Ini membuatku gila. Semakin aku berusaha untuk
melupakanmu, semakin menjadi-jadi rasa ini untukmu. Rabu lalu kau memberiku
sinyal cinta dan kupikir aku akan segera memilikimu. Sulit rasanya untuk
mencari momen yang tepat untuk membawamu ke sisiku.
Kemarin kau mulai menjauh lagi. Kau seperti awan mendung yang akan siap mengeluarkan hujan. Kau hanya terus bermain dengan layarmu. Aku hanya tak mengerti dengan kisah ini. Aku terus menerka-nerka 'apakah kau menyukaiku?' Kupikir itu sudah jelas, karena kau selalu melakukan sesuatu yang telah kulakukanlima
menit yang lalu. Tapi untuk beberapa saat kemudian, aku merasakan keraguan.
Dalam lamunanku, kabar buruk datang. Pria itu ingin aku kembali padaku. Di tengah pikiranku yang melayang ke arahmu, pria itu malah menyuruhku menghubunginya. Dia terus menggangguku, tapi kau lebih mengusik ketenanganku.
Tadi pagi saat kau duduk bersama wanita lain. Temanku yang menyukaimu mulai menceritakan dongeng untukku. Dia cemburu, iri, dan berharap wanita itu adalah dia. Aku melihatmu tertawa dalam perbincangan hangat bersama wanita itu. Aku juga berharap itu adalah aku. Tapi, bahkan untuk berbicara denganmu saja aku merasa kelu.
Temanku mulai menyindirmu yang sangat tidak perasa. Tapi entah setan mana yang merasukiku, aku malah ikut campur. Aku menyindirmu dan lebih dari itu, aku malah menyindir diriku sendiri. Sulit rasanya untuk menghibur diri dan aku harap kau tahu bahwa kalimatku itu bukan untuknya yang ditujukan padamu, melainkan dariku yang kupersembahkan padamu.
Kemarin kau mulai menjauh lagi. Kau seperti awan mendung yang akan siap mengeluarkan hujan. Kau hanya terus bermain dengan layarmu. Aku hanya tak mengerti dengan kisah ini. Aku terus menerka-nerka 'apakah kau menyukaiku?' Kupikir itu sudah jelas, karena kau selalu melakukan sesuatu yang telah kulakukan
Dalam lamunanku, kabar buruk datang. Pria itu ingin aku kembali padaku. Di tengah pikiranku yang melayang ke arahmu, pria itu malah menyuruhku menghubunginya. Dia terus menggangguku, tapi kau lebih mengusik ketenanganku.
Tadi pagi saat kau duduk bersama wanita lain. Temanku yang menyukaimu mulai menceritakan dongeng untukku. Dia cemburu, iri, dan berharap wanita itu adalah dia. Aku melihatmu tertawa dalam perbincangan hangat bersama wanita itu. Aku juga berharap itu adalah aku. Tapi, bahkan untuk berbicara denganmu saja aku merasa kelu.
Temanku mulai menyindirmu yang sangat tidak perasa. Tapi entah setan mana yang merasukiku, aku malah ikut campur. Aku menyindirmu dan lebih dari itu, aku malah menyindir diriku sendiri. Sulit rasanya untuk menghibur diri dan aku harap kau tahu bahwa kalimatku itu bukan untuknya yang ditujukan padamu, melainkan dariku yang kupersembahkan padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar