Senin, 01 Juni 2015

Tak Pernah Ada Kata Cinta

Disinilah kita saat akhirnya kau melihat semuanya hancur. Kupikir semuanya telah kuperjelas pada bulan lalu. Setiap kepingan telah kubuang pada jalan yang banjir akan air mata. Kado yang kau berikan, boneka yang manis, tulisan yang indah, kata-kata yang menyejukkan, mungkin itu akan berguna jika aku memang buta apa adanya.

Kau menghubungiku setiap hari seakan tak pernah melupakanku. Yang kau lakukan hanyalah memberiku cinta, tapi satu-satunya yang kulakukan hanyalah mematahkannya. Kau terus merengek memintaku kembali. Inilah yang tak pernah kusukai darimu, kekanak-kanakanmu tak pernah berubah.

Sabtu lalu telah kupatahkan harapan seseorang. Harusnya malam itu menjadi momen dimana kita terhubung kembali. Kulihat bintang itu, bulan berada tepat di atasku. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana reaksimu saat kuungkapkan bahwa kita takkan bisa kembali bersama. Mungkin kau akan berpikir aku terlalu kejam, tapi sungguh aku tak bisa bersembunyi lagi. Kurasa itu adalah waktu yang tepat untuk membahas semuanya.

Tak ada lagi sapaan, yang ada hanyalah salam perpisahan. Aku bertaruh kau butuhkan perban tuk sembuhkan lukamu kali ini. Inilah jawaban dari sang waktu, sisanya biarkan dia menyembuhkanmu. Telah kusirami garam di dalam lukamu, dan bukannya menyembuhkanmu aku malah mengambil jalan pergi meninggalkanmu.

Mungkin kau akan terbangun kali ini, dari keluguan dan kepolosanmu. Kau akan mengerti gravitasi yang kubuat begitu manis sampai kau benar-benar mabuk kepayang. Kini kau akan tahu bahwa tak pernah ada kata cinta. Aku hanya menunggu karma mengoyakkan duniaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar