Apa yang sedang terjadi pada diriku? Seakan seluruh tubuhku mengalami banyak konflik. Harusnya kujaga bicaraku. Sesuatu yang sudah kunci, harusnya tak ku buka. Sekitar jam 9 pagi, saat semuanya terlihat seperti dulu. Aku ingin menghilang, jika aku bisa. Tapi kali ini, aku telah tertangkap dan tak bisa pergi menjauh.
Kuharap kau takkan dengar. Masa lalu ku hanyalah untukku. Harusnya saat itu aku tetap diam. Tapi kenapa rasanya aku ingin mati? Kau tahu, aku butuh orang yang bisa kuceritakan tentang diriku. Tapi kesalahanku adalah aku mencoba membuka masa gelap ku lagi.
Harusnya aku tak pernah mendengarkan ocehannya. 8 bulan berlalu, dan aku kembali berduka. Kebebasanku seakan berakhir. Dan yang tersisa hanyalah hari yang terasa begitu lama. Jujur, aku sangat butuh seseorang yang akan menasehatiku. Aku ingin kau tahu bahwa aku bukanlah aku. Tapi, sepertinya aku terlalu terlewat batas. Harusnya aku tak membahas sesuatu yang tak layak dibahas.
Merasa bodoh untuk kesekian kalinya. Harusnya bisa kusimpan sendiri luka itu seumur hidupku. Tapi kenapa mulutku berani mengeluarkannya? Seperti gaun yang tertumpah anggur, hari ini aku merasa tidak bersih. Aku tak terlalu menginginkan banyak teman. Karena dari yang kupelajari sebelumnya, sahabat kadang menjadi musuh. Aku ingin kau tahu. Aku ingin kau tahu tentang masa terkelamku. Tapi kupikir, tidak dengan cara seperti ini.
Memalukan saat kuputar kembali memoriku. Aku tidak ingin dikasihani siapapun. Dan seharusnya aku bisa menjaga sikapku. Terlalu berlebihan, mungkin itu sikapku menurut pendapatmu. Tapi jauh di dalam diriku, aku tidaklah kebal. Aku pecah berkeping-keping. Aku ingin pergi ke dunia lain. Sungguh tak bisa kubayangkan, apa yang akan terjadi setelah ini? Aku merasa menyedihkan seperti 3 tahun yang lalu.
Yang kuinginkan sekarang adalah waktu bisa membawaku tidur. Agar saat aku bangun, aku akan merasa lebih baik. Apa kau tahu, betapa aku ingin ke psikiater? Berat rasanya saat aku ingin cerita pada Ibuku. Rasanya sulit untuk berjalan, apalagi berlari. Yang kubisa hanyalah diam. Berharap semuanya kembali.
Benar-benar kacau. Aku merasa sangat payah. Kuputar lagu ku dari yang tersedih sampai yang terbahagia. Tapi tak bisa mengubah apapun, rasanya aku ingin menjauh dari seluruh cahaya ini. Yang kuinginkan hanyalah kegelapan. Agar aku tak bisa terlihat oleh siapapun. Agar aku tak perlu menceritakan apapun. Demi Tuhan, aku merasa perlu menata mulutku. Sungguh aku ingin pergi. Seakan, mati takkan membuat mereka mencariku. Sepertinya, takkan apa-apa jika aku pergi.
Aku ingin kau menghiburku. Tapi rasanya takkan mungkin. Seorang teman berbicara kasar padaku. Lalu 1 tahun kemudian, dia bicara padaku seolah tak terjadi apa-apa. Teman yang lain mencoba menusukku. Dan kini dia hadir di kelas MIA IV seakan semuanya baik-baik saja. Jadi, apa yang harus kulakukan, saat pengkhianat ada dimana-dimana? Apa yang akan menahanku dan mencoba menguatkanku? Seakan tak pernah cukup untuk luka ku. Seakan, menertawakanku ada hal yang paling menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar