Aku akan
berpura-pura tersenyum saat melihatmu bersamanya, hanya agar kau tak tahu bahwa
mungkin saja aku menyukaimu. Terus bertanya kepada bintang-bintang,
"bisakah kita ditakdirkan?". Kaulah yang kuinginkan, kaulah yang
kubutuhkan tapi dialah yang berhasil mendapatkanmu. Kau takkan pernah tahu
tentang semua rahasia cinta yang kutujukan untukmu.
Kaulah yang selalu kutulis dalam laguku dan masih terus kucari, kau dalam setiap bait puisi. Harusnya dia melihat mata indahmu, harusnya dia bahagia terhadap senyummu, bukannya mendua, mempermainkan dan meninggalkanmu. Harusnya dia sadar, dia beruntung karena memiliki sesuatu yang tak bisa kumiliki. Dan yang bisa kulakukan setiap malam hanyalah berharap kau mengubah pikiranmu dan berbalik ke arahku.
Dan aku akan memalingkan wajahku saat kulihat kemesraanmu bersamanya. Berharap bahwa dia adalah aku. Berharap kau akan tahu betapa aku menyukaimu, saat aku tak mengatakannya. Seandainya kau tahu bahwa aku tak berani menatapmu saat kita bicara. Seandainya kau tahu bahwa aku diam-diam memperhatikanmu di sudut kelas. Seandainya kau tahu setengah napasku tertinggal saat kau ada di dekatku.
Langkahmu lah yang selalu kuikuti setiap hari. Tak tahu sampai kapan kau akan mengerti? Bahkan kau tak pernah melihatku, bahkan kau tak pernah berniat menjadikanku temanmu. Aku bukan siapa-siapa dan bagimu dialah yang utama. Dan setiap hari aku harus berpura-pura mendukungnya dan bertindak seakan aku sangat baik-baik saja. Aku tak pernah berniat rasa ini akan tumbuh. Yang dulu selalu kulakukan hanyalah bermain perasaan, tapi kali ini yang kudapatkan hanyalah ketidakadilan takdir.
Kaulah yang selalu kutulis dalam laguku dan masih terus kucari, kau dalam setiap bait puisi. Harusnya dia melihat mata indahmu, harusnya dia bahagia terhadap senyummu, bukannya mendua, mempermainkan dan meninggalkanmu. Harusnya dia sadar, dia beruntung karena memiliki sesuatu yang tak bisa kumiliki. Dan yang bisa kulakukan setiap malam hanyalah berharap kau mengubah pikiranmu dan berbalik ke arahku.
Dan aku akan memalingkan wajahku saat kulihat kemesraanmu bersamanya. Berharap bahwa dia adalah aku. Berharap kau akan tahu betapa aku menyukaimu, saat aku tak mengatakannya. Seandainya kau tahu bahwa aku tak berani menatapmu saat kita bicara. Seandainya kau tahu bahwa aku diam-diam memperhatikanmu di sudut kelas. Seandainya kau tahu setengah napasku tertinggal saat kau ada di dekatku.
Langkahmu lah yang selalu kuikuti setiap hari. Tak tahu sampai kapan kau akan mengerti? Bahkan kau tak pernah melihatku, bahkan kau tak pernah berniat menjadikanku temanmu. Aku bukan siapa-siapa dan bagimu dialah yang utama. Dan setiap hari aku harus berpura-pura mendukungnya dan bertindak seakan aku sangat baik-baik saja. Aku tak pernah berniat rasa ini akan tumbuh. Yang dulu selalu kulakukan hanyalah bermain perasaan, tapi kali ini yang kudapatkan hanyalah ketidakadilan takdir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar