Sabtu, 16 Agustus 2014

Kuharap Kau Ingat


Inilah tragedi yang memilukan. Ini kisah antara kau dan aku. Kisah dimana segalanya nampak indah pada awalnya. Kubuat kau janjikan satu hal padaku. Suatu janji yang akan mengikatmu sampai mati. Kau janjikan aku untuk tak meninggalkanku seperti beberapa orang yang pernah hadir di sebagian hidupku.

Ini seperti beberapa halaman kosong yang lama tak terisi. Di halaman pertama itu kita berkenalan secara tidak sengaja. Di beberapa halaman selanjutnya hidupku seakan dipenuhi tawa. Masih kuingat dengan jelas suara renyahmu.

Ku lukis segala peristiwa itu di halaman selanjutnya. Sejenak, terlintas tanya akan bagaimana akhir kisah ini. Aku siap untuk kecewa, tapi saat kekecewaan itu datang aku malah murka.

Dulu kau bertanya padaku bagaimana sekolahku. Lalu kau putuskan sekolah disana tanpa kuketahui. Kita bercanda melalui pesan. Kukatakan padamu mungkin kita ditakdirkan. Lalu kau setuju dengan itu dan menambahkan betapa kau ingin aku menjadi kakakmu.

Karena kita berdua gila. Kau katakan hal konyol tentang takdir yang menemukan kita. Lalu ku ingat waktu itu kau pinjam buku ips kelas tujuh ku dengan alasan karena gurumu menyuruhmu memiliki buku itu sementara buku yang kau beli belum kau dapatkan. Lalu ide gila terbesit diotakku. Kutulis segala halamannya dengan catatan kecil tentang cintaku pada seseorang yang juga kau ketahui, agar kau lebih mengenalku. Lalu tak jauh di depan kelasku kau dan teman-temanmu menungguku. Lalu ku berikan padamu buku itu, dan dengan tergesa-gesa aku kembali ke dalam kelasku sambil berlari kecil. Aku ingat saat itu aku sedikit tersandung batu, tapi itu tak cukup membuatku terjatuh. Dan tiba saatnya kau katakan padaku bahwa cintaku terhadapnya memanglah gila. Dan aku tertawa karena kau tertipu dan aku berpikir bahwa kau benar bahwa rasa kagum ku padanya terlalu gila.

Aku ingat saat dimana kau mengajakku pulang bersama saat aku masih kelas delapan. Kau adalah adik kelas yang memiliki pikiran aneh sama sepertiku. Bisa kujelaskan padamu bagaimana keadaan saat itu. Di cuaca yang cerah, sabtu pagi, kau dan teman-temanmu bermain sepak bola di lapangan. Dan aku bersama temanku duduk di belakang gerbang seperti seorang yang tak berdaya karena patah hati. Lalu ada seorang laki-laki yang sangat kutahu karena dia adalah teman sekelasku. Aku sedikit berbincang dengannya sambil menunggumu. Dan saat itu aku marah karena menunggu lama. Jadi kubiarkan kau sendirian disana. Dan saat aku menunggu kendaraan umum itu, kau datang dan berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Dan tepat disana,  kita benar-benar canggung sampai kita pulang ke rumah kita masing-masing. Dan kau mengirimkanku pesan yang berisi keluhanmu terhadap kecanggungan kita. Jika saat ini kau kembali dan bertanya padaku apa aku mengingatnya, akan kujawab aku hampir mengingat segalanya.

Dan masih berputar diotakku impian yang kau ceritan padaku. Kau ingin menjadi chef dan aku meminta agar saat waktu itu tiba, kau harus siap mengenyangkan perutku. Dan aku selalu tertawa saat kau ucapkan hal bodoh lewat pesan itu.

Kau ucapkan selamat ulang tahun untukku pada dua tahun yang lalu. Kuingat itu sekitar jam delapan pagi. Dan saat orang yang kusukai berulang tahun, kau kirimkan pesan padanya tentangku yang menyukainya. Lalu aku marahpadamu dan memintamu menghapusnya. Tapi kau malah menanggapinya dengan sedikit bercanda. Dan akhirnya aku mengampunimu.

Karena kita berdua gila. Selalu kuceritakan padamu hal-hal gila yang terbesit dalam otakku. Dan kau selalu menanggapinya dan aku suka itu. Aku merasa nyaman karena memiliki teman seperti dirimu.

Lalu kau menipuku dengan kata-kata bahwa kau ada di depan rumahku. Karena rumah kita tak terlalu jauh jaraknya. Itulah salah satu alasan mengapa kau ceritakan bahwa kita ditakdirkan. Dan saat itu aku sungguh terkejut dan keluar ke depan rumahku sambil berlari. Dan aku kembali ke layar monitorku dengan perasaan kesal. Dan kau tertawa sambil mengejekku.

Aku ingat saat kau mengajakku bersepeda. Dan aku kecewa karena itu tak terjadi. Waktu itu aku berpikir mungkin akan menyenangkan jika melakukannya bersamamu.

Kuingat saat itu kau katakan bahwa kau mulai muak terhadap segalanya. Kau ingin pindah kelas karena tak kau temui teman yang sejalan denganmu disana. Kau katakan betapa kau membenci mereka. Lalu kuhibur kau dengan kata-kata bahwa segalanya akan tersembuhkan oleh waktu.

Kuingat pula disaat-saat kita saling berargumen. Waktu itu kau katakan bahwa Noah lebih baik daripada Geisha. Dan yang kukatakan adalah hal sebaliknya. Dan kau ceritakan padaku bahwa kau ingin menjadi seorang gitarist, jadi kau ingin membuat band.

Kau tahu bagaimana aku berharap. Aku hanyalah seorang pemimpi saat itu. Aku memimpikan hal-hal gila. Dan bodohnya, aku selalu ceritakan itu padamu tanpa malu-malu. Begitu pula kau. Kau sama bodohnya denganku. Kau tanggapi ucapanku tanpa dosa. Dan jika aku kembali mengingatnya. Aku merasa itu benar-benar keluguan kita.

Tapi akan ada saatnya takdir iri pada kita. Semua orang akan selalu berubah mengikuti pergerakan bumi. Akan ada yang berbeda disetiap waktu dan kupahami itu. Maka saat kau berubah, itu tak terlalu mengejutkan bagiku. Kau katakan hal-hal yang membuatku tetap mengingatnya hingga saat ini. Kau langgar janji itu. Kau katakan kau bosan. Kau katakan kau telah miliki banyak teman, jadi kau tak butuh lagi sosok diriku.

Mungkin aku terlalu banyak meminta. Mungkin aku terlewat batas. Mungkin aku terlalu menceritakan banyak hal yang membuatmu bingung. Atau mungkin kau memang bosan terhadapku. Jadi kubiarkan kau pergi.

Lalu pada malam itu kau hubungi aku lagi. Tapi aku hanya membaca pesanmu dan sengaja tak membalasnya agar kau jera. Kupikir semuanya akan kembali saat pagi tiba. Tapi semua itu tak berarti. Kau biarkan kisah ini berakhir karena pertengkaran yang tak jelas. Bahkan setelah itu, kau tak pernah berniat meminta maaf padaku. Ini bukanlah suatu akhir yang ingin kulihat. Dan kurasa kau pun berpikir seperti itu.

Dan kusadari segalanya berubah. Saat aku bertemu denganmu, tak ada kata sapa seperti dulu. Bahkan saat kau tak jauh dari tempatku berdiri, tak sengaja ku dengar kau mengatakan pada temanmu untuk tidak seangkutan denganku. Masih bisa kurasakan nada dan ekspresimu itu saat kau mengatakannya. Dan saat itu kurasakan ada sebuah batu yang menghujam dadaku. Dan saat aku dalam perjalanan pulang, tangisku pecah dalam diam.

Ini bukanlah kisah seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ini kisah kau dan aku. Kisah yang aku sendiri tak tahu tentang apa. Kisah pertemanan yang kandas dalam pertengkaran yang sungguh kekanak-kanakan. .

Andai kau tahu saat aku menyuruhmu pergi, yang kuinginkan adalah kau meminta maaf sampai aku mengampunimu. Dulu kau selalu merayuku dengan kata-kata bodoh itu. Kau buat aku bertanya dimana semua itu, sekarang. Kau biarkan semua harapan itu menggantung di kepalaku. Mungkin yang kau katakan adalah sebuah kejujuran yang kejam.

Jadi inilah aku yang menghapusmu dari pertemananku. Tapi kau nampak baik-baik saja karena kau punya teman sekarang. Kau lupakan halaman-halaman usam itu. Kau bersinar diantara bintang-bintang itu. Kau seakan tak merasa kehilangan sediktpun. Tak sepertiku, yang setiap hari mendengarkan lagu tentangmu yang pergi begitu saja. Kulihat fotomu dengan gitar yang kau peluk di tanganmu. Dengan gaya bak bintang, dan aku mulai merasa mungkin aku sudah tidak lagi menjadi bagian kecil dari hidupmu.

Tapi jika kau memintaku untuk memberimu kesempatan kedua, maka akan kulakukan. Aku bukanlah seseorang yang akan memberikan kesempatan kedua untuk orang yang pernah menyakitiku dan sungguh kau tahu itu. Tapi untukmu, akan kulakukan. Karena aku tidak ingin kehilangan sosok itu. Di dunia ini akan sangat jarang untuk bertemu seseorang seperti itu. Bahkan jika itu adalah teman perempuanku, dia akan kalah tandingannya denganmu. Tapi itu hanyalah mimpi yang tak pernah nyata. Kau tak pernah berniat untuk itu, bahkan jika itu hanya sekedar gurauanmu. Kau takkan pernah melakukannya bahkan jika aku benar-benar menyuruhmu untuk melakukannya.

Sekarang segalanya terasa asing bagiku. Segalanya tampak mengerikan tanpa kau disini. Dan segala kenangan indah itu berputar diotakku dan melukaiku secara perlahan. Dan harus aku lalui kehidupan kejam ini tanpa sosok teman sepertimu. Bahkan jika itu sahabat perempuanku yang selalu kutemui setiap hari, kau takkan tergantikan. Karena hanya kau seseorang yang dapat membuatku menceritakan segala hal.

Jadi inilah aku. Meski kau berada jauh disana. Aku ingin kau benar-benar menjadi seorang chef. Walaupun kau takkan menjadi seseorang yang akan siap mengenyangkan perutku,

Dan saat kau dengarkan lagu "Only Hope", kuharap kau ingat akan gadis yang berhasil menipumu. Ku harap kau ingat akan gadis yang kau suruh untuk meletakkan fotonya di laman facebooknya. Dan saat kau dengarkan lagu "21 Guns", kuharap kau ingat akan gadis yang membuatmu berjanji untuk tak meninggalkannya.

 Dan saat kau ingat itu semua, kuharap kau menemuinya dirumah gadis itu, dan mengubah segalanya menjadi mungkin. Kuharap kau akan menjadi teman gadis itu lagi dan menuliskan segalanya pada halaman kosong yang tersisa.

 Karena aku ingin selalu berteman baik denganmu. Jadilah adik laki-laki ku selamanya. Jadikan segalanya menjadi mungkin. Dan aku hanyalah perempuan yang sedikit pemalu dan hanya bisa menunggu. Jadi datanglah kesini secepat yang kau bisa, dan jangan buat aku menunggu.

Sudah kukatakan ini bukanlah kisah cinta. Ini hanyalah sebuah kisah pertemanan dimana jejak sakitnya lebih mengerikan daripada kisah cinta itu sendiri. Jadi jangan terlalu bangga saat kau mengetahui tulisan ini dan jangan anggap gadis ini menyukaimu sebagai seorang laki-laki. Mungkin karena gadis ini tak memiliki adik, jadi dia merasa nyaman bersamamu. Karena kau juga tak memiliki seseorang kakak maka, jadilah adikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar