Perasaan
terlambat ini, mungkin akan membuatku terus berpikir. Dan aku tahu kau terlalu
lelah menunggu. Jadi tidak salah jika kau pergi. Dan tidak salah jika aku
mengejar kepergianmu. Jangan katakan alasannya! Aku mengerti apa yang sedang
terjadi. Mungkin ini dosa yang harus kutanggung. Neraka adalah kata yang tepat
untuk karmaku.
Kita
saling berpura-pura. Perbedaannya adalah kau berpura-pura mencintaiku dan aku
berpura-pura membencimu. Kebaikan yang selalu berhasil menipuku. Kerinduan yang
berhasil menggoyahkanku. Sekarang aku bisa melihatnya. Aku hanyalah sebuah
lelucon untukmu. Jangan mendekat karena tatapanmu lebih berbahaya! Sentuhanmu akan
membuatku begitu ketakutan.
Ingatkan
aku tentang kita yang kehilangan akal. Jangan menghantuiku di ruangan dingin
ini. Hasrat yang tak bisa kau jelaskan. Gambar yang selalu kau komentari. Mematahkan
hatiku dan kembali di tahun berikutnya. Aku tak bisa menyuruhmu pergi ataupun
tetap tinggal. Yang terakhir kuketahui adalah kita selalu berbeda pendapat.
Kubilang
kau harus tetap tinggal. Tapi pria sepertimu akan tetap pergi. Telah kupersilahkan
kau untuk masuk dalam pikiranku. Tapi saat aku menginginkanmu, kaupun mulai
menyerah dan tak inginkan aku.
Suara
yang selalu membuatku kesal. Tapi itulah yang terjadi. Kau melangkah mundur
saat aku memberanikan diri untuk maju selangkah untukmu. Dan inilah yang
terjadi. Kita terasa asing dan saling membenci meski saling merindukan. Kita tak
pernah bicara lagi dan aku akan menutupi wajahku saat bertemu denganmu. Dan saat
kau melihatnya, aku akan terlihat sibuk sambil mengumpat, memaki, dan
mengutukmu di dalam pikiranku.
Pergilah
bersama teman gilamu itu. Kalian adalah mahakarya yang sangat membuatku benci. Dinding-dinding
kelas yang ingin kuhancurkan. Ingin berlari menjauh dari pandanganmu. Tapi di
bab selanjutnya adalah sesuatu yang berkaitan denganmu.
Kau mencoba menghindar dan aku mengepal
tanganku. Ingin memukul, dan menendangmu keluar dari batasan ini. Seperti sebuah
perlombaan tentang siapa yang dapat bertahan dari perang dingin ini. Kau kesana
dan semakin membuatku gila. Kau satu sekolah dengan pria-pria yang dulu pernah
kusukai. Aku berpikir, mungkin kalian sedang berbicara banyak tentangku,
seperti para ibu yang sedang bergosip. Berpikir aku ini gadis gila yang terlalu
agresif dalam menyukai pria. Aku bisa membacamu seperti sebuah majalah. Dan aku
bersumpah ini akan menjadi perbincangan panas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar