Jumat, 01 Mei 2015

How to Make You Love Me Part I


Pada suatu malam yang gelap, keheningan berubah menjadi sebuah keberisikan seperti konser pilihan dalam sekejap. Taylor Swift, wanita berkacamata tebal tapi modern itu kini bernyanyi dan menari-nari seperti orang gila di kamarnya. Musik yang kencang membuat Ibunya berteriak kesal padanya.
Taylor Swift    : “She’s not a saint. And she’s not what you think. She an actress, woahh.”
Ibu Taylor        : “Apa kau sudah gila? Berdoalah pada Tuhan malam ini! Jangan malah menyanyikan lagu tidak enak itu.”
            Gadis itu kini diam tanpa ekspresi menanggapi Ibunya. Dia melihat cermin di depannya dengan kesal dan membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan kasarnya. Besok adalah hari yang dia nanti-nanti. Sepertinya dia harus berkali-kali menarik napas sedalam-dalamnya untuk membayangkan bagaimana dia akan bertemu orang-orang baru.
*Keesokan Harinya*
            Semua orang bergegas dan jalanan menjadi ramai. Ini adalah hari pertamanya. Dia merasa ingin kembali berllibur. Tapi untuk melewati gerbang baru itu, dia merasa sangat tertarik. Dia hanya bisa mendengar suara idolanya di headsheat kesayangannya. Mendengarkan lagu “Fifteen” yang mungkin dapat menghentikan ketakutannya. DI masa lalu… Di masa dia tidak pernah bisa sebebas ini.
Taylor Swift    : “Hari ini aku harus punya teman! Masa lalu hanya akan menjadi spionku. Mungkin sekarang aku adalah terbawah. Tapi tunggu, wahai temanku yang sok pintar! Kau akan mendapatkan balasanmu secepatnya.”
            Kakak-kakak kelas itu mulai menyambutnya dan menyuruhnya ke aula. Banyak kesesakan disana, dan dia hanya bisa duduk memperhatikan semuanya. Tak disengaja matanya mulai mengarah pada seorang pria yang datang terlambat. Pria itu segera duduk di tempatnya dengan semua peringainya. Dia adalah Joe Jonas. Pria yang sok keren dan selalu mengganggunya di sekolah menengah pertama.
*Keesokan Harinya*
            Keringat mulai membasahi sebagian tubuh Taylor Swift. Dia merasa sangat lelah karena sudah terlalu lama dia bermain-main bersama kakak kelasnya. Dia hanya bisa pasrah dengan semua perilaku seniornya.
Taylor Swift    : “Waktu itu di twitter, mereka bilang mereka tidak akan menganianya juniornya. Dasar pembohong!!” (katanya menggerutu sambil berjalan dengan lunglai.)
            Tiba-tiba…
Taylor Swift    : “Apa? Siapa itu? Dia Katy Perry? Perempuan jahat itu?? Kenapa harus bertemu dengannya lagi setelah tiga tahun? Siall!!!”
*Flashback*
Taylor Swift    : “Apa? Apa salahku? Ada apa dengan kalian? Kalian temanku, kenapa sekarang kalian menghindar?
Rihanna          : “Berhentilah berpura-pura!! Aku sudah mengetahuinya dari Katy Perry. Kau hanyalah teman palsu!!! Pergilah dari gank ini!!”
Taylor Swift    : “Ohhh.. Jadi ini hanya karena Katy Perry? Apa ulahnya kali ini? Kau tahu kan, dia selalu memutar balikkan fakta semenjak kita kelas empat? Dan kau masih percaya? Sungguh mustahil!!” (Lugasnya sambil melirik Katy Perry yang diam-diam berdiri dengan senyuman mautnya.)
*Flashback End*
            Tiga hari berlalu dan semuanya tampak menyebalkan. Swift harus meminta tanda tangan Seniornya sampai harus mengemis-ngemis, merasakan panas di tengah lapangan yang sedang mengadakan upacara. Satu yang tak bisa dia lupakan. Kakak itu…
Adam Levine : “Apa kalian tidak malu dengan diri kalian? Tiga hari berlalu, dan kalian masih belum bisa menghapalkan gerakannya? Ini untuk kalian!! Buat apa masa orientasi kalau kalian tidak serius? Ini masih tiga hari, bagaimana jika tiga tahun?”
            Semua siswa di gugus “Belanda” terkena amukan Adam Levine. Senior kelas XI IPS 3. Swift berpikir, mungkin yang pria itu katakan benar. Ya tuhan!! Dia semakin seksi dengan semua ucapannya. “Aku merasa terdorong lebih dalam ke suatu jurang yang bernamakan cinta.” (katanya dalam hati)
*Jam 18.56*
Taylor Swift    : “Haa!!! Betapa lelahnya!! Oh.. kakak itu!! Apa dia sudah punya pacar? Apa akun facebooknya? Bagaimana dengan twitter? Ah.. bodohnya!!! Kenapa aku tidak mencatat pin bbm nya? Bodoh!!” (Taylor Swift menggerutu pada ponselnya. Sepertinya dia telah tersihir.)
            Dia mencoba menjawab semua pertanyaannya itu dengan mencari di internet tentang akun pria itu. Dan bingo!!! Akhirnya dapat dia temukan. Tidak salah jika teman-temannya dulu sering memanggilnya penguntit kelas A. Tapi lebih dari itu, dia berpikir seharusnya sekarang dia mulai belajar. Akan ada tes yang akan menjemputnya besok. Dia harus bisa mendapatkan kelas MIA I !! ini sebagai bentuk pembalasan dendam pada gadis yang dulu pernah meremehkannya!!!

Taylor Swift    : “Tunggu dan saksikan, wanita jahat! Kau akan segera mendapatkan karmamu! Tunjukkan saja bakat munafik mu! Mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan tepuk tangan!!!” (serunya dengan semangat.)
*Keesokan harinya*
Taylor Swift    : “Take a deep breath, Swift!! You’ll be alright!! You’ll be get it!!” (perintahnya dalam hati)
            Penjaga tes pun mulai memperkenalkan dirinya. Swift harus duduk sendirian kali ini, karena teman sebangkunya pindah ke bangku lain. Menurutnya, ini lebih nyaman untuknya tapi di sisi lain dia diam-diam membenci teman sebangkunya karena dia merasa diremehkan.
*Keesokan harinya*
Ini adalah hari penentuan. Jika dia tidak bisa mendapatkan kelas MIA I maka tidak akan ada lagi masa depan. Swift berjalan menemui teman segugusnya yang bernama Shontelle dan Meghan Trainor. Mereka mulai mencoba melihat isi pengumuman itu. Dari daftar kelas terbelakang, mereka mulai mencari nama mereka.
Taylor Swift    : “Shontelle!! Kau… MIA IV!!”
Shontelle        : “Hmm.. it’s not good. But it’s okay. I’ll be love it soon!!” (dengan senyum masamnya.)
Taylor Swift    : “Don’t worry!! It’s the best class too!! So, how about me? Let’s find it!!”
            Mereka mulai menjinjit karena semua orang berdesakan untuk melihat semuanya. Tapi tiba-tiba…
Shontelle        : “Taylor… That’s you!!”
Taylor Swift    : “Where is it?”
Shontelle        : “There!! Right in front of me.”
Taylor Swift    : “Where? Let me to see it….!! OH MY GOSH…!!!
To be continue..
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar