Minggu, 19 Oktober 2014

Memudar Beserta Kenangannya


Segala yang kutahu saat pagi ini tiba adalah bahwa kurindukan dirimu. Teringat kata ibuku senin malam itu, bahwa dia telah tiada. Dan sesuatu seakan berputar seperti lalat yang tak bisa kutangkap. Memori itu terus berputar dan aku tak bisa menghentikannya.

Kau adalah kakak kelas yang dulunya kukagumi. Dengan gigi kelincimu itu aku mulai menyukai tawamu. Dulu kau selalu membantu kakek dan nenekmu disini. Dan aku memperhatikanmu yang sedang mendorong gerobak jualan nenekmu. Dan saat malam tiba selalu kutemukan dirimu di depan gapura ini sedang duduk dan melihatku yang melewati jalanan ramai itu.

Aku tak mengatakan kepadamu karena aku tidak tahu perasaan seperti apakah ini. Kau baik dan kau pintar membaca Al-Qu'an. Itu adalah sosok sempurna untuk cinta pertama yang kekanak-kanakan.

Semua temanku mengatakan bahwa mereka menyukaimu. Dan aku merasa tak perlu tuk ungkapkan hal seperti itu, karena melihatmu, berjalan disampingmu sudah menjadi sempurna.

Aku adalah seorang pelupa. Jadi jika kau tanya kapan tepatnya kau pergi, aku tidak akan ingat. Tapi yang pasti itu terjadi saat sekolah dasar, saat semuanya berubah menjadi mendung dan petir seakan menjadi jeritan tangisku.

Kau pergi dan aku tidak tahu dimana kau. Aku adalah seorang pemalu, jadi tak kutanyakan itu pada keluargamu yang tersisa disini. Entah kau di kota yang mana. Entah seperti apa rupamu sekarang.

Kadang aku bertanya pada hujan yang turun, apa matanya masih memancarkan kehangatan? Apa senyumnya masih akan membuatku mabuk? Apa kebaikannya masih akan membuatku kagum?

Di saat hujan tiba, aku akan pergi dan berada di bawahnya. Menyanyikan lagu yang menyiratkan perasaan kacauku akan dirimu. Aku akan berlari seperti mengejar bayanganmu yang tersisa. Bahkan waktu dengan teganya menghapus jejakmu di pikiranku.

Kau membuatku tersenyum bahkan saat sedang menulis ini. Dan saat kakekmu telah tiada aku berharap mobil itu membawamu kemari. Jadi kutunggu dirimu di depan rumahku tapi tak kulihat dirimu sampai semuanya menghilang dan waktu terus berputar.

Dan sekarang saat nenekmu telah dipanggil-Nya. Aku masih berharap kau datang. Setidaknya kau datang untuk mengemasi barang-barang nenekmu.

Tapi mimpiku tak pernah terwujud. Bahkan raut wajahmu mulai memudar beserta kenangannya. Kudapati segala nya tak tersisa. Segala rasa tentang dirimu pergi bersama angin mengikutimu. Dan satu-satunya yang tersisa hanyalah aku yang sedang menunggu untuk mengembalikan segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar