Dia
katakan dirinya sebagai peri. Dan kukatakan pada diriku, aku hanyalah sesuatu
yang tersesat di dalam dunia yang telah kubuat sendiri. Di dalam sebuah dunia
yang kuyakini takkan ada luka. Di dalam sebuah dunia yang kuatur sendiri jalan
cerita dan akhir kisahnya. Tapi kini, kuterjebak didalamnya. Berharap semuanya
tak pernah kulakukan.
Tuhan, kau terlalu baik padaku. Kau selalu tunjukkan padaku segala hal yang mereka sebut kenyataan. Tanpa harus mencari dan tanpa harus meminta agar kau tunjukkan semua itu kepadaku.
Berulang kali kukatakan pada diriku "Berhentilah membuat kesalahan yang sama". Tapi semua itu selalu sia-sia saat aku dihadapkan dalam sebuah perasaan. Dan selalu kulanggar setiap aturannya agar aku dapat merasakannya kembali.
Dia katakan bahwa dirinya memiliki sayap yang kusut. Dan ku pikir mungkin pria itu mengabaikannya terlalu jauh. Pria itu membuatnya melayang dan jatuh diwaktu bersamaan.
Dia katakan dirinya Si buruk rupa. Dan aku mengira mungkin perasaannya begitu tulus hingga dia merasa bahwa dirinya tak pantas untuk pria yang dalam negeri khayalku, kusebut seorang pangeran berkuda putih.
Bisa kurasakan besarnya harapan si peri buruk rupa itu. Dia berdiri di belakang pangeran berkuda putih itu sambil menunggu. Berharap pangeran itu berbalik kearahnya, dan menyadari bahwa dialah satu-satunya orang yang selalu ada.
Dan aku adalah seorang pengagum rahasia yang sedikitpun tak pernah ingin menyentuh kehidupan pangeran itu. Jika si peri buruk rupa hidup di dunia peri, maka aku adalah seorang puteri yang hidup didunia fantasi yang bisa kau sebut dunia dongeng. Suatu dunia yang memerankan peran antagonisnya adalah seorang penyihir. Tapi, penyihir ini tak pernah tampak. Ia berubah menjadi sebuah zat dan merasuki otakku dengan perlahan. Dan kini aku terserang virus dari zat itu.
Dulu aku selalu berharap agar kau tak banyak dikenal, agar aku tak harus bertaruh untuk mendapatkanmu. Dan kini kutemukan musuh yang nyata. Dia mabuk akan pesonamu dan masih menunggumu meski kau mengabaikannya. Dia telah dulu menyentuh hidupmu, sementara aku tak pernah berniat melakukan itu. Dia mengerti makna cinta, sementara aku masih berusaha mencarinya.
Tiga tahun tidaklah singkat. Rasa itu sedikit demi sedikit merasukiku meski kadang aku terhanyut dengan rasa yang lain. Kini bisa kurasakan kesalahan ada padaku untuk kesekian kalinya.
Mengingat kau adalah teman dari orang yang pernah membodohiku, seharusnya aku menepis dengan tegas semua sihir itu. Seharusnya aku tahu betapa eratnya pertemanan kalian. Tapi dulu aku buta, tak bisa kulihat dengan jernih resiko yang ada di depanku.
Maka inilah aku. Kini aku benar-benar tersadar dari virus yang membuatku mabuk terlalu lama. Seharusnya aku sadar kalian berdualah pemeran utama untuk skenario ini. Dan aku hanyalah seorang cameo yang tak terlalu berarti. Penyesalan selalu datang pada akhir sebuah kisah. Tapi masih ada kisah lain di sudut sana yang mungkin akan menjadikanku seorang pemeran utuma. Dan mungkin akan ada pangeran lain yang nantinya akan menjadi sebuah jawaban dari segala pertanyaan putri itu.
Tuhan, kau terlalu baik padaku. Kau selalu tunjukkan padaku segala hal yang mereka sebut kenyataan. Tanpa harus mencari dan tanpa harus meminta agar kau tunjukkan semua itu kepadaku.
Berulang kali kukatakan pada diriku "Berhentilah membuat kesalahan yang sama". Tapi semua itu selalu sia-sia saat aku dihadapkan dalam sebuah perasaan. Dan selalu kulanggar setiap aturannya agar aku dapat merasakannya kembali.
Dia katakan bahwa dirinya memiliki sayap yang kusut. Dan ku pikir mungkin pria itu mengabaikannya terlalu jauh. Pria itu membuatnya melayang dan jatuh diwaktu bersamaan.
Dia katakan dirinya Si buruk rupa. Dan aku mengira mungkin perasaannya begitu tulus hingga dia merasa bahwa dirinya tak pantas untuk pria yang dalam negeri khayalku, kusebut seorang pangeran berkuda putih.
Bisa kurasakan besarnya harapan si peri buruk rupa itu. Dia berdiri di belakang pangeran berkuda putih itu sambil menunggu. Berharap pangeran itu berbalik kearahnya, dan menyadari bahwa dialah satu-satunya orang yang selalu ada.
Dan aku adalah seorang pengagum rahasia yang sedikitpun tak pernah ingin menyentuh kehidupan pangeran itu. Jika si peri buruk rupa hidup di dunia peri, maka aku adalah seorang puteri yang hidup didunia fantasi yang bisa kau sebut dunia dongeng. Suatu dunia yang memerankan peran antagonisnya adalah seorang penyihir. Tapi, penyihir ini tak pernah tampak. Ia berubah menjadi sebuah zat dan merasuki otakku dengan perlahan. Dan kini aku terserang virus dari zat itu.
Dulu aku selalu berharap agar kau tak banyak dikenal, agar aku tak harus bertaruh untuk mendapatkanmu. Dan kini kutemukan musuh yang nyata. Dia mabuk akan pesonamu dan masih menunggumu meski kau mengabaikannya. Dia telah dulu menyentuh hidupmu, sementara aku tak pernah berniat melakukan itu. Dia mengerti makna cinta, sementara aku masih berusaha mencarinya.
Tiga tahun tidaklah singkat. Rasa itu sedikit demi sedikit merasukiku meski kadang aku terhanyut dengan rasa yang lain. Kini bisa kurasakan kesalahan ada padaku untuk kesekian kalinya.
Mengingat kau adalah teman dari orang yang pernah membodohiku, seharusnya aku menepis dengan tegas semua sihir itu. Seharusnya aku tahu betapa eratnya pertemanan kalian. Tapi dulu aku buta, tak bisa kulihat dengan jernih resiko yang ada di depanku.
Maka inilah aku. Kini aku benar-benar tersadar dari virus yang membuatku mabuk terlalu lama. Seharusnya aku sadar kalian berdualah pemeran utama untuk skenario ini. Dan aku hanyalah seorang cameo yang tak terlalu berarti. Penyesalan selalu datang pada akhir sebuah kisah. Tapi masih ada kisah lain di sudut sana yang mungkin akan menjadikanku seorang pemeran utuma. Dan mungkin akan ada pangeran lain yang nantinya akan menjadi sebuah jawaban dari segala pertanyaan putri itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar