Aku tak bisa
berpikir bahwa ini sudah terjadi. Rasanya baru kemarin kau mengatakan padaku
bahwa kau sangat beruntung memiliki teman sepertiku. Aku hanya tidak tahu kapan
ini bermula. Sungguh menyedihkan saat mengingat bahwa kau selalu ada di sisiku
sebagai seorang teman yang baik. Seminggu yang lalu, saat kau mengganggu
malamku. Kupikir akan mengasyikkan saat kita berbuat hal-hal gila yang akan
menguras tawa kita, tapi kenyataan sangatlah pahit, bukan? Setidaknya sangatlah
pahit untukku.
Kita terus menulis hal yang tidak waras sampai larut dan sungguh itu memang sedikit tidak wajar. Setiap hari kita selalu terbahak-bahak di depan layar menantikan komentar yang sangatlah bodoh. Kupikir dongeng itu telah dimulai dengan sangat indahnya, aku bahkan hampir bersyukur kepada Tuhan karena telah mengizinkanku memilikinya. Kupikir kita akan menjadi lebih dari sekedar teman. Tak pernah berpikir bahwa itu hanyalah perasaan nyamanmu yang sesaat. Baru kusadari kau selalu menjaga setiap sekat di antara kita dan tak pernah berniat sedikitpun untuk membuangnya.
Aku selalu berkata bahwa diriku sangatlah naif tapi kini kusadari bahwa aku lebih dari sekedar itu. Aku sangatlah bodoh dan tolol. Kau buatkan aku malam yang indah, bertaburkan bintang yang membentuk rasi yang sangat menakjubkan. Tak pernah berpikir bahwa itu hanyalah sementara. Baru kuyakini bahwa siang sedang menanti kesempatan untuk membakar kita. Aku mulai mengerti saat mengingat di hari pertama kita bertemu. Kau sangat menekuni bahasa inggris. Kau selalu mencoba membuatku nyaman, meski kutahu kini itu hanyalah sebuah basa-basi pertemanan. Kau selalu melangkah pergi lalu kembali. Aku bertanya-tanya siapa jati dirimu yang sesungguhnya. Terus menerka-nerka dan tetap tidak bertindak buruk, kupikir kau hanya sedang mengagung-agungkan kebebasan.
Ucapanmu begitu manis hampir kupikir itu adalah ketulusan dari hatimu. Kau selalu berada di depan jika itu masalah ekstrakulikuler, bahkan tak diragukan jika mereka selalu memujimu. Saat ini aku sangat menyadari seperti apa dirimu yang telah mengubah alur kisah ini menjadi sebuah tragedi. Sikapmu yang palsu mulai kentara dan sekarang aku semakin tangguh. Kau dulu yang kupikir hampir mencabuti duri-duri yang ada di dalam lukaku meski itu hanya satu, malah sekarang kau tancapkan pisau tertajam yang kau punya untuk membunuhku di dalam dekapanmu.
Aku sangat mengerti betapa kau menghargai gadis itu sebagai temanmu yang paling berharga. Jika itu memang dia, maka aku tidak pernah ragu terhadap kesetiaanmu tapi jika itu menyangkut diriku, maka jawabanku adalah kau hanya sedang bermain-main pada orang yang salah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya tapi lagu yang ada dalam otakku akan menjadi pengiring makammu jika aku mau. Inilah yang terjadi saat aku begitu membanggakan ikatan yang bernama teman, aku bahkan tidak yakin apakah kita pernah ada di dalam tali itu. Ingatkan aku tentang Maroon 5, band favoritmu. Aku lebih suka musuh-musuhku yang selalu mengoreksi diriku daripada seorang teman yang hanya membuang waktuku.
Sore tadi, saat aku mulai menahan tetesan air mataku. Pengkhianatan selalu mengiringi langkahku dan kupikir aku sudah mulai terbiasa karenanya. Tapi tidaklah semudah itu saat manusia masih mempunyai hati dan masih mempergunakan emosinya. Kau sangat mengerti tentang murkanya seseorang yang selalu tertawa. Seseorang mempunyai hati tapi aku tidak tahu apa kau sudah menggunakan itu dalam hal ini. Siapa kau yang sangat berani mengucapkan kata murahan itu? Kesombongan dari siapa yang mampu membuatmu mengatakan bahwa diriku lebih dari sekedar bodoh? Seberapa pintar dirimu sampai harus menghinaku? Seberapa besar akalmu sampai kau harus merendahkanku?
Memang akan selalu ada kata maaf. Aku bisa memaafkannya, melupakannya tapi takkan pernah bisa untuk bersikap ikhlas. Aku akui keberanianmu dalam membelanya tapi ingatkan aku siapa yang memulai semua ini? Siapa yang mengusik siapa? Tak sadarkah dirimu bahwa kaulah yang selalu mencoba untuk tetap dekat denganku? Mungkin bukan kau yang bersalah, kau bisa mengatakan bahwa akulah satu-satunya yang patut dihukum disini. Kau bisa mengatakan pada mereka bahwa aku sudah tidak waras, psikopat, bodoh, tolol, dan ucapkan segala makianmu jika kau ingin. Aku hanya tak bisa menyalahkan siapapun saat aku sedang mencoba memperkuat imanku. Tapi jangan salahkah aku saat air dingin yang dulu selalu kau bawa untuk menenangkanku akan kuubah menjadi darah atau mungkin api yang akan membakarmu.
Kita terus menulis hal yang tidak waras sampai larut dan sungguh itu memang sedikit tidak wajar. Setiap hari kita selalu terbahak-bahak di depan layar menantikan komentar yang sangatlah bodoh. Kupikir dongeng itu telah dimulai dengan sangat indahnya, aku bahkan hampir bersyukur kepada Tuhan karena telah mengizinkanku memilikinya. Kupikir kita akan menjadi lebih dari sekedar teman. Tak pernah berpikir bahwa itu hanyalah perasaan nyamanmu yang sesaat. Baru kusadari kau selalu menjaga setiap sekat di antara kita dan tak pernah berniat sedikitpun untuk membuangnya.
Aku selalu berkata bahwa diriku sangatlah naif tapi kini kusadari bahwa aku lebih dari sekedar itu. Aku sangatlah bodoh dan tolol. Kau buatkan aku malam yang indah, bertaburkan bintang yang membentuk rasi yang sangat menakjubkan. Tak pernah berpikir bahwa itu hanyalah sementara. Baru kuyakini bahwa siang sedang menanti kesempatan untuk membakar kita. Aku mulai mengerti saat mengingat di hari pertama kita bertemu. Kau sangat menekuni bahasa inggris. Kau selalu mencoba membuatku nyaman, meski kutahu kini itu hanyalah sebuah basa-basi pertemanan. Kau selalu melangkah pergi lalu kembali. Aku bertanya-tanya siapa jati dirimu yang sesungguhnya. Terus menerka-nerka dan tetap tidak bertindak buruk, kupikir kau hanya sedang mengagung-agungkan kebebasan.
Ucapanmu begitu manis hampir kupikir itu adalah ketulusan dari hatimu. Kau selalu berada di depan jika itu masalah ekstrakulikuler, bahkan tak diragukan jika mereka selalu memujimu. Saat ini aku sangat menyadari seperti apa dirimu yang telah mengubah alur kisah ini menjadi sebuah tragedi. Sikapmu yang palsu mulai kentara dan sekarang aku semakin tangguh. Kau dulu yang kupikir hampir mencabuti duri-duri yang ada di dalam lukaku meski itu hanya satu, malah sekarang kau tancapkan pisau tertajam yang kau punya untuk membunuhku di dalam dekapanmu.
Aku sangat mengerti betapa kau menghargai gadis itu sebagai temanmu yang paling berharga. Jika itu memang dia, maka aku tidak pernah ragu terhadap kesetiaanmu tapi jika itu menyangkut diriku, maka jawabanku adalah kau hanya sedang bermain-main pada orang yang salah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya tapi lagu yang ada dalam otakku akan menjadi pengiring makammu jika aku mau. Inilah yang terjadi saat aku begitu membanggakan ikatan yang bernama teman, aku bahkan tidak yakin apakah kita pernah ada di dalam tali itu. Ingatkan aku tentang Maroon 5, band favoritmu. Aku lebih suka musuh-musuhku yang selalu mengoreksi diriku daripada seorang teman yang hanya membuang waktuku.
Sore tadi, saat aku mulai menahan tetesan air mataku. Pengkhianatan selalu mengiringi langkahku dan kupikir aku sudah mulai terbiasa karenanya. Tapi tidaklah semudah itu saat manusia masih mempunyai hati dan masih mempergunakan emosinya. Kau sangat mengerti tentang murkanya seseorang yang selalu tertawa. Seseorang mempunyai hati tapi aku tidak tahu apa kau sudah menggunakan itu dalam hal ini. Siapa kau yang sangat berani mengucapkan kata murahan itu? Kesombongan dari siapa yang mampu membuatmu mengatakan bahwa diriku lebih dari sekedar bodoh? Seberapa pintar dirimu sampai harus menghinaku? Seberapa besar akalmu sampai kau harus merendahkanku?
Memang akan selalu ada kata maaf. Aku bisa memaafkannya, melupakannya tapi takkan pernah bisa untuk bersikap ikhlas. Aku akui keberanianmu dalam membelanya tapi ingatkan aku siapa yang memulai semua ini? Siapa yang mengusik siapa? Tak sadarkah dirimu bahwa kaulah yang selalu mencoba untuk tetap dekat denganku? Mungkin bukan kau yang bersalah, kau bisa mengatakan bahwa akulah satu-satunya yang patut dihukum disini. Kau bisa mengatakan pada mereka bahwa aku sudah tidak waras, psikopat, bodoh, tolol, dan ucapkan segala makianmu jika kau ingin. Aku hanya tak bisa menyalahkan siapapun saat aku sedang mencoba memperkuat imanku. Tapi jangan salahkah aku saat air dingin yang dulu selalu kau bawa untuk menenangkanku akan kuubah menjadi darah atau mungkin api yang akan membakarmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar