasang earphone ku. Ku putar lagu dan kuperbesar volumenya. Mendengarnya berteriak adalah sebuah ide buruk. Entah demi kebaikan siapa.
Segala kebenciannya terhadap hidup tersalurkan dalam melodi terburuk yang pernah ada. Seperti tak ada ketenangan dan kedamaian.
Berusaha untuk tidak melawannya. Tapi saat dia meneriakkan namaku, dia benar-benar butuh bantuan. Dia mengeluh sepanjang hari dengan perkataan yang sama. Pahit dan pedas.
Saat aku bernyanyi, dia menyuruhku untuk diam. Dia bahkan tak tahu ceritaku. Sama sekali tidak. Dia tak tahu bagaimana seorang gadis berumur 12 tahun itu menjadi bual-bualan disekolah. Dia bahkan tak tahu bagaimana gadis itu menangis dengan sangat keras tanpa bersuara. Dia tak akan pernah tahu akan kesakitan yang dialami putrinya di masa mudanya.
Gadis itu menyalurkan perasaannya melalui lagu. Gadis itu berpikir mungkin tak akan lama lagi dia menjadi gila. Dia menangis sekaligus tertawa di kamarnya yang gelap. Menatap dinding seperti memutar kembali kenangannya. Melihat satu titik dan melayang bersama perasaannya.
Mungkin karena memiliki banyak anak. Dan suaminya pun telah lama ke surga. Aku tahu dia kesepian. Tapi tidak seperti ini. Aku tahu telah banyak tekanan yang ia terima. Tapi kumohon, jangan seperti ini!.
Kau tahu, aku hanyalah gadis yang tak tahan banting. Aku adalah gadis terlemah yang pernah ada. Jadi, kumohon jangan perlakukan aku seperti ini! Sudah terlalu banyak beban yang harus kutanggung. Sudah terlalu banyak luka yang berserakan. Biarkan aku menyembuhkan terlebih dahulu!
Kupasang earphone ku. Ku putar lagu dan kuperbesar volumenya. Mendengarnya berteriak adalah sebuah ide buruk. Entah demi kebaikan siapa.
Segala kebenciannya terhadap hidup tersalurkan dalam melodi terburuk yang pernah ada. Seperti tak ada ketenangan dan kedamaian.
Berusaha untuk tidak melawannya. Tapi saat dia meneriakkan namaku, dia benar-benar butuh bantuan. Dia mengeluh sepanjang hari dengan perkataan yang sama. Pahit dan pedas.
Saat aku bernyanyi, dia menyuruhku untuk diam. Dia bahkan tak tahu ceritaku. Sama sekali tidak. Dia tak tahu bagaimana seorang gadis berumur 12 tahun itu menjadi bual-bualan disekolah. Dia bahkan tak tahu bagaimana gadis itu menangis dengan sangat keras tanpa bersuara. Dia tak akan pernah tahu akan kesakitan yang dialami putrinya di masa mudanya.
Gadis itu menyalurkan perasaannya melalui lagu. Gadis itu berpikir mungkin tak akan lama lagi dia menjadi gila. Dia menangis sekaligus tertawa di kamarnya yang gelap. Menatap dinding seperti memutar kembali kenangannya. Melihat satu titik dan melayang bersama perasaannya.
Mungkin karena memiliki banyak anak. Dan suaminya pun telah lama ke surga. Aku tahu dia kesepian. Tapi tidak seperti ini. Aku tahu telah banyak tekanan yang ia terima. Tapi kumohon, jangan seperti ini!.
Kau tahu, aku hanyalah gadis yang tak tahan banting. Aku adalah gadis terlemah yang pernah ada. Jadi, kumohon jangan perlakukan aku seperti ini! Sudah terlalu banyak beban yang harus kutanggung. Sudah terlalu banyak luka yang berserakan. Biarkan aku menyembuhkan terlebih dahulu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar