Pada
suatu malam yang gelap, keheningan berubah menjadi sebuah keberisikan seperti
konser pilihan dalam sekejap. Taylor Swift, wanita berkacamata tebal tapi
modern itu kini bernyanyi dan menari-nari seperti orang gila di kamarnya. Musik
yang kencang membuat Ibunya berteriak kesal padanya.
Taylor
Swift : “She’s not a saint. And she’s
not what you think. She an actress, woahh.”
Ibu
Taylor : “Apa kau sudah gila?
Berdoalah pada Tuhan malam ini! Jangan malah menyanyikan lagu tidak enak itu.”
Gadis itu kini diam tanpa ekspresi
menanggapi Ibunya. Dia melihat cermin di depannya dengan kesal dan membaringkan
tubuhnya di atas kasur dengan kasarnya. Besok adalah hari yang dia nanti-nanti.
Sepertinya dia harus berkali-kali menarik napas sedalam-dalamnya untuk
membayangkan bagaimana dia akan bertemu orang-orang baru.
*Keesokan
Harinya*
Semua orang bergegas dan jalanan
menjadi ramai. Ini adalah hari pertamanya. Dia merasa ingin kembali berllibur.
Tapi untuk melewati gerbang baru itu, dia merasa sangat tertarik. Dia hanya
bisa mendengar suara idolanya di headsheat kesayangannya. Mendengarkan lagu
“Fifteen” yang mungkin dapat menghentikan ketakutannya. DI masa lalu… Di masa
dia tidak pernah bisa sebebas ini.
Taylor
Swift : “Hari ini aku harus punya
teman! Masa lalu hanya akan menjadi spionku. Mungkin sekarang aku adalah
terbawah. Tapi tunggu, wahai temanku yang sok pintar! Kau akan mendapatkan
balasanmu secepatnya.”
Kakak-kakak kelas itu mulai
menyambutnya dan menyuruhnya ke aula. Banyak kesesakan disana, dan dia hanya
bisa duduk memperhatikan semuanya. Tak disengaja matanya mulai mengarah pada
seorang pria yang datang terlambat. Pria itu segera duduk di tempatnya dengan
semua peringainya. Dia adalah Joe Jonas. Pria yang sok keren dan selalu mengganggunya
di sekolah menengah pertama.
*Keesokan
Harinya*
Keringat mulai membasahi sebagian
tubuh Taylor Swift. Dia merasa sangat lelah karena sudah terlalu lama dia
bermain-main bersama kakak kelasnya. Dia hanya bisa pasrah dengan semua
perilaku seniornya.
Taylor
Swift : “Waktu itu di twitter, mereka
bilang mereka tidak akan menganianya juniornya. Dasar pembohong!!” (katanya
menggerutu sambil berjalan dengan lunglai.)
Tiba-tiba…
Taylor
Swift : “Apa? Siapa itu? Dia Katy
Perry? Perempuan jahat itu?? Kenapa harus bertemu dengannya lagi setelah tiga
tahun? Siall!!!”
*Flashback*
Taylor
Swift : “Apa? Apa salahku? Ada apa dengan kalian?
Kalian temanku, kenapa sekarang kalian menghindar?
Rihanna : “Berhentilah berpura-pura!! Aku
sudah mengetahuinya dari Katy Perry. Kau hanyalah teman palsu!!! Pergilah dari
gank ini!!”
Taylor
Swift : “Ohhh.. Jadi ini hanya karena
Katy Perry? Apa ulahnya kali ini? Kau tahu kan , dia selalu memutar balikkan fakta
semenjak kita kelas empat? Dan kau masih percaya? Sungguh mustahil!!” (Lugasnya
sambil melirik Katy Perry yang diam-diam berdiri dengan senyuman mautnya.)
*Flashback
End*
Tiga hari berlalu dan semuanya
tampak menyebalkan. Swift harus meminta tanda tangan Seniornya sampai harus
mengemis-ngemis, merasakan panas di tengah lapangan yang sedang mengadakan
upacara. Satu yang tak bisa dia lupakan. Kakak itu…
Adam
Levine : “Apa kalian tidak malu dengan
diri kalian? Tiga hari berlalu, dan kalian masih belum bisa menghapalkan
gerakannya? Ini untuk kalian!! Buat apa masa orientasi kalau kalian tidak
serius? Ini masih tiga hari, bagaimana jika tiga tahun?”
Semua siswa di gugus “Belanda”
terkena amukan Adam Levine. Senior kelas XI IPS 3. Swift berpikir, mungkin yang
pria itu katakan benar. Ya tuhan!! Dia semakin seksi dengan semua ucapannya.
“Aku merasa terdorong lebih dalam ke suatu jurang yang bernamakan cinta.”
(katanya dalam hati)
*Jam
18.56*
Taylor
Swift : “Haa!!! Betapa lelahnya!! Oh..
kakak itu!! Apa dia sudah punya pacar? Apa akun facebooknya? Bagaimana dengan
twitter? Ah.. bodohnya!!! Kenapa aku tidak mencatat pin bbm nya? Bodoh!!”
(Taylor Swift menggerutu pada ponselnya. Sepertinya dia telah tersihir.)
Dia mencoba menjawab semua
pertanyaannya itu dengan mencari di internet tentang akun pria itu. Dan
bingo!!! Akhirnya dapat dia temukan. Tidak salah jika teman-temannya dulu
sering memanggilnya penguntit kelas A. Tapi lebih dari itu, dia berpikir
seharusnya sekarang dia mulai belajar. Akan ada tes yang akan menjemputnya
besok. Dia harus bisa mendapatkan kelas MIA I !! ini sebagai bentuk pembalasan
dendam pada gadis yang dulu pernah meremehkannya!!!
Taylor Swift : “Tunggu dan saksikan, wanita jahat! Kau akan segera mendapatkan karmamu! Tunjukkan saja bakat munafik mu! Mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan tepuk tangan!!!” (serunya dengan semangat.)
Taylor Swift : “Tunggu dan saksikan, wanita jahat! Kau akan segera mendapatkan karmamu! Tunjukkan saja bakat munafik mu! Mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan tepuk tangan!!!” (serunya dengan semangat.)
*Keesokan
harinya*
Taylor
Swift : “Take a deep breath, Swift!!
You’ll be alright!! You’ll be get it!!” (perintahnya dalam hati)
Penjaga tes pun mulai memperkenalkan
dirinya. Swift harus duduk sendirian kali ini, karena teman sebangkunya pindah
ke bangku lain. Menurutnya, ini lebih nyaman untuknya tapi di sisi lain dia
diam-diam membenci teman sebangkunya karena dia merasa diremehkan.
*Keesokan
harinya*
Ini
adalah hari penentuan. Jika dia tidak bisa mendapatkan kelas MIA I maka tidak
akan ada lagi masa depan. Swift berjalan menemui teman segugusnya yang bernama
Shontelle dan Meghan Trainor. Mereka mulai mencoba melihat isi pengumuman itu.
Dari daftar kelas terbelakang, mereka mulai mencari nama mereka.
Taylor
Swift : “Shontelle!! Kau… MIA IV!!”
Shontelle : “Hmm.. it’s not good. But it’s okay.
I’ll be love it soon!!” (dengan senyum masamnya.)
Taylor
Swift : “Don’t worry!! It’s the best
class too!! So, how about me? Let’s find it!!”
Mereka mulai menjinjit karena semua
orang berdesakan untuk melihat semuanya. Tapi tiba-tiba…
Shontelle : “Taylor …
That’s you!!”
Taylor
Swift : “Where is it?”
Shontelle : “There!! Right in front of me.”
Taylor
Swift : “Where? Let me to see it….!! OH
MY GOSH…!!!
To
be continue..
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar