Menahan napas untuk beberapa saat. Bayanganmu mengisi pikiran kosongku. Dan aku
kembali kesana. Kau mainkan bolamu untuk menembus gawang. Dan aku menunggumu
disana.
Aku berdiri tak jauh darimu. Bayangan kita melebur menjadi satu. Di sepanjang jalan tak ada satupun kalimat terucap. Keheningan seperti musik mengiringi pikiran kita yang sedang melayang. Kau pergi dan akupun pergi.
Kau bilang tak pernah kau temukan karakter sepertiku di setiap latar yang kau mainkan. Kita saling bercerita dan kau tak mengerti mengapa. Kita seakan sudah saling mengenal begitu lama.
Aku berjalan didepanmu. Dan kau ikuti iringan langkahku. Setiap hari kau seperti cermin. Dan aku tersenyum padamu secara diam-diam.
Melihatmu duduk di barisan penumpang. Seperti diam-diam mencuri ku dari segala ketakutan. Melihat ribuan pesan itu membuatku mulai mengerti arti dirimu.
Tapi kini kau biarkan aku berpegangan pada tiang kehampaan. Menghantui kewarasanku di batas maksimal. Dan daun seakan layu setelah mendengar perkataanmu.
Kau terlihat baik-baik saja dan lebih sibuk dari yang dulu. Pertengkaran itu membuatku dipenuhi awan gelap. Angin lebat membuatku kedinginan tanpamu disini. Setiap orang akan berubah dan kupahami itu. Tak ada yang bisa membangkitkanku dari segala keterpurukan ini.
Kurindukan senyummu manismu. Begitu bagus dan memesona. Dan kutendang gelas air mineral ini seperti kau yang sedang menendang segala perasaanku. Kau berikan keberanian dan ketakutan untukku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah membiarkanmu menyelesaikan permainan konyol ini.
Kau berikan aku bunga lalu kau datang kembali untuk merusaknya. Sama seperti kau berikan aku janji lalu kau melanggarnya. Membuatku takut untuk melawan dunia.
Mungkin aku terlalu banyak memaksa. Mungkin aku telah banyak membuatmu terikat. Kuingat segala keegoisanku. Ingin menjelahi waktu dan memperbaikinya tapi aku tak bisa. Jadi jika kemarahan itu terpancar jelas di wajahmu, bisa kuterima.
Tapi jika kau berikan satu kesempatan saja, maka aku akan menggunakannya dengan baik. Tapi itu tak akan pernah mungkin, karena kutahu sesuatu yang sangat langka itu telah hilang.
Aku berdiri tak jauh darimu. Bayangan kita melebur menjadi satu. Di sepanjang jalan tak ada satupun kalimat terucap. Keheningan seperti musik mengiringi pikiran kita yang sedang melayang. Kau pergi dan akupun pergi.
Kau bilang tak pernah kau temukan karakter sepertiku di setiap latar yang kau mainkan. Kita saling bercerita dan kau tak mengerti mengapa. Kita seakan sudah saling mengenal begitu lama.
Aku berjalan didepanmu. Dan kau ikuti iringan langkahku. Setiap hari kau seperti cermin. Dan aku tersenyum padamu secara diam-diam.
Melihatmu duduk di barisan penumpang. Seperti diam-diam mencuri ku dari segala ketakutan. Melihat ribuan pesan itu membuatku mulai mengerti arti dirimu.
Tapi kini kau biarkan aku berpegangan pada tiang kehampaan. Menghantui kewarasanku di batas maksimal. Dan daun seakan layu setelah mendengar perkataanmu.
Kau terlihat baik-baik saja dan lebih sibuk dari yang dulu. Pertengkaran itu membuatku dipenuhi awan gelap. Angin lebat membuatku kedinginan tanpamu disini. Setiap orang akan berubah dan kupahami itu. Tak ada yang bisa membangkitkanku dari segala keterpurukan ini.
Kurindukan senyummu manismu. Begitu bagus dan memesona. Dan kutendang gelas air mineral ini seperti kau yang sedang menendang segala perasaanku. Kau berikan keberanian dan ketakutan untukku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah membiarkanmu menyelesaikan permainan konyol ini.
Kau berikan aku bunga lalu kau datang kembali untuk merusaknya. Sama seperti kau berikan aku janji lalu kau melanggarnya. Membuatku takut untuk melawan dunia.
Mungkin aku terlalu banyak memaksa. Mungkin aku telah banyak membuatmu terikat. Kuingat segala keegoisanku. Ingin menjelahi waktu dan memperbaikinya tapi aku tak bisa. Jadi jika kemarahan itu terpancar jelas di wajahmu, bisa kuterima.
Tapi jika kau berikan satu kesempatan saja, maka aku akan menggunakannya dengan baik. Tapi itu tak akan pernah mungkin, karena kutahu sesuatu yang sangat langka itu telah hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar