Kamis, 16 April 2015

Tersesat

Daripada mencintai aku lebih cepat membenci. Aku benci dengan semuanya bahkan dengan diriku sendiri. Setiap cacian yang kuterima, setiap kemarahan yang ditujukan padaku, aku merasa diriku adalah pecundang.

Tertawa bukan berarti aku sedang senang kan? Karena menahan tangis lebih mengerikan daripada mereka yang menangis paling keras. Air mata hanya sedikit melelehkan hatiku yang sangat beku. Dan faktanya adalah mereka tak pernah sedikitpun berniat mencari tahu tentang masalahku.

Daripada teman aku lebih mengenal musuh. Rasanya diasingkan, tempat pengasingan, tempat pelarian aku sudah pernah berada disana. Aku tidak tahu apakah rasa sakit ini adalah karma ku dimasa lalu.

Setiap hari aku tertawa seperti orang gila. Mereka bilang berbeda itu indah. Aku hanya berharap semua ini berakhir. Dan kau tahu artinya?  Tidak ada masalah berarti tidak ada kehidupan, aku ingin mati. Aku terluka parah dan tak seorang pun bisa menyembuhkanku.

Mereka bilang sangat mengerikan saat aku banyak berbicara, tapi akan lebih menyeramkan saat aku diam dan menatap kosong pintu itu. Untuk apa menganggap penting cinta, bukankah cinta juga yang membuatku merasa benci?

Aku tak mengenal siapapun, aku tak mengerti apapun. Seperti tersesat di tengah hutan yang gelap dan sepi, dan satu-satunya yang ada di sekitarku hanyalah jurang. Seperti berjalan di atas ribuan paku. Ini seperti rasa dilema saat kau ditatap oleh ribuan serigala. Berdiam diri kau pasti dimakan, dan jika kau berlari mereka akan semakin murka. Dan akhirnya sama saja, kau akan mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar