Jumat, 24 Oktober 2014

Tragedi


Dulu aku pernah menyukaimu. Membayangkanmu setiap malam adalah kebiasaan tersendiri bagiku. Tatapan mata dan senyummu yang manis, dulu membuatku candu.

Dan masih kuingat bagaimana aku melompat kegirangan di pintu gerbang dekat kelasku saat pulang sekolah. Saat kau menatap dalam mataku. Dan itu membuatku seperti lilin yang meleleh karena tatapanmu yang terlalu hangat. Dan temanku bilang aku sudah gila, lalu mereka menertawakan kebodohanku.

Ini adalah perasaan yang tak bisa kukendalikan. Segala emosi ini telah membutakanku. Dan tak bisa lagi kukenal diriku yang dulu. Virusmu yang merasukiku telah merambat terlalu jauh.

Hari demi hari aku menjadi semakin bodoh tanpa kusadari. Dan masih kuingat bagaimana aku mempercayai segala pertanda yang membuatku beranggapan bahwa kau takdirku. Pertanda dimana hari ulang tahun kita selalu sama disetiap tahunnya meskipun tanggal dan tahun kelahiran kita berbeda. Dan dulu tak pernah terpikir kita akan disatu sekolah dan antar jemput yang sama. Dan dulu ku percayai itu sebagai sebuah takdir yang akan menuntun kau dan aku dalam suatu proses dimana kau dan aku menjadi kita. Lalu sebuah kekaguman berkembang menjadi obsesi.  Dan kuumbar segala cerita ini ke sosial mediaku agar kau tahu. Dan kuceritakan semua ini ke teman penaku yang juga adik kelasku

Lalu cintaku menjadi menggila. Sampai aku mengabaikan orang-orang yang menyayangiku telah ada lama didepanku. Membuatnya lama menunggu dengan segala ketidakpastianku. Tapi dulu aku buta. Tak bisa kulihat dan tak bisa kucerna dengan baik segala peristiwa itu.

Dan suatu hari aku tersadar dan bangun dari sebuah mimpi khayalan. Kutemui kau telah bersamanya. Dan kuputar kembali bagaimana teman-temanku mengatakan bahwa kau telah punya kekasih dan aku tak memercayai mereka. Dan saat itu ku kutuk diriku sendiri. Dan kuputar dalam memoriku bagaimana aku telah mempermalukan diriku didepan banyak orang dengan segala kebodohanku.
Dan mungkin dulu telah kau umumkan kepada teman-temanmu betapa bodohnya aku dan betapa gilanya aku.

dan aku terduduk dilantai kamarku membayangkan betapa naifnya diriku. Dan saat sekolah tiba, saat aku ingin membuka sepenuhnya hatiku pada pria yang menungguku. Pria yang temannya adalah gitar. Tapi yang kutahu hanyalah sebuah kenyataan bahwa semuanya telah terlambat. Dan cintaku terlambat. Dia telah pergi bersama seseorang yang baru dihadapanku. Dan terlintas dibenakku kejadian saat aku menjatuhkan beberapa kertas, lalu dia mencoba membantuku mengambilnya seperti adegan dalam drama percintaan. Kuingat pula saat aku duduk dibangku terdepan sambil mengerjakan soal bahasa jawa dan dia duduk di dekat papan dan melihatku lama, dan pipiku mulai memanas dan aku tak bisa fokus pada soal yang ada ditanganku. Dan aku coba lirik dia berharap dia menghentikan kegiatan tak wajarnya. Lalu tatapan kami bertemu. Dan kutundukkan dengan cepat kepalaku. Dan masih kuingat bagaimana jantung ku berdetak begitu cepat saat itu.

Ada suatu penyesalan yang tak bisa kujelaskan. Tapi aku merasa lega tak terjerumus terlalu dalam bersama orang itu. sekarang aku tahu segala hal yang dulu tak pernah kuketahui. Kini kutahui segala sikap arogan dan kasarnya. Kuketahui segala yang ia dulu lakukan padaku juga dilakukannya pada wanita lain tanpa kusadari. Dan hal tergilanya adalah dia tak pernah menyukaiku dan dia telah pergi jauh bahkan saat dia mendekatiku. Dan dia menjadi kasar sehingga membuat harga diriku terluka. Satu ruang dengannya adalah neraka bagiku. Dan setiap hari harus kutempati neraka itu dan berharap hukuman ini cepat usai.

 Dan kesedihan yang lainpun menimpaku seakan ini adalah luka yang bertubi-tubi. Teman pena yang kuanggap adik laki-lakiku pun kini menjauh. Dia mengatakan bahwa dia telah berada disuatu titik dimana dia telah bosan padaku. Dia mengatakan bahwa kini dia tidak kesepian seperti dulu. Dia tak lagi membenci teman dikelasnya seperti yang dulu dia ceritakan padaku. Kini dia telah memiliki banyak teman dan akan membuat suatu band. Dan dia juga katakan bahwa dia tidak sepaham lagi denganku.

Apa aku terlewat batas? Atau hal gila yang kuceritakan padamu membuatmu terlalu bingung? Atau mungkin segala pendapat gila yang kuungkapkan membuatmu tak mengerti lalu bosan?

Tak ingatkah kau bagaimana dulu ku ceritakan hal-hal gila kepadamu. Hal-hal yang mungkin tak bisa dimengerti orang lain tapi kau bisa. Dulu kutemukan jati diriku saat kau bersamaku. Dulu kuceritakan segala kisah pengkhianatan yang dilakukan temanku disekolah dasar. Dan dulu kau selalu menanggapi hal-hal gilaku dengan hal-hal gila pula.

dan masih kuingat bagaimana kau mengajakku pulang bersama dihari sabtu setelah pramuka dan tak ada satupun kata yang terucap sampai kita benar-benar pulang dirumah masing-masing. Dan kita kembali berbincang melalui pesan. Dan kau mengeluhkan tentang kecanggungan kita. Lalu kita saling bercanda dan akupun tertawa didepan ponselku. Dan kau selalu menggangguku saat tengah malam dengan kata-kata yang tak mau terkalahkan. Dan kuingat pula saat aku berdebat denganmu. Aku katakan padamu kalau geisha adalah band yang terbagus. Lalu kau bilang bahwa noah lah band terbagus.

Dan kini aku terkulai lemas di depan layar mencoba tuk menulis kisah lamaku dan segala kenanganku. Sesekali berharap waktu bisa kembali untuk memperbaiki segalanya. Tapi aku sadar bukan aku yang harusnya memperbaiki, tapi kalian.  Dan terkadang aku mengutuk takdir yang telah mempertemukanku dengan orang-orang seperti kalian. Terkadang pula aku menangis dan marah atas segala kesakitan yang kalian tinggalkan. Dan terkadang aku benar-benar takut melihat dunia. Takut jika aku akan dihadapkan dengan orang-orang seperti kalian lagi. Takut akan kesakitan lagi. Bahkan aku tak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka yang sama sekali belum sembuh ini.

Mungkin lagu 'I Knew You Were Trouble-Taylor Swift' memang sangat cocok menggambarkan akibat dari kenaifanku. Aku lupa kalau dunia ini sangat keras. Seharusnya aku tahu dari awal aku telah dijadikan sebuah lelucon. 3 pria jahat yang membuatku tak ingin terlalu terikat lagi dengan sebuah nama yang disebut pria. Mungkin kesalahanku adalah terlalu mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain. Bahkan sebelum tragedi ini, tuhan telah memperingatiku di dalam hancurnya sebuah pertemanan yang sekejap menjadi lawan.
dan mereka semua menjadi dingin.

Tapi kenapa aku yang diserang? Kenapa mereka malah menimpaku dengan kesalahan yang bahkan tak pernah kulakukan? Mereka menjauhiku dengan begitu jelas, lalu mengapa mereka malah menganggap aku yang menjauh? Dan bahkan setelah 3 tahun, mengapa kau masih tak merasa bersalah telah melukai gadis yang masih dulu masih berumur 12 tahun itu? Kenapa kau malah seperti tak pernah terjadi apa-apa?

Tak tahukah kau bagaimana aku memendamnya dan menangis dalam diam? Tak tahukah kau disetiap detik jantungku sakit seakan ada yang menusukku? Tak tahukah kau kalau itu adalah masa yang mengenaskan bagiku? Tak tahukah kau itu adalah satu tahun yang seperti neraka bagiku? Tak tahukah kau itu adalah hal terburuk sebelum aku melanjutkan pendidikanku tanpa kalian? Mengapa didetik terakhir sebelum semuanya menjalani nasibnya sendiri-sendiri kau masih tak merasa bersalah?

Apa kau tak ingat bagaimana kau dan teman-temanmu itu mengatakan suatu hal kejam yang membuatku tak diterima lagi? Kenapa kau harus mengatakan sesuatu itu pada seseorang yang dulu adalah sahabatmu? Sahabat yang selalu mendengar dan mendukungku saat kau menceritakan segala sesuatu tentang orang yang kau sukai. Sebenarnya dimulai dari mana kesalahpahaman ini sampai suatu hari kau langsung berubah menjadi seseorang yang tak kenal? Aku bahkan tak tahu alasan dibalik kau berubah? Bahkan sehari sebelum itu kita masih menjadi teman. Jadi apa kesalahanku?  

Dan kulihat waktu itu, kau bersama wanita jahat yang bernama "R". Apakah mungkin dia dalang dari semua kesalahpahaman ini? Tapi kenapa kau percaya? Bukankah dulu kau sudah tahu bagaimana racun yang ada di mulutnya? Dan kau lebih tak memercayai mantan sahabatmu ini? Bahkan sampai kau tak akan bertemu dengannya?
tak ingatkah kau, dulu aku, kau, dan teman-temanmu adalah satu Gank? Bukankah dulu kita pernah tertawa bersama?

Sungguh aku sangat kecewa dengan segala yang terjadi.aku merasa hidupku seperti melodrama yang konfliknya tak pernah berhenti sampai disitu. Aku takut aku menjadi gila karena tak bisa mengendalikan kesakitanku. Kadang aku membutuhkan obat penawar. Tapi aku sendiri tak tahu obat seperti apakah itu? Aku tahu bukan orang yang menjadi obat itu melainkan aku sendiri. Aku tidak ingin melibatkan orang lain karena aku yakin dia akan meninggalkan luka yang sama pula. Jadi aku berpikir untuk menjadi seorang 'psikolog' agar aku bisa menjadi obat penawar itu sendiri. Walau aku tahu tidak akan benar-benar sembuh tapi setidaknya aku tidak menjadi gila karena ini.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar