Kamis, 23 Oktober 2014

Rapuh



Jalanan sial membuatku terperangkap disini. Banyak jalan buntu yang tak bisa kulewati. Segala penjuru berubah menjadi labirin. Dan disinilah aku.

Tatapan lebarku mulai menyapu bersih setiap sudut jalan ini. Kupandangi rumah yang ada tepat di depanku. Dia berdiri tegak seakan meremehkan siapa diriku.

Memori itu berputar seperti sebuah film yang sering kutonton. Tanganku menjadi dingin dan langkah kakiku menjadi lambat. Rumah bercat kuning itu menatap sinis kepadaku. Seakan dia telah lama melupakanku.

Terus berjalan dengan kepala tertunduk rapuh. Segalanya membawaku pada September dua tahun lalu. Ku biarkan panggilanmu. Ku tahu, kau dan aku telah berjalan disebuah jalan yang rapuh. Tapi tak pernah kukira akan melihatnya hancur.

Segala ketakutan terpancar dari aura tubuhku. Rumah itu seperti dirimu yang sedang berdiri di depanku. Kau tersenyum dan memintaku meminjamkan buku untukmu. Dan aku berlari setelah kuberikan kepadamu buku usam itu. Ku tahan setiap napasku setiap kau berada di dekatku.

Bertanya-tanya akan akhir seperti apa yang akan kulalui bersamamu. Keraguanku membuat segalanya menjadi kepingan kaca. Dan semuanya takkan pernah menjadi utuh kembali.

Kurindukanmu dengan cara menjijikkan ini. Aku lebih suka sendirian, tapi tak pernah kukira aku akan kesepian. Tak bisa kubangkitkan diriku dari segala keterpurukan ini. Ku benci perasaan seperti ini.

Awan gelap seakan menjadi atmosfer favoritku. Tatapan dinginmu dan ucapan menusukmu seperti salju di musim dingin. Dan hatiku dipenuhi hujan kesakitan.

Tak ingin berpisah seperti ini. Dan kini aku terhantui. Perasaanmu jatuh berkeping-keping seperti daun di musim gugur. Aku mati setiap hari sedikit demi sedikit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar