Kamis, 16 April 2015

Sandiwaraku

Kau ketahui perasaanku yang labil tapi kenapa kali ini kau bertanya lagi? Ingatlah, kita telah usai! Akan sangat baik jika kau tak menghubungiku. Apa kau pernah dengar, seseorang mengatakan "cinta yang sangat besar pada akhirnya juga pudar dengan cepat?”

Jangan merayuku lagi! Aku rasa aku sudah tak membutuhkanku. Kau akan berpikir ini kejam, dan mungkin mereka akan memanggilku seperti itu. Jangan katakan aku berpaling! Aku hanya rindu dengan hari-hari sebelum aku mengenalmu.

Berulang kali kucoba jelaskan padamu tapi yang kau lakukan hanyalah memintaku untuk kembali. Kau tahu, aku cukup muak dengan lagu cinta? Pada awalnya aku mengira bahwa kita lebih baik menjadi teman. Tapi melihat tingkahmu, aku sungguh ingin menjauh.

Mungkin aku sudah bosan. Mungkin cinta yang pernah miliki hanya seperti sebuah api kecil yang terombang-ambing angin. Kau harus kembali tidur hari ini. Karena berdebat denganku akan membuatmu semakin sakit. Kau pinta aku mendengarkan lagu dari Glenfredly. Kau pinta aku untuk memahaminya karena semua itu mewakili perasaanmu.

Kau benar jika ini hanya sandiwaraku. Seseorang yang membaca ini pasti akan bingung sebenarnya siapa yang kusukai. Kau tahu, kita terlalu muda untuk mengenal cinta dan aku tak ingin menjadi ahli cinta yang mungkin akan menghancurkan semua hal-hal yang lebih indah dari itu.

Dua tahun aku sudah tak ingin pergi kesana. Aku hanya bermain-main denganmu. Kupikir karena aku nyaman berarti aku sayang. Tapi kenyataan memang selalu pahit kan? Jadi jangan menggunakan mantramu lagi. Karena itu pernah berguna sebelumnya, bukan berarti akan tetap berguna setelahnya.

Sihirmu telah hilang dengan begitu mudah dan yang kutahu aku tak bisa mengubah waktu. Mungkin aku akan menyesal suatu hari nanti, tapi aku harus meninggalkanmu sebelum aku terkena karmaku. 18 Mei tak menjadi penting. Boneka Olaf tak perlu kau belikan untukku. Bahkan tiket nonton dan voucer makan takkan berguna lagi.

Kau selalu bisa membuatku luluh sebelumnya. Tapi akan kukatakan sekali lagi bahwa kita takkan pernah bisa kembali. Kau mencintaiku, tapi aku tidak meski hanya sekali. Karena butuh tak selalu cinta. Aku tahu Tuhan akan mengutukku lagi setelah ini. Tapi daripada mempermainkan hatimu lebih jauh kupikir aku memang harus berhenti.

Kau benar, akan kau tanggung malu. Berteriak kesana-kemari seperti orang bodoh, menceritakan diriku di hadapan teman-temanmu. Mungkin kau ingin membalas semua perbuatanku. Tak kujawab pesanmu dan mungkin kau akan berpikir "apa yang salah?". Tapi inilah yang ingin kutunjukkan padamu. Jika semua kalimat itu tak berguna maka beginilah caraku menunjukkannya.

Jadi pergilah, aku tak lagi menginginkanmu! Aku akan jauh lebih berbesar hati saat kau membenciku, daripada harus melukaimu dari belakang. Ingatlah ucapanku hari itu. Saat aku bilang "Daripada melukaimu perlahan, lebih baik aku mencabut semuanya sampai ke akar". Kau harus tahu cintaku tak sebesar itu. Akulah yang pecundang. Menyukai orang lain tapi menerima dirimu. Jadi pergilah sebelum hatimu yang tak bertulang itu benar-benar patah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar