Senin, 20 Oktober 2014

Sejak Awal Ini Sudah Salah




Dan dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dia telah ditipu oleh pria bertopeng malaikat itu. Bahkan setelah banyak temannya yang mengatakan bahwa pria itu tak pantas. Seharusnya dia tak menaruh perasaannya kepada pria itu.

Sejak awal saja ini sudah salah. Bahkan dulu, wanita itu  tak pernah mengartikan kehadiran monster itu. Dan pada akhirnya, pada suatu titik yang membuat takdir berbalik. Dan wanita itu benar-benar menyukai monster itu. Dan pria monster itu meninggalkannya tanpa berpaling. Meninggalkan banyak goresan luka di hati wanita malang itu.

Dan sekarang, nampak sudah kejelasannya. Paras monster yang ditutupinya pun terbongkar sudah. Jelas sekali bahwa pria yang pernah disukainya berubah menjadi brutal dan tak punya aturan. Dan wanita itu kini sadar akan rasa yang pernah disimpannya. Dan dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. Seharusnya dia sadar bahwa hidup sangat kejam kepadanya. Bahkan takdir pun tak pernah bisa mengijinkannya untuk bahagia. Seharusnya dia sadar bahwa cinta tak pernah memperlakukannya dengan baik.

Dia terus berjalan. Menebarkan senyum diatas lukanya. Membuat orang lain tertawa dengan segala leluconnya. Dan pada seketika, dia berpikir hidup ini lelucon. Lalu kenapa dia tak mencoba untuk tertawa seperti orang lain yang menertawakan leluconnya?

Dan saat wanita itu melihat kembali pria yang pernah mengisi kekosongan hatinya ada dihadapannya. Luka itu hadir lagi. Selalu saja begitu. Disaat dia ingin terbebas dari lukanya, selalu saja takdir mempertemukannya kembali dengan si-pembuat luka itu sendiri. Mungkin karena itu dia tak pernah ingin memberi kesempatan kedua. Karena itu hanya akan menjadikan orang yang pernah melukainya seperti cermin untuk melihat masa kelam nya dan masa dimana dia mendapatkan luka dan tak bisa menyembuhkannya meskipun harus berjuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar