Mendengarkan lagu di sepanjang pulang. Melihat kerumunan itu membuatku ingat
akan dirimu. Seseorang berdiri disana seperti kau yang sedang berdiri
disampingku. Ku tatap kau diam-diam. Dan begitu pula dirimu. Seseorang duduk di
kursi penumpang seperti kau yang sedang duduk di dalam keheningan kita.
Semula, segalanya tertutup dengan rapi. Mungkin karena benturan di kepalaku membuat semua nya jatuh berkeping-keping.
Dulu kutulis segalanya di kertas-kertas kosong itu. Dan aku merasa utuh. Tapi segalanya berubah saat kau mulai merobek setiap halamannya. Dan kini segalanya menjadi serpihan kertas yang tak berguna untukmu.
Ku ambil setiap kepingan dan menatanya kembali. Berharap semuanya menjadi utuh kembali. Berusaha tuk sembuhkan luka ku sendiri. Berharap kau kembali dan menyadari segalanya.
Tapi aku tidak setegar perkataanmu. Aku tidak seceria yang kau lihat. Aku lebih gila dari itu. Kau membuatku bingung dan frustasi. Kau dingin seperti es.
Kulihat kau bersama teman-temanmu disana. Menatap lirih dan kupalingkan pandanganku. Sepanjang jalan kulihat awan putih itu. Seakan melihat sebuah kesucian yang telah kau nodai.
Karena kau tahu itu sangat langka. Dan kupastikan kau menyesal setiap malam. Berharap aku kembali walau tak mungkin.
Aku mengenalmu dengan begitu baik. Kau berikan aku manisnya pertemuan sekaligus pahitnya perpisahan. Pertengkaran kekanak-kanakan itu membuatmu pergi tinggalkan aku. Kau kembalikan segalanya, termasuk janjimu. Dan yang kulakukan hanyalah melihatmu pergi dari segala perjanjian.
Semula, segalanya tertutup dengan rapi. Mungkin karena benturan di kepalaku membuat semua nya jatuh berkeping-keping.
Dulu kutulis segalanya di kertas-kertas kosong itu. Dan aku merasa utuh. Tapi segalanya berubah saat kau mulai merobek setiap halamannya. Dan kini segalanya menjadi serpihan kertas yang tak berguna untukmu.
Ku ambil setiap kepingan dan menatanya kembali. Berharap semuanya menjadi utuh kembali. Berusaha tuk sembuhkan luka ku sendiri. Berharap kau kembali dan menyadari segalanya.
Tapi aku tidak setegar perkataanmu. Aku tidak seceria yang kau lihat. Aku lebih gila dari itu. Kau membuatku bingung dan frustasi. Kau dingin seperti es.
Kulihat kau bersama teman-temanmu disana. Menatap lirih dan kupalingkan pandanganku. Sepanjang jalan kulihat awan putih itu. Seakan melihat sebuah kesucian yang telah kau nodai.
Karena kau tahu itu sangat langka. Dan kupastikan kau menyesal setiap malam. Berharap aku kembali walau tak mungkin.
Aku mengenalmu dengan begitu baik. Kau berikan aku manisnya pertemuan sekaligus pahitnya perpisahan. Pertengkaran kekanak-kanakan itu membuatmu pergi tinggalkan aku. Kau kembalikan segalanya, termasuk janjimu. Dan yang kulakukan hanyalah melihatmu pergi dari segala perjanjian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar