Sabtu, 06 Desember 2014

Berpura-pura


Perasaan terlambat ini, mungkin akan membuatku terus berpikir. Dan aku tahu kau terlalu lelah menunggu. Jadi tidak salah jika kau pergi. Dan tidak salah jika aku mengejar kepergianmu. Jangan katakan alasannya! Aku mengerti apa yang sedang terjadi. Mungkin ini dosa yang harus kutanggung. Neraka adalah kata yang tepat untuk karmaku.

Kita saling berpura-pura. Perbedaannya adalah kau berpura-pura mencintaiku dan aku berpura-pura membencimu. Kebaikan yang selalu berhasil menipuku. Kerinduan yang berhasil menggoyahkanku. Sekarang aku bisa melihatnya. Aku hanyalah sebuah lelucon untukmu. Jangan mendekat karena tatapanmu lebih berbahaya! Sentuhanmu akan membuatku begitu ketakutan.

Ingatkan aku tentang kita yang kehilangan akal. Jangan menghantuiku di ruangan dingin ini. Hasrat yang tak bisa kau jelaskan. Gambar yang selalu kau komentari. Mematahkan hatiku dan kembali di tahun berikutnya. Aku tak bisa menyuruhmu pergi ataupun tetap tinggal. Yang terakhir kuketahui adalah kita selalu berbeda pendapat.

Kubilang kau harus tetap tinggal. Tapi pria sepertimu akan tetap pergi. Telah kupersilahkan kau untuk masuk dalam pikiranku. Tapi saat aku menginginkanmu, kaupun mulai menyerah dan tak inginkan aku.

Suara yang selalu membuatku kesal. Tapi itulah yang terjadi. Kau melangkah mundur saat aku memberanikan diri untuk maju selangkah untukmu. Dan inilah yang terjadi. Kita terasa asing dan saling membenci meski saling merindukan. Kita tak pernah bicara lagi dan aku akan menutupi wajahku saat bertemu denganmu. Dan saat kau melihatnya, aku akan terlihat sibuk sambil mengumpat, memaki, dan mengutukmu di dalam pikiranku.

Pergilah bersama teman gilamu itu. Kalian adalah mahakarya yang sangat membuatku benci. Dinding-dinding kelas yang ingin kuhancurkan. Ingin berlari menjauh dari pandanganmu. Tapi di bab selanjutnya adalah sesuatu yang berkaitan denganmu.

Kau mencoba menghindar dan aku mengepal tanganku. Ingin memukul, dan menendangmu keluar dari batasan ini. Seperti sebuah perlombaan tentang siapa yang dapat bertahan dari perang dingin ini. Kau kesana dan semakin membuatku gila. Kau satu sekolah dengan pria-pria yang dulu pernah kusukai. Aku berpikir, mungkin kalian sedang berbicara banyak tentangku, seperti para ibu yang sedang bergosip. Berpikir aku ini gadis gila yang terlalu agresif dalam menyukai pria. Aku bisa membacamu seperti sebuah majalah. Dan aku bersumpah ini akan menjadi perbincangan panas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar